Tampilkan postingan dengan label Obituari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obituari. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2019

R.I.P Robby Sugara

R.I.P Robby Sugara

Jaman kecil, kalau malam minggu begadang nunggu film cerita akhir pekan di rumah tetanggaπŸ˜€ selain Si Pitung, Rhoma film cerita yg diputar biasanya film th 70an dan 80an. Biasanya bintang utamanya Om Roy Martin, Bu Yeni Rachman, Yatie Octavia, Dories Calebeut ( susah nulisnya 😁) dan Om Robby yg berdasar koran yg saya baca tergabung dlm the big five. ( Hobi kecil saya ngemati kridit titel film jadi agak apal artis jadul. Kalau sekarang nyerah πŸ˜€)

Era digital, jika kangen film film TVRI, biasanya nonton via youtube. Menurutku, Om Robby paling pas dipasangin dengan Suzana, dan Tanti Yoshepa 

Hari ini di beranda selain update politik, beberapa berita meninggalnya Om Robby. Selamat jalan Om, karyamu di hati

NB : foto sumber dari internet 

Minggu, 02 Juni 2019

Selamat Jalan Ibu Ani Yudhoyono

Assalamualaikum teman - teman pembaca Jejak Pena? semoga senantiasa dalam lindungan Allah ya. Aamiin

Kita, negara Indonesia baru saja kehilangan ibu negara Presiden ke 6 Ibu Ani Yudhoyono yang wafat karena mengidap kanker darah

Yah Ibu Ani selain dikenal sebagai firs lady, semasa Pak SBY menjabat, beliau mendirikan rumah pintar, mobil pintar yang berisi bermacam buku baik fisik maupun digital untuk dibaca masyarakat luas beliau juga sering mengkampanyaken ASI ekslusif dan kebaikan demi kebaikan lainnya. Selai itu, beliau juga dikenal dekat dengan keluarga juga dengan menantunya ( Aya dan Anisa )

Sedikit kenangan, pas Pak SBY ke Kab Tegal, kebetulan saya yang punya lapak koran di pinggir jalan yang dilalui mobil R1. Ketika itu, saya sangat bahagia karena bisa melihat beliau melambaikan tangan, dengan senyum berwibawanya dari jendela mobil hitam yang melaju perlahan

Bu Ani, selamat jalan semoga khusnul khotimah. Alfatiha


Segini dulu ya teman - teman Jejak Pena, semoga lain kali bisa nulis lagi.


By By


obituari

Kamis, 23 Mei 2019

Ustad Arifin Ilham dalam Kenangan

Ketika negeri ini beduka paska kerusuhan 22 mei 2019, kini kembali berduka. Ya Ustadz Arifin Ilham wafat setelah akibat penyakit kanker yang beliau derita

Tentang beliau, saya punya kenangan sendiri. Beberapa tahun lalu, ulama yang dikenal ahli zikir ini, beberapakali berkunjung ke kota tempat saya tinggal Kabupaten Tegal. Alhamdulillah saya kebetulan hadir di acara pengajian dan zikir akbar tersebut. Pertama di Margasari di sebuah ponpes, kedua di kampus STAIBN. Kalau yang di Margasari, pas acara hujan lebat. Tapi jamaah tak ada satu pun yang menepi justeru meringsek ke dekat panggung tempat beliau akan menyampaikan tausiah. Kata - kata yang saya ingat, Hujan itu rahmat jadi jangan malah lari menepi. Yang di STAIBN saya berhasil bersalaman dan meminta tanda tangan di buku beliau.


Gurunda, banyak doa dan cinta untukmu. Alfatiha..

Foto : internet

Berita duka cita

Selasa, 20 Februari 2018

Mengenang Bu Endah Ismoyowati, sebuah obituari

Rasa pertama ketika Bu Endah akan mengajar Bahasa Inggris di kelas kami, 3 IPS 4 adalah gemetar. Pertama karena bahasa Inggrisku memang ancur, parah. Alasan lainnya, saya pernah mendengar selentingan kalau saat mengajar, Bu Endah full english, kalau ulangan harian ketat pengawasannya plus kalau ngasih nilai di rapot katanya pelit.

Sangkaan itu tak sepenuhnya salah, tapi hikmahnya saya jadi lebih giat belajar Bahasa Inggris dari mulai mendengarkan lagu lagunya Westlife, BoyZone, BSB, Shania Twain dll, mulai rajin buka buka kamus inggris, kalau menemukan kosakata baru biasanya saya catat di buku khusus setelah itu mencari artinya di kamus

Setelah kerja keras nilai Bahasa Inggris saya tak meningkat sih, tapi saya bisa menikmati saat mengerjakannya beda ketika saat saya kelas 1 dan 2 mengerjakannya ngasal. Haha..

Hari ini, ketika membukan laman Face Book,  saya dihentakan berita kepulangan Bu Endah ke rahmatullah. Sedih, karena hanya doa yang bisa saya panjatkan, Semoga Allah telah menyediakan jannah buat Bu Endah, guru bahasa inggris yang mengenalkan saya pada puisi indah. Biasanya beliau membacanya saat awal masuk setelah libur penerimaan rapot.

Saya kutip pusinya, semoga bermanfaat

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya ( Dorothy Law Nolte )


Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.πŸ˜₯
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.πŸ˜₯πŸ˜₯ teman-teman mohon doa buat beliau ya..terimakasih

NB, Bu Endah yang berbatik putih biru. Foto dari FB Pak Agus Sumino

Jumat, 31 Maret 2017

Andai Hari ini Aku dimakamkan

“ Hari ini ku mati,
Perlahan...
Tubuhku ditutup tanah.
Perlahan...
Semua pergi meninggalkanku...
Masih terdengar jelas langkah² terakhir mereka,
Aku sendirian,
Di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
Sendiri,
Menunggu pertanyaan malaikat...
Belahan hati,
Belahan jiwa pun pergi.
Apa lagi sekedar kawan dekat atau orang lain.
Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka...
Sanak keluarga menangis,
Sangat pedih,
Aku pun demikian,
Tak kalah sedih...
Tetapi aku tetap sendiri,
Di sini, menunggu perhitungan.
Menyesal sudah tak mungkin.
Tobat tak lagi dianggap,
Dan maaf pun tak bakal didengar,
Aku benar-benar harus sendiri...
Ya Allah...
Jika Engkau beri aku 1 lagi kesempatan,
Jika Engkau pinjamkan lagi beberapa hari milik-MU,
Untuk aku perbaiki diriku,
Aku ingin memohon maaf pada mereka...
Yang selama ini telah merasakan dzalimku,
Yang selama ini sengsara karena aku,
Tersakiti karena aku...
Aku akan kembalikan jika ada harta kotor ini yang telah kukumpulkan,
Yang bahkan kumakan,
Ya Allah beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
Untuk berbakti kepada Ayah & Ibu tercinta...
Teringat kata-kata kasar & keras yang menyakitkan hati mereka,
Maafkan aku Ayah & Ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu,
Beri juga ya Allah aku waktu untuk berkumpul dengan keluargaku,
Menyenangkan saudara-saudaraku..
Untuk sungguh-sungguh beramal soleh.
Aku sungguh ingin bersujud dihadapan-Mu lebih lama lagi..
Begitu menyesal diri ini.
Kesenangan yang pernah kuraih dulu,
Tak ada artinya sama sekali...
Mengapa kusia-siakan waktu hidup yang hanya sekali itu...?
Andai aku bisa putar ulang waktu itu...
Aku dimakamkan hari ini,
Dan ketika semua menjadi tak termaafkan,
Dan ketika semua menjadi terlambat,
Dan ketika aku harus sendiri...
Untuk waktu yang tak terbayangkan sampai yaumul hisab & dikumpulkan di Padang Mashar...
Puisi Almarhum "Bang Remy Soetansyah,"
"ANDAI HARI INI AKU DIMAKAMKAN"
Nb. Puisi dan Gambar, sumber dari internet

Kamis, 19 November 2015

Inmemoriam Korrie Layun Rampan

Pagi 19 Nov 2015 tiba-tiba di Facebook ada yang menulis berita meninggalnya sastrawan yang sering membuat antologi atau menghimpun cerpen-cerpen dari penulis terkenal. Sastrawan yang telah menerbitkan buku kurang lebih 300 judul ini telah berpulang untuk beristirahat tenang, selama-lamanya. Korrie Layun Rampan, Mutiara dari Dayak demikian julukan buat penulis novel Upacara, Melintas Malam, Percintaan Angin dan lainnya tutup usia.

Awalnya berita itu seperti berita lainnya, tahu dan kemudian saya lupakan. Berapa jam setelah saya lihat berita meninggalnya cerpenis, penyair dan kritikus sastra itu mulai bertebaran di time line saya. Setelah itu, rasa kehilangan, rasa sedih mulai menyusup. Tiba-tiba kenangan masa yang telah terliwat segar dalam ingatan.

Saat SMA, karena jarang punya saku buat ke kantin, kalau istirahat saya lari ke dua perpustakaan. Perpustakaan sekolah dan perpustakaan kab Tegal yang kala itu bersebelahan dengan SMA 3 Slawi, tempat saya menimba ilmu. Di perpusda inilah saya banyak tahu buku, banyak karya sastra. Dari mulai Lupus, Roy, Imung, Cemara, hingga buku-buku sastra karya NH Dini, Iwan Simatupan dan tentu saja Korrie Layun Rampan. Masih segar dalam ingatan, saya pernah pinjam berkali-kali novel Upacara dan Percintaan Angin. Upacara memotret lokalitas Dayak dengan kental. Sedang Percintaan Angin berisi kumpulan cerpen. Warna khas Korrie bagi saya, meski detail setting, tapi enak dibaca.


Lulus SMA, saya masih gila baca. Karena malu datang ke perpus, biasanya saya membeli buku atau majalah bekas. Dari sinilah saya mendapat buku Suara Pancaran Sastra. Entah berapakali saya baca buku ini berulang-ulang. Sst cetakan buku ini th 1982 lho..

Saat membuat cerpen pertama pun, judulnya Bukan mimpi yang terpenggal, saya nyatut sedikit profil Korrie Layun Rampan karena keget. Usia 55th sudah menulis 300 buku. Bukunya beragam dari mulai novel, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, kritik sastra hingga novel anak. Kualitas? jangan ditanya penghargaan atas buku-buku beliau bejibun.

Awal 2014an, saya ke toko buku dan nemu kumpulan cerpen anak, ternyata setelah saya buka, isinya kumpulan cerpen dari majalah Bobo, Kompas Anak dll. Selain cerpen beliau, banyak sekali  penulis cerpen dan puisi anak yang terhimpun di buku ini

Selamat jalan Pak Korrie, Istirahat yang tenang ya, doa kami bersamamu

Selasa, 20 Oktober 2015

Mereka yang Mati Muda

Mereka meninggal di usia yang muda. Meski telah tiada karya mereka masih teringat bahkan ada yang sampai sekarang mempunyai Fans Page yang melebihi selebriti yang masih eksis.  Beberapa ada yang meniggal di puncak karir. Siapa saja mereka?

1. Nike Ardila. Saat kecelakaan yang merenggut nyawanya, Nike masih 19th. Tapi meskipun usianya belia, karirnya di industri hiburan tanah air sangat moncer. Nike tak hanya bisa menyanyi. Keke, demikian ia biasa dipanggil juga seorang bintang iklan, foto model, pemain film, pesinetron dan kovergirls. Albumnya meraih berbagai penghargaan diantaranya, Seberkas Sinar, Bintang Kehidupan, Biar Cintamu Berlalu, Sandiwara Cinta dll. Filmnya yang mencuri hati penggemar, Si Kabayan, Nuansa Gadis Suci, Olga Sepatu Roda dll.Sinetron, Trauma Marisa, Deru Debu dan masih banyak lainnya

2. Richi Ricardo. Meninggal saat usia 32 th. Sama seperti Nike, Rici juga model, pemain film dan penyanyi. Lagunya yang terkenal, Cintaku Terkatung-katung dan Bis Sekolah

3. Popi Mercury. Popi, meninggal karena sakit. Beda dengan yang saya tulis diatas, Popi benar-benar fokus dunia nyanyi dan konsen di slowrock. Masih ingat hits Surat Undangan, Antara Jakarta dan Penang, Mama Aku Ingin Pulang?

4. Abiem Ngesti. Saat meniggal Abiem, mungkin tak sepopuler saat masih kecil. Masih ingat hits Pangeran Dangdut, Hallo Dangdut, dan Dasyat?

5. Alda Risma. Alda, tiba-tiba menyeruak sebagai penyanyi papan atas saat mengeluarkan singel Aku Tak Biasa, Patah jadi Dua. Lama tak ada kabar, tiba-tiba Alda diberitakan meninggal dunia. Alda sempat juga menjadi pembawa acara Album Minggu di TVRI

6. Ryan Hidayat. Ryan dulu dikenal sebagai pemain film cilik seangkatan Chica Koeswoya dll. 





 Remaja atau Abg atau Anak-anak 90an siapa tak kenal Lupus? lewat perannya sebagai Lupus, Ryan dikenal dimana-mana. Konon, ketika Lupus diperankan Anto atau Hilman ( penulis Lupus )tak sementereng saat Ryan yang membawakan. 

7. Silahkan tambahi

NB. Nostalgia 90an. Foto-foto dari internet


Kamis, 23 Januari 2014

Inmemoriam Shinta Ardjahrie..

Pekenalan saya dengan muslimah tegar, kuat dan berjiwa sosial yang tinggi ini sebenarnya sekitar tahun 2009-an tepatnya saat acara munas Flp ke 2 di Solo. Saat itu saya mewakili Flp Cabang Tegal, sementara Shinta mewakili Flp Purwokerto yang saat itu diketuai sdra  Froz. Namun baru sekitar tahun 2011-an saya kenal akrab. Shinta banyak sekali membantu kegiatan Flp Tegal dan RBA Tegal yang kebetulan saya bergabung di dalamnya.

Shinta pula yang buanyak membantu hingga acara Launching buku sastrawan angkatan 66, Almarhum SN Ratmana berlangsung lancar dan sukes. Shinta yang menghubungkan teman-teman Flp Tegal dengan sastrawan asal Slawi, Kurnia Effendi. Shinta pula yang gencar berpromo ke radio-radio baik di kabupaten Tegal maupun kota Tegal. Yah selain cinta buku, aktif di kegiatan sosial, Shinta juga penyiar radio di kota Purwokerto.

Shinta yang saya kenal punya jiwa sosial yang tinggi. Di akun FB atau blognya Shinta sering terlibat dengan kegiatan bedah rumah, relawan jika di sekitar Purwokerto ada bencana alam. Masih ingat kisah Tasripin? jauh sebelum menasional, Shinta dan teman-teman lebih dulu bertemu dengan Tasripin, kemudian menulis kisahnya di media sosial

Shinta itu, dekat sekali dengan Almarhum Bapaknya, di blognya, Shinta pernah bercerita kalau kecintaannya pada dunia literasi menurun dari bapaknya yang juga pengkolektor buku, baik buku keagamaan maupun buku kesastraan. Di blognya Shinta juga pernah menulis kalau dia sangat, sangat kangen dengan mendiang bapaknya. Kangen teguran "Nduk, kowe kok ora kesel bolak-balik Tegal- Purwokerto, naik gunung?". Shinta juga kerap mendengarkan lagu Titip Rindu Buat Ayah-nya Ebiet atau lagu Ayah-nya Peterpan kalau sedang didera kangen dengan sosok bapaknya.

Dan Saat langit gelap pagi tadi, tiba-tiba saya mendapat sms yang menghentak dari seorang teman. Innalillahi wa innalillahi rojiun. Rombongan Laziz Mafaza peduli ummat,yang akan ke Pamanukan sebagai relawan banjir mengalami kecelakaan di Larangan. Kecebur saluran iragasi. Shinta Ardjahrie wafat. Empat luka.

Selamat Jalan Shinta, Selamat Pulang.

NB..foto-foto kegiatan Flp Tegal ini, yang ngambil gambar almarhumah Shinta.



Kamis, 26 Desember 2013

Ki Slamet Gundono, Dalang besar yang rendah hati

Selain Ki Entus Susmono, dalang asal Kabupaten Tegal yang namanya menasionla bahkan sering mentas di luar negeri adalah dalang wayang suket, Ki Slamet Gundono

Ki Slamet Gundono berasal dari desa Dukuh Salam, Slawi, Tegal. Beberapa kali unjuk kebolehan memainkan anak wayang suket di dataran Eropa dan Amerika

Selasa tanggal 24 Desember 2013 lalu, saya senang sekali akhirnya bisa melihat langsung perfom dalang yang memiliki berat badan 350kg. Hebatnya dengan berat badan yang abnormal tersebut Ki Slamet pernah keliling tujuh kota di Jepang, menari bersama budayawan Sardono W Kusomo ( kebetulan saya punya buku klasik, buku skenario drama film november 1828, dimana Sardono sebagai pemerannya )

Sebelum mentas, pagi menjelang siang itu Ki Slamet berujar, bahwa dirinya bisa seperti sekarang berkat berguru kepada sastrawan seperti Lanang Setiawan, Dwi Eri, Eko Tunas, Yono Daryono ( beliau sekarang ikut mendukung di drama seri laris Tukang Bubur Naik Haji ) dll

Saya semakin terkesima begitu Ki Slamet mementaskan lakon Basukarno cilik sinau urip, yang intinya untuk mencari jatidiri kita harus tak berhenti untuk Iqra. Untuk membaca.

Siang di terminal Tegal, tepatnya di sebelah TBM Sakila Kerti itu, saya belajar lagi untuk tak sombong ketika di puncak setinggi apapun


Senin, 07 Oktober 2013

Inmemoriam SN.Ratmana



                Saya mengenal penulis novel sejara’Ketika Tembok Runtuh dan Bedil  Bicara’ ini sekitar tahun 2006. Beliau, SN. Ratmana beberapakali di undang ketua  Forum Lingkar Pena ( Flp )Tegal saat itu, Mba Sinta Yudisia, terkadang untuk acara formal yang melibatkan peserta non Flp terkadang diundang khusus untuk memberi semangat calon-calon penulis yang tergabung di Flp Tegal.
                Suatu hari, ketika saya tahu di Tegal ada kantor majalah pelajar ‘Kandela, meluncurlah saya ke alamat Kandela. Sesampainya di sana, saya sangat senang, bahagia karena di Kandela saya bertemu kembali dengan Pak Suci ( nama asli beliau Ratmana Suciningrat )yang kala itu menjabat sebagai Dewan Pembina majalah yang diterbitkan oleh Dewan Pendidikan Kota Tegal ini.
                Karena Kandela buka hanya sampai jam 14.00wib, sedang saya waktu itu masih berkerja di toko besi, jadilah kalau saya ingin main ke Kandela untuk mengirim tulisan atau bertanya-tanya tentang dunia literasi, sejarah Indonesia dari masa penjajahan hingga era revolusi ke Pak Suci terpaksa saya harus bolos kerja.
                Dari sinilah saya terkadang berkunjung ke rumah beliau untuk sekedar curhat kalau betapa susahnya menulis dan mengirimkan cerpen ke media. Pernah saya dipinjami beliau buku terbaiknya, Ketika Tembok Runtuh dan Bedil Bicara. Ohya, mungkin karena sudah sepuh, konon, beliau selektif menerima tamu dan harus ada janji dahulu sebelumnya. Entah mengapa, kalau saya dan teman-teman Flp Tegal berkunjung, beliau selalu welcome, menyambut seperti teman lama yang lama tak bersua.
                Di awal tahun 2009, ketika Flp Tegal berusaha bangun dari tidurnya, Pak Suci adalah penulis pertama yang mengisi open rekrutmen anggota baru. Kau tahu? Dari open rekrutmen ini, Ali Irfan yang baru bergabung, dua minggu kemudian terpilih menjadi ketua Flp Tegal. Alhamdulillah, pilihan kami tak meleset. Di tangan Ali Irfan ( sekarang sekretaris Flp wilayah jateng ) Flp Tegal mulai unjuk gigi, dikenal publik kota dan kabupaten Tegal.
                Tahun 2010, ketika Flp Tegal bermaksud membuat buku kumpulan cerpen, Pak Suci dengan senang hati menyanggupi ketika kami minta untuk memberi kata pengantar buku berjudul  ‘Akulah Pencuri Itu’. Di tahun ini pula kami sepakat mengangkat Pak Suci menjadi Dewan Penasehat Flp Tegal bersama Pak Gusni Darajatun.
                Tahun 2011, Flp Tegal dipercayai Pak Suci untuk membantu menerbitkan naskah berisi novelet Lolong dan kumpulan cerpen berjudul Lelaki Lansia. Alhamdulillah meski melalui proses yang panjang, berliku, buku berjudul Lolong Lelaki Lansia  terbit. Dan launchingnya menghadirkan Prof Abu Suud dan sastrawan Kurnia Effendi. Kau tahu? Acara launching ini di liput berbagai media termasuk Kompas dan Seputar Indonesia.
                Waktu terus bergulir, sesekali kami sering berkunjung ke rumah Pak Suci. Terakhir  bulan Februari 2013. Di pertemuan terakhir ini, Eyang kami, Bapak kami, Kyai kami, Guru kami terlihat begitu kurusnya. Intonasi suaranya yang dulu semangat, semakin lirih tak terdengar. Sebentar-bentar beliau ijin ke belakang untuk buang air besar. Mungkin karena tak enak, Pak Suci meminta Bu Ita ( putri sulung beliau ) untuk gantian menemani kami.

                Jumat, 4 Oktober,  sekitar jam 9 pagi, penulis santun ini menghembuskan nafas terakhirnya. Selamat jalan Pak Suci, Selamat jalan penulis santun dan halus perangai. Banyak doa dari kami. Semoga Allah menyediakan Jannah untukmu. Amiin.

Review Good Attitude

 Judul buku : Good Attitude Penulis : Dwi Suwiknyo dan penulis lainnya. Penerbit : Trenlis, Desember 2025 Tebal : 114 hlm Genre : Motivasi K...