Tampilkan postingan dengan label Aku dan Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku dan Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 November 2025

Apapun Profesi Anda, Menulislah


 


                Manfaat menulis banyak sekali. Beberapa diantaranya untuk megikat ilmu, mendapatkan penghasilah, keliling dunia, menyampaikan ide dan gagasan dan menyehatkan

                Terkadang kita beranggapan menulis hanya perlu dipelajari mereka yang berprofesi sebagai sastrawan, kolumnis, jurnalis atau orang-orang yang bercita-cita menjadi penulis. Padahal, seseorang yang berprofesi semisal guru, insinyur, dokter dan lain-lain kalau dia punya keterampilan menulis yang baik bisa menjadi nilai plus

                Insinyur yang bisa menulis dengan baik, akan  mudah baginya untuk menyampaikan gagasan, rancangan dan idenya kepada banyak orang. Tulisannya akan lebih bermanfaat bagi banyak orang jika dia menulis di media atau majalah desain interior, desain rumah atau lainnya.

                Mira W, Marga T yang bergelar dokter membagi ilmu yang dipelajari dari fakultas kedokterannya lewat novel-novel, cerpen-cerpen dengan halus dan tak membuat kening berkerut

                Ali Irfan, penulis buku Hanya 1 Menit, yang berprofesi sebagai guru bisa mendapat penghasilan tambahan ( dari royalti atau honor )  serta menginspirasi guru-guru lainnya agar menjadi guru yang kreatif dan dicintai anak didiknya

                Mario Teguh, Ari Ginanjar, Jamil A Zaini dan sederet motivator lainnya menulis banyak buku. Dengan menulis buku, ilmu mereka, motivasi mereka tidak hanya bermanfaat bagi peserta pelatihan/ seminar mereka saja. Saya misalnya, kerap tergugah semangat untuk menjadi lebih baik setelah membaca buku-buku Jamil A Zaini atau Ippho Santosa misalnya.

                Ibu-ibu yang piawai berkreasi resep masakan, kalau punya keterampilan menulis yang baik bisa menulis buku, misalnya 30 Menu  HarianTanpa MSG atau lainnya

                Ulama yang mahir menulis manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh jamaah yang bisa datang di pengajiaannya, bisa juga jadi refrensi ulama lainnya saat mengisi taklim, atau majelis ilmu

                Banyak orang yang mengalami hal menakjubkan dengan menjadi penulis. Pipiet Senja, penulis lebih dari 100 buku, ketika usia 17 tahun divonis dokter umurnya tak lama lagi karena penyakit thalasemia yang dideritanya

                Dari tahun 1978, karena thalasemianya Pipiet haris bolak balik rumah sakit untuk cuci darah. Karena tekadnya yang kuat, Pipiet menulis di mana saja, kapan saja termasuk bangsal rumah sakit. Sekarang, selain telah menulis ratusan buku, Pipiet Senja kerap ke luar negeri seperti Malaysia, Taiwan, Singapura, Arab Saudi, Hongkong untuk mengisi pelatihan menulis bagi TKW di sana

                Setali tiga uang dengan Pipiet Senja, Asma Nadia Kecil juga bermasalah dengan kesehatannya. Gegar otak, asma, giginya rompang danbermasalah. Asma kecil sering bolak balik rumah sakit. Meski begitu, Asma bertekad melawan sakitnya dengan banyak belajar, membaca dan menulis.

                Sekarang siapa tak kenal Asma Nadia? 50 puluh buku yang ditulisnya kebanyakan laris di pasaran, beberapa diantaranya diangkat ke layar lebar dan layar kaca. Sebut saja Emak Ingin Naik Haji, Surga Yang Tak Dirindukan, Catatan Hati Seorang Isteri dan lainnya. Asma punya julukan Jilbab Traveler karena telah mengunjungi  banyak negara berkat menulis. Asma mendirikan penerbitan dan rumah baca untuk kaum duafa yang tersebar di mana-mana

                Ada banyak lagi tokoh yang mendapat keajaiban setelah menulis. Saya ambil contoh Ajip Rosidi dan D Zawawi Imron. Meski keduanya secara formal tak tamat SMA, tapi keilmuannya tak terbantahkan. Ajip pernah diangkat menjadi guru besar tamu sekolah dan Universitas di Jepang. D Zawawi Imron selain dikenal sebagai penyair, pelukis, beliau juga adalah dosen dan ulama yang disegani.

                Saya pribadi dari 2009 sampai sekarang menjadi loper koran. Sembari menekuni pekerjaan, saya banyak membaca dan belajar menulis dengan mengikuti pelatihan kepenulisan baik di dalam maupun luar kota. Sekarang berkat menulis, saya bisa bertemu penulis-penulis hebat seperti Pipiet Senja, D Zawawi Imron, Asma Nadia dan banyak lagi. Sekarang saya juga nyambi jadi guru eskul jurnalistik untuk siswa sekolah dasar, kadang mengisi pelatihan kepenulisan dan lainnya.

                Jadi, apapun profesi anda, menulislah. Dan bersiaplah menyambut hal-hal yang menakjubkan menyapa Anda.

 

 

Penulis adalah, Cerpenis, Guru Eskul Jurnalistik, Loper Koran tinggal di Kab Tegal

Jumat, 14 Desember 2018

Sejarah Menulis Saya

Tanggal 12 Februari tahun 2006 saya datang ke acara yang kelak menjadi titik balik menulis saya.
Yah hari itu saya datang ke talk show yang diadakan FLP Tegal yang kala itu diketuai oleh Mba Sinta Yudisia. Tak tanggung tanggung, acara itu diisi oleh Mas Boim Lebon ( penulis serial Lupus Kecil, Lupus Abg dll ) dan Mas Ali Muakhir ( Penulis serial Ollin yang kala itu sedang hits banget ) .

Tak disangka saya yang pendiam di sana sanggup mengangkat tangan di sesi tanya jawab. Karen itu, saya dapat mug dan notes kecil bertulis Cerebropit. Berkat acara itu, saya gabung dengan FLP Tegal hingga sekarang ( 2018 ) mungkin jika saya tak datang ke acara itu, saya belum tentu berhasil menulis 60 tulisan di media massa, ketemu banyak penulis dan tokoh tokoh hebat

Eh bukan setelah gabung komunitas kepenulisan terus segalanya mudah lho ya.
Dulu saya berjuang melawan minder bergaul dengan teman - teman yang rata - rata pernah merasakan bangku kuliah. kursus komputer di beberapa tempat, beli prangko - prangko untuk mengirim cerpen dan tentu saja menulis dan menulis. Lancar? tentu tidak naskah saya berkali kali dikembalikan, ditolak yang paling sering sih Kompas Anak, Majalah Irfan

Selasa, 09 Agustus 2016

The Power Of Sutono

Judul Buku      : KEMUNING
Penulis               : Sutono Adiwerna
Penerbit                : Puput Happy Publishing
Cetakan                : Cetakan Pertama, November  2013
Isi                         : iv + 100 Halaman; 13 x 19 cm
ISBN                   : 978-602-7806-25-2
Harga                   : Rp 26.000,-



“Kalau kau melintas di Karanganyar, tepatnya tiga kilometer dari gerbang perbatasan antara kota dan kabupaten Tegal, dan engkau mendapati seorang perempuan dengan tubuh ramping berwajah ayu yang tak henti memaki pengguna jalan yang melintas, bisa jadi yang kau jumpai itu Kemuning.”
Penggalan di atas adalah salah satu cerpen karya Sutono Adiwerna yang berjudul Kemuning. Seorang wanita cantik yang bekerja sebagai pelayan warung lesehan. Dilema karena harus memilih diantara dua laki-laki yang memperebutkannya.
Cerpen Kemuning ini adalah cerpen yang sangat nikmat dibaca. Disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan komunikatif, sehingga pembaca merasa tidak berat untuk membacanya dan tidak perlu mencari kosa kata baru karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sehari-hari dipakai dalam bahasa Indonesia.
Latar tempat dalam cerita ini juga digambarkan secara jelas dalam setiap paragraf dan dialog antar tokoh. Terkadang juga Sutono menyertakan bahasa-bahasa daerah seperti tinimbang, jompleng, dan manut. Hal tersebut mendukung latar warung lesehan dengan nuansa Jawa. Sehingga latar yang digambarkan penulis tersampaikan dengan kalimat-kalimat yang ditulisnya.
Namun, akhir cerita dari cerpen ini tidak begitu memuaskan. Bad ending yang menjadi akhir dari cerpen tentunya tidak terlalu diharapkan oleh para pembaca. Terdapat juga paragraf yang memiliki kesamaan kalimat membuat bingung orang yang pertama kali membacanya. Tidak berbeda dengan cerpen Parmin Ingin Naik Haji yang juga ditulis Sutono, memiliki ending dan gaya penulisan yang sama sehingga cerpen-cerpennya mudah ditebak.
Terlepas dari itu semua, cerpen ini sangat bagus dibaca untuk remaja terutama untuk kalangan SMP dan SMA. Terlebih sangat bagus menjadi referensi dalam menulis cerpen.

Resensor : Noval Fariz Mutaqien , Kelas 12 SMA Terpadu Al-Qudwah, Lebak Jawa Barat 

Jumat, 27 Februari 2015

Me and Koran Suara Merdeka


AKTIVITAS dan karya pemuda bernama Sutono, tak sesederhana penampilannya. Penjual koran di kawasan Jalan Moh Yamin Kota Slawi, Kabupaten Tegal, itu telah menerbitkan tiga buku dan menulis puluhan cerita pendek yang dimuat di sejumlah media massa lokal dan nasional.
Tak hanya itu, di sela kesibukannya mengantarkan koran kepada pelanggan dan berjualan, dia masih sempat mengajar ekstrakurikuler menulis di sebuah sekolah dan mengelola Rumah Baca Asmanadia (RBA) di Slawi Kulon.
”Saya memang hobi membaca dan menulis sejak kecil. Alhamdulillah, hingga Februari ini sudah menerbitkan tiga buku yang merupakan kumpulan cerita pendek. Buku terakhir merupakan kumpulan cerpen inspiratif berjudul ”Bapak”,” kata pemuda asli Harjosari Kidul, Kecamatan Adiwerna, tersebut.
Alumnus SMA 3 Slawi tersebut menuturkan, karya-karyanya, selain terinspirasi dari buku-buku bacaan, juga lahir dari pengalaman pribadinya yang kerap menemui ”badai” ujian hidup.
Misalnya, dalam buku berjudul ”Bapak” itu, Sutono menuliskan kisah nyata tentang bapaknya yang dulu suka mabuk dan mengamuk. Penderitaannya bertambah ketika ibu kandungnya meninggal dunia saat Sutono masih kelas II SD. Bapaknya kemudian menikah lagi dan Sutono punya ibu tiri. Saat itu, punya ibu tiri merupakan semacam aib. Teman-teman sekolahnya selalu mengejek dirinya sehingga membuatnya minder.
”Tapi Alhamdulillah, ibu tiri saya sangat baik. Keadaan bapak juga saat ini sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dulu,” kata Sutono yang pernah bekerja sebagai tenaga pemasaran kosmetik dan penjaga toko bangunan itu.
Berguru
Pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Tegal itu mengakui, kepandaiannya menulis tak dipelajarinya dengan mulus. Dia harus melewati berbagai tempaan dan kerja keras. Dia pun tak segan-segan nekat pergi ke kota lain untuk berguru kepada penulis-penulis besar semacam, Gol A Gong, Salim A Fillah, Helvy Tiana Rossa, Sinta Yudisia dan Asma Nadia.
”Dari mereka, saya mendapatkan banyak pelajaran yang tak ternilai, dan yang terpenting, mereka mengajari saya untuk pantang menyerah meski tulisan saya puluhan kali ditolak oleh media massa,” ungkap dia.
Meski telah menerbitkan tiga buku, Sutono tetap merendah. Dia selalu meluangkan waktunya untuk terus belajar hal-hal baru dan memperbaiki tulisannya. Di sela menunggu pembeli korannya, dia memanfaatkan waktu dengan membaca buku-buku inspiratif dan menulis di selembar kertas.
”Tulisan corat-coret di kertas tersebut, kemudian saya ketik ulang di rental komputer sebelum dikirimkan ke media,” tutur Sutono. (M Firdaus Ghozali-74)

Rabu, 12 November 2014

Masuk Koran

Keajaiban menulis itu selain mendapat apreasi dari pembaca yang menyukai cerita yang kita buat, dapat honor dari tulisan yang dimuat, mendapatkan banyak teman-teman baru juga ketika tiba-tiba di datangi wartawan, diwawancarai dan paginya gambar dan tulisan tentang diri menghias media. Ah..keputusan keluar dari tempat kerja kemudian demi mewujudkan cita-cita menjadi penulis dengan menjadi loper koran sedikit-demi sedikit membuahkan hasil. Terimakasih Allah dan semua orang yang telah mendukung, mendoakan mimpi-mimpi saya.



Kamis, 29 November 2012

Tentang Saya..



Tentang  Sutono Adiwerna
Sutono Adiwerna lahir dan besar di Tegal. Beberapa cerpen, puisi dan tulisan lainnya pernah dimuat di majalah Ummi, Tarbawi, Edukita. Harian  Suara Merdeka ( cerpen anak ), Wawasan, Radar Tegal, Nirmala Post dan tabloid Cempaka.
Pertama mengirimkan tulisan ke media di bangku SMP tapi karena tidak dimuat ia berhenti menulis. Untungnya semangat melahap bukunya tak  juga surut. Perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah menjadi tempat favoritnya disaat siswa lainnya mendatangi kantin sekolah.
Semangat menulisnya menggeliat lagi setelah bergabung  dengan FLP ( Forum Lingkar Perna Tegal ) yang  kala itu diketuai oleh Mba Sinta Yudisia. Ia pun kembali rajin menulis dan menulis kemudian mengirimkannya ke media massa. Tulisan pertamanya dimuat di majalah Annida ( sehalaman kartu Pos ) dan majalah Tarbawi. Keduanya ditulis dengan tangan dan dikirim via pos.
Kini  aktifis FLP dan RBA Tegal profilnya pernah dimuat di Suara Merdeka ( halaman Pantura ), Radar Tegal, website resmi pemerinta kab Tegal dan website PKS Kabupaten Tegal
Buku yang sudah terbit
1.       Antologi Cerpen Akulah Pencuri Itu, Indie Publishing thn 2010
2.       Antologi Kasih Hapuslah Airmatamu, CFI thn 2010
3.       Antologi kasih Seribu Cinta yg menyala, Umma Haju thn 2011
4.       Antologi FF Persembahan Kupu- Kupu, Umma Haju thn 2011
5.       Antologi Kebaikan yang Menginspirasi, Puput Happy Publishing thn 2012
6.       Antologi Surat Cinta untuk Ibu, Puput Happy Publishing thn 2012
7.       Antologi Cerpen Curhat Anak Bangsa, Gong Publishig thn 2012
8.       Antologi Curhat Galau Penulis Pemula, Puput Happy Publishing thn 2012
9.       Antologi Cerpen Sapporo, Leutika Prio thn 2012
10.   Antologi Cerpen Tugu, Leutika Prio thn 2011
11.   Antologi Cerpen Dear love for kids, Hasfa thn 2011
12.   Antologi Cerpen anak, Sepatu Puput, PHP thn 2012
13.   Antologi Puisi untuk TKI
14.   Kumpulan Cerpen anak Baju Untuk Lili, buku solo terbit di PHP thn 20112

Sabtu, 03 November 2012

My Book

TELAH TERBIT:
Judul : OBITUARI KAYU
ISBN : 978-602-7692-21-9
Harga : Rp. 35.000,-
Penulis :
Agus Kindi-Anindya Alin- Ariya Des Utami-Fadila Hanum-Jie Wahyu-Maghdalena Azhar- Maharani Medina-Mohd Hapiz- Oksa Putra YuZa-Sutono Suto-Shinja Ts

aqib
-Wendy Fermana

sinopsis
Kotak kayu persegi itu terbuka seperti telur yang terjaga lalu menetas. Sebuah gembok yang berayun di grendel terbuka otomatis. Pelan - pelan dua tangan perempuan misterius terjulur seakan baru tiba dari dasar sumur.

Minah terkenang akan perempuan itu: datang pada setiap pagi, melantunkan tembang dandanggula setiap kali mandi dan keganjilan yang aneh: ia datang sembilan hari dan saat ia datang mendekati hari kesembilan, perutnya bertambah membesar dan mengkhawatirkan.

Perempuan itu datang dari masa lalu yang tak akan bisa dilepaskan. Lalu siapakah dia? Apakah kedatangannya ke rumah besar itu menandakan sesuatu?

"Saya datang untuk menyampaikan sebuah obituari dari dalam kotak kayu."

Pada hari kesembilan, kotak itu terbuka dan menjawabnya.

====================
Untuk Pemesanan
Silakan ketik: OK#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#Nomor HP Kirim ke 0878-260000-53 atau Silakan Inbox Penerbit Alif Gemilang Pressindo

Alhamdulillah akhirnya terbit juga antologi kedua kami. Terima Kasih untuk teman - teman atas doa dan dukungan selama ini.

<photo id="1" />

Kamis, 01 November 2012

Mereka, yang Membuat Saya Ingin Menulis

Sinta Yudisia

Berawal dari majalah Annida Cool oktober 2003 yang saya beli di Alun- alun Tegal, tahun 2006 saya kali pertama jumpa dengan penulis novel Existere ini. Masih terlintas, melekat dibenak dengan senyumnya yang khas, di siang yang terik mba Sinta menyambut saya yang mandi keringat setelah mengayuh sepeda hingga hitungan belasan kilo meter. Yak, selain tak bermotor angkutan umum yang menuju kediaman istri mas Agus Sofyan ini memang tidak ada. Tak sia- sia rasanya karena setelah pertemuan itu, saya bisa belajar banyak dari beliau dan penulis- penulis lain serta bisa bergabung bersama gerbong Flp Cabang Tegal

Ali Muakhir

Kali pertama sua dengan penulis serial Nomik Olin ini ketika mas Ali Muakhir mengisi acara talk show kepenulisan yang diselenggarakan Flp Tegal. Setahu saya beliau datang bersama Boim Lebon. Betapa takjub saya karena bisa bertemu dengan penulis Nomik Olin yang tergolong populer itu. Lebih takjub lagi setelah tahu kalau ayah dari Nada Firdaus ini, kelahiran Tegal, tepatnya Kabunan, Slawi Kabupaten Tegal.

Dua hari pasca lebaran tahun 2008 berbekal mengantongi alamat rumah beliau, saya menguatkan azam menimba ilmu kepenulisan mumpung peraih rekor MURI, katagori penulis bacaan anak paling produktif ini mudik. Yang terlintas dibenak, Harjosari- Kabunan tak begitu jauh kalau di tempuh dengan sepeda.

Sayangnya begitu sampai di rumahnya, mas Ali tengah berada di Blubuk rumah asal mba Leni istrinya tinggal. Saya tidak memegang HP kala itu. Dengan alamat rumah yang diberikan seseorang saya nekat jam 8 malam menuju desa Blubuk. Entah apa yang membuat saya senekat itu. Tahukah anda? jarak Kabunan- Blubuk sekitar 8 Km, belum lagi saya baru ngeh kalau jalur Slawi- Blubuk didominasi areal persawahan yang cukup panjang dengan lampu Lantas seadanya. Sepanjang jalan untuk mengusir lelah, takut yang mendera saya bersenandung, berdzikir.

Lagi- lagi saya merasa beruntung. Malam itu hampir 2 jam saya ngobrol dengan penulis bukkuk Matahari kecil ditingkahi tangis Nada yang kala itu masih 5 th. Ah, masih saya ingat ketika saya menyebut nama Novia Syahidah si Putri Kejawen, mas Ali menimpali panjang lebar segala sesuatu, all abaut isteri Arul Khan itu. Demikian juga ketika saya menyebut Sakti Wibowo, Tasaro, Asma Nadia, Afifah Afra, Izatul jannah dll. Lagi- lagi saya baru ngeh setelah belakangan mengetahui kalau saat itu mas Ali Muakhir GM disebuah lini penerbit Mizan.

M Irfan Hidayatullah

Kali pertama temu dengan penulis buku Jangan- jangan Kau bukan Manusia tahun 2007. Saat Kang Irfan bersama mba Dianti mengisi acara seminar remaja bertajuk The Power of Love yang lagi- lagi digagas Flp Tegal. Sore hari saat acara gladi resik dan diskusi kepenulisan di outlet Latansa, saya dengan tanpa tahu diri menyerahkan 2 cerpen yang saya tulis agar dibaca dan dikoreksi beliau

Malam harinya saya sempat pesimis cerpen yang saya tulis tersebut sempat dibaca beliau apalagi dikoreksi dosen yang kala itu menjabat sebagai ketua umum Flp. Maklum beliau kan harus menyiapkan acara yang akan disampaikan keesokan harinya. Tapi diluar dugaan. Setelah acara seminar kelar, beliau menyerahkan 2 cerpen yang saya tulis lengkap dengan koreksi di sana- sini. Mulai dari EYD, diksi plus komentar di akhir cerpen yang saya tulis.

Empat tahun berlalu, cerpen dengan catatan kaki dari kang Irfan Hidayatullah masih tersimpan dan menjadi pelecut agar ketika saya menjadi penulis nanti mau berbagi dengan orang lain.

Fani Rosanti

Awal 2009 saya mendapat sms dari seseorang bernama Fani, yang isinya mengajak saya untuk menggeliatkan kembali Flp di Tegal yang sedang mati suri. Saya menyambut ajakan tersebut karena saya pikir Fani itu laki- laki dan sudah menerbitkan lebih dari satu buku.

Ternyata perkiraan saya salah.Pertama Fani seorang muslimah, yang kedua, isteri mas Riwanto itu sama seperti saya belum menerbitkan sebiji bukupun.

Meski dengan sedikit pesimis, saya bersedia membantu niat baiknya agar di Tegal ada Flp lagi. Alhamdulillah atas izin-Nya dan dibantu teman- teman seperti Edi Nugroho, Deski Danuaji, Fahim, Ervin, Dwi Puspa Sari, Yustia Hapsari, Irsya Dian, bu Mala dan lain- lain, kini Flp cabang Tegal mulai menggeliat bangun dari tidur panjang ( kini diketuai Ali Irfan ). Oiya setelah Flp Tegal terjaga, saya berkesempatan bertemu, bersilaturahmi dengan Flpers seluruh Indonesia di Solo dan Yogya tempo hari

M. Mutaqwiati


Jauh sebelum jumpa dengan mba Titaq, saya lebih dulu membaca antologi cerpen fenomenal " Sebaran Wangi Kesturi" dan cerpen Gelegak Rindu karya M. Mutaqwiati. Yang saya sukai dari cerpen/ novel isteri mas Imron R. ini adalah kepiawaiannya meramu nilai sastra, lokalitas dan nilai Ruhiyah dengan indah. Saya sempat beberapa kali berkunjung kerumah mba Titaq kala masih di Brebes. Dari mba Titaq saya belajar memanfaatkan waktu luang yang tersisa untuk menulis. Bayangkan ketika masih di Brebes, anak- anaknya masih kecil- kecil, mengelola sekolah TK, mengisi kajian keislaman, dan menahkodai Flp Brebes dll tapi masih bisa menerbitkan buku dan sering mengisi pelatihan kepenulisan meski harus membawa sibungsu yang kala itu masih berusia hitungan bulan.

Nb. Tulisan ini saya buat untuk menyemangati diri saat enggan menulis. Tentu masih banyak nama- nama lain yang belum sempat saya ceritakan disini. Insyaallah lain kesempatan.

Senin, 29 Oktober 2012

Menulis dalam Kesederhanaan ( Kolom Sakpore, Suara Merdeka. Pantura )


Prolog

Awalnya saya kaget ketika seorang teman wartawan Suara Merdeka yang kebetulan bertugas untuk wilayah Kabupaten Tegal meminta saya menjadi narasumber untuk kolom Sakpore yang akan ditulisnya. Kaget karena dilihat dari sisi manapun, rasanya saya belum pantas. Apalagi kalau kacamatanya produktifitas karena 18 tulisan saya yang kebetulan dimuat media, itu saya dapat dalam kurun waktu yang cukup lama yakni dari tahun 2006 sampai sekarang. Saya baru mengiyakan mas pewarta, ketika dia bilang niatkan tulisan ini untuk memotivasi orang lain untuk menulis. Maka berikut saya bagikan sekilas profil saya, mudah- mudahan bermanfaat.

Slawi- Namanya cukup singkat dan mudah diingat, Sutono. Karena lahir di Adiwerna, kabupaten Tegal, maka dia menambahkan Adiwerna sebagai nama pena yang selalu ditulis di setiap karyanya. Sutono Adiwerna, demikian namanya itu dikenal

Nama Sutono Adiwerna pertama kali muncul di majalah remaja Islam nasional pada tahun 2007. Tulisannya waktu itu berisi curahan hati untuk mengambil hikmah di balik keterbatasan seseorang. Setelah itu, namanya kerap menghiasi berbagai media, lokal maupun nasional.

Tercatat, sekitar 18 karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat di media- media tersebut. Selain itu, dia juga beberapa kali terlibat dalam proyek tulisan amal untuk kemanusian. Misalnya cerpen untuk penggalangan dana bantuan Jogyakarta dan tragedi Palestina.

Pria yang akrab disapa Tono atau Suto ini tercatat sebagai salah seorang pengurus Flp Tegal. Sebagian besar karyanya, mengangkat kehidupan kaum terpinggirkan, misalnya tukang becak, perempuan malam dan tenaga kerja wanita ( TKW )

"Salah satu karya yang berkesan adalah cerpen berjudul Warsih yang dimuat di majalah pendidikan Kabupaten Tegal." terangnya.

Warsih menceritakan tentang remaja putus sekolah yang terbujuk untuk menjadi TKW. Namun, menurut Tono, meski  hanya dibaca lingkup lokal Kabupaten Tegal, Warsih menjadi sangat berkesan karena menginspirasi para pelajar dilingkungan sekitarnya untuk mencermati cerpen.

Karya- karya pegiat Rumah Baca Asma Nadia itu lahir dalam kesederhanaan hidup yang di jalani sejak kecil. Sehari- hari dia bekerja sebagai pedagang koran di Kota Slawi, sejak pukul 07.30 hingga puku 15.00. Di sela- sela menunggu pembeli, ide- idenya sering kali mengalir.

" JIka punya ide, saya tulis secara oret- oretan di kertas seadanya. Lalu saya rapikan dan salin di kertas polio. Karena tidak punya komputer, lalu saya ketik lagi dirental komputer." ujar alumnus SMAN 3 Slawi itu.

Saat masih SD, di juga nyambi sebagai pedagan es keliling. Karena hobi membaca, dia kerap menerima majalah bekas sebagai alat pembayaran barang dagangannya. ( Suara Merdeka )

Nb. Untuk semua yang telah membuat saya ingin menulis..

Selasa, 23 Oktober 2012

My Books



Judul Buku      : BAJU UNTUK LILI
(Kumpulan Cerita Anak Pilihan)
Penulis               : Sutono Adiwerna
Penerbit                : Puput Happy Publishing
Cetakan                : Cetakan Pertama, September 2012
Isi                         : iv + 65 Halaman; 13 x 19 cm
ISBN                   : 978-602-18504-7-3
Harga                   : Rp 21.000,-

Sinopsis
Ana cemberut mukanya masam. Bibirnya yang mungil sedikit lebih maju dari biasanya. Matanya memanas, nyaris mengeluarkan air mata. Lemari baju yang ada di depannya hampir kosong karena sebagian isinya bergelatakan di lantai keramik putih.
Rupanya baju kesukaan Ana secara diam- diam oleh mamanya diberikan ke Lili anak tukang kue. Ana Marah pada mamanya. Mengapa baju yang diberikan untuk Lili baju pink kesukaannya bukan baju lain yang sudah tidak terpakai? Mengapa harus baju pemberian kakeknya lebaran tahun lalu?
Meskipun sudah diberi pengertian kalau memberikan barang kepada orang lain harus barang terbaik, Ana tetap berniat meminta kembali baju tersebut. Tetapi sesampainya di rumah Lili yang mungil, Ana mendengar percakapan antara Lili dan Ayu adiknya. Kedua bersaudara itu, ternyata sudah tak memunyai baju bagus.
Apa yang akan dilalukan Ana terhadap Lili dan adiknya?
Baju untuk Lili merangkum 12 cerpen anak pilihan. Ditulis dengan bahasa sederhana, mengalir, tetapi sarat makna. Selamat membaca. ^_^
“Bagi Ibnu Sina, seni akan melembutkan hati anak-anak agar mudah menyerap kebaikan. Bacakanlah  kisah-kisah penuh hikmah karya Sutono ini kepada anak-anak, seperti  I Love You Ayah atau Sebuah Kejujuran. Memberikan makna, insya Allah …..” (Sinta Yudisia, penulis 40 buku, calon psikolog)

 “Cerita yang sederhana, mengena dan memberi  makna pada pembaca anak. Khas sekali gaya penulisannya” ( Ali Muakhir, penulis cerita anak produktif  )

 “ Memikat dalam kesederhanaan itulah kesan yang saya tangkap dalam gaya bercerita yang ditulisnya. Ia begitu cermat memilih diksi yang tak sembarangan. Sehingga pesan yang disampaikan baik tersirat maupun tersurat mudah dipahami bahasa anak. Dalam takaran ini, Sutono Adiwerna bisa dibilang berhasil memposisikan diri sebagai penulis cerita anak “ ( Ali Irfan, Guru sebuah SDIT, ketua Flp Tegal dan Sekjen Flp Wilayah Jateng )

 “Cerpen- cerpen dalam buku ini, idenya sederhana, bahasanya biasa, tapi alur ceritanya mengalir dan pembaca anak saya yakin dengan mudah menangkap pesan moral yang ingin disampaikan penulisnya. Menasehati tanpa menggurui . Disitulah kekuatan cerpen anak yang ditulis Sutono Adiwerna. Ini buku bagus”. ( Nening S Mahendra, Penulis )

Empat puluh hari diamanahi toko besi

       Kejadian ini terjadi sekitar  tahun 2007, saat saya masih bekerja sebagai karyawan  toko besi, matrial bangunan di  Slawi, Tegal.
          Saat  bapak dan ibu pemilik toko tempat saya bekerja hendak menunaikan ibadah haji  toko sedang berkembang maju hal ini menyebabkan majikan saya memutuskan toko besi tetap buka selama keduanya berada di Mekah. Sebelum bertolak ke sana, keduanya berpesan kepada saya agar  menjaga toko dengan baik, tidak memperbolehkan pelanggan hutang selama keduanya belum pulang. Kata keduanya lagi, selama 40 hari saya akan dibantu adik- adik pemilik toko.
          Minggu pertama ditinggal pergi berhaji, saya tidak mengalami kendala berarti karena ketika bapak dan ibu pemilik toko di rumahpun saya sering menghadapi pembeli sendiri. Baru minggu- minggu berikutnya saya merasakan bahwa menjalankan amanah itu tidak mudah  terlebih dipercaya mengelola toko besi ber-omset jutaan setiap harinya.
          Kakak atau adik pemilik toko yang seharusnya membantu, jarang sekali datang  ke toko. Sekalinya berkunjung pasti ujung- ujungnya meminta uang. Untungnya uanga yang diminta untuk keperluan seperti bayar pajak toko, listrik, telepon dll sehingga saya tinggal mencatat uang yang terpakai.
          Pernah juga kerabat saya yang hendak berhutang semen senilai dua ratus ribu. Karena sudah di wanti- wanti ndak boleh melayani hutang, saya ngomong baik- baik, tapi kerabat saya tetap marah dan memusuhi saya.
          Saat itu, selain bekerja di toko besi, saya juga kursus computer setiap jumat dan sabtu sore. Saat itu saya butuh sekali uang untuk bayar uang praktek  sementara saya tidak punya uang sama sekali. Sempat terlintas otak –atik laporan hasil penjualan. Alhamdulillah hal itu tidak jadi saya lakukan. Saya ingat pesan mendiang ibu saya “Sebesar apapun uang kalau di dapat dari cara haram tidak akan membuat hidup tenang .
          Godaan lainnya, saat ditinggal haji saya juga mendapat tawaran bekerja di sebuah mall. Sebuah peluang pekerjaan yang tidak memerlukan tenaga kasar.Tentu saja  dengan halus saya tolak karena sudah diamanahi.       
          Sekarang saya sudah tak lagi bekerja di sana. Tapi kenangan mengelola sendiri toko besi tak akan pernah terlupa.
NB. Tulisan ini dimuat di majalah Tarbawi 281,Sept 2012

Review Good Attitude

 Judul buku : Good Attitude Penulis : Dwi Suwiknyo dan penulis lainnya. Penerbit : Trenlis, Desember 2025 Tebal : 114 hlm Genre : Motivasi K...