2006, siang yang terik dengan sepeda ontel akhirnya saya sampai di rumah penulis cerpen Di Ujung Kota Jerash versi buku Gadis kota Jerash yang alamatnya ada di majalah Annida edisi jumbo. Cerpen itu memenangkan lomba kepenulisan yang diadakan majalah remaja islami tersebut. Entah apa yang menyeret saya memberanikan diri dari Adiwerna ke Tegal ( ini kali pertama bersepeda dengan jarak yang lumayan jauh ) yang jelas, hari itu sampai sekarang tak pernah saya lupa. Mba Sinta Yudisia II dan Mas Agus menyambut saya dengan ramah, orang yang belum pernah mereka kenal sama sekali.
Di pertemuan ini, mba Sinta memberi saya info lomba cerpen remaja. Siang itu saya pulang ke rumah dengan semangat menjadi penulis yang mulai menyala.
Singkatnya, saya membuat sebuah cerpen yang terinspirasi dari drama TVRI Bima dan Abimanyu ( ada yang ingatkah dua kakak adik yang suka ribut tapi pas adiknya gagal ginjal kakaknya yang benci sekali karena orang tuanya lebih sayang ke adiknya si kakak rela mendonorkan ginjalnya ? ).
Setelah cerpen jadi, saya menitipkan cerpen itu ke kantor Mas Agus yang kala itu berdinas di kantor pajak di depan smugawi. Saat pengumuman lomba cerpen remaja itu, saya tentu saja kalah karena ini cerpen pertama ( sekarang pun saya sering kalah atau cerpennya ditolak media hihi ) tapi saya bersyukur bisa ketemu penulis serial lupus abg mas Boim Lebon dan serial Olin Mas Ali Muakhir ( belakangan saya surpraise karena mas ali asli slawi ) dan menjadi anggota FLP cabang Tegal.
Bisa jadi kalau bukan mba Sinta yang ketua Flp Tegal saya cuma mampir kemudian hengkang dari rumah penuh cinta bernama forum lingkar pena. Singkat kata lagi, saat saya sedang giat giatnya belajar menulis, mba Sinta hijrah ke Surabaya. Sekali lagi, mungkin kalau dulu ndak bertemu mba Sinta, saya sudah menyerah. Kalah. Tapi saya terus berusaha berjuang hingga satu persatu karya saya dimuat.
Kembali ke mba Sinta, di Surabaya nama mba Sinta semakin moncer pertama jadi ketua flp jatim hingga sekarang jadi ketua flp se indonesia. Selain di FLP seingat saya mba Sinta mulai kuliah lagi dari jurusan akuntansi ke psikologi ( dari SI hingga S2 ) ditengah kesibukannya yang bejibun karya guru nulis saya ini terus dan terus terbit dari mulai novel remaja, novel juara lomba, buku parenting, buku how to setiap tahun selalu terbit buku barunya dan tahun ini selain REM bersetting Maroko dan novel dengan kaver yang menurut saya kereeen sekali...
.
Tegal, 27 Sept 2017, sembari mendengarkan tembang-tembang 80an
Tampilkan postingan dengan label F L P. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label F L P. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Oktober 2017
Selasa, 31 Januari 2017
Rahman Hanifan, Ketua terpilih Muswil Flp Jateng
Jam 4 sore, sepedaku sampai di tempat berlangsungnya musyawarah wilayah FLP Jateng, TKIT Usamah, Jl Surabayan, Panggung Timur, Kota Tegal. Sebelum masuk ke gedung TKIT tersebut, saya singgah di masjid di dekat TKIT Usamah. Ternyata di masjid tersebut sudah ada ketua FLP Jateng periode 2012-2016, Ali Margosim Chaniago atau biasa dipanggil Baba Ali. Tak lama kemudian, datang juga perwakilan dari FLP Cabang Pekalongan, Mba Yayah dkk
Jam 19.30 WIB, pembukaan rangkaian acara Muswil FLP Jateng dimualai. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan dari Baba Ali. Ternyata dari 18 cabang FLP yang ada di Jateng, yang bisa hadir hanya dari 4 perwakilan cabang. Cabang Tegal, Pekalongan, Pemalang dan Semarang. Beberapa pengurus cabang lainnya meminta izin tak dapat hadir di Muswil karena suatu hal.
Setelah sambutan dari Baba Ali, Kak Tedi, dari Kampung Dongeng memberi motivasi kepada peserta muswil. Menurut Kak Tedi, jadilah pribada Basmalah. Pribadi yang bahagia, suskes, mulia bersama Allah Swt. Untuk menjadi pribadi Basmalah, kuncinya harus berpikir positif, fokus, bersyukur dan iklas. Menurut Kak Tedi lagi, Kupu-kupu yang indah berasal dari kepompong yang sabar
Pagi harinya, sebelum Muswil berlangsung, ada acara keren yang terbuka buat peserta umum yakni Talk Show dan Bincang-Bincang bertajuk Bagaimana Menjadi Penulis. Pembicara talk show Aveus Har, mengatakan untuk menjadip penulis novel yang baik, kita harus punya Peta ( sinopsis, outline ), Bekal ( riset dan refrensi bacaan ), Waktu dan Tenaga yang memadai. Selain itu, kalau ingin menjadi penulis baik kita harus memiliki target dan obsesi yang kuat
Bincang-bincang penulis, menghadirkan Aveus Har, Rahman Hanifan, Baba Ali, Topik Mulyana dan Sutono Adiwerna. Di sesi ini, Rahman Hanifan mengatakan untuk menjadi penulis kuncinya 3 M. Menulis, Menulis, Menulis. Membaca, Membaca, Membaca. Baba Ali berpesan agar menjadikan menulis sebagai sarana dakwah, Aveus Har menekankan agar calon penulis harus memperbanyak bacaan, Topik Mulyana dari FLP Pusat berpesan menulis adalah memproduksi bahasa, untuk itu harus memilah dan memilih sumber bacaan agar tulisan yang dibuat bernilai kebaikan. Sutono Adiwerna, berbagi tentang manfaat yang didapat dari menulis. Yakni menyehatkan, banyak teman, penyegar pikiran, membantu tugas sekolah dll
Jam 13.30, acara muswil dimulai dengan pembacaan LPJ dari ketua FLP Jateng terdahulu. Setelah pembacaan LPJ, pemilihan ketua baru dimulai. Hasilnya, Rahman Hanifan sebagai ketua terpilih. Rahman Hanifan adalah penulis 8 buku motivasi remaja islami. Beliau juga pernah menjadi ketua FLP Pemalang dan pengurus FLP Jateng. Setelah sambutan pertama paska terpillih, Rahman Hanifan memilih pengurus-pengurus baru FLP Jateng. Siti Untari sebagai sekretaris, Khuzaiyah sebagai bendahara, Divisi kaderisasi oleh Eri fitniati, Karya dipegang oleh Sutono dan Humas oleh Yustia Hapsari
Selamat Mas Rahman Hanifan dkk, semoga bisa membaca FLP Jateng kedepan lebih baik, amanah dan terus berkarya untuk umat
Jam 19.30 WIB, pembukaan rangkaian acara Muswil FLP Jateng dimualai. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan dari Baba Ali. Ternyata dari 18 cabang FLP yang ada di Jateng, yang bisa hadir hanya dari 4 perwakilan cabang. Cabang Tegal, Pekalongan, Pemalang dan Semarang. Beberapa pengurus cabang lainnya meminta izin tak dapat hadir di Muswil karena suatu hal.
Setelah sambutan dari Baba Ali, Kak Tedi, dari Kampung Dongeng memberi motivasi kepada peserta muswil. Menurut Kak Tedi, jadilah pribada Basmalah. Pribadi yang bahagia, suskes, mulia bersama Allah Swt. Untuk menjadi pribadi Basmalah, kuncinya harus berpikir positif, fokus, bersyukur dan iklas. Menurut Kak Tedi lagi, Kupu-kupu yang indah berasal dari kepompong yang sabar
Pagi harinya, sebelum Muswil berlangsung, ada acara keren yang terbuka buat peserta umum yakni Talk Show dan Bincang-Bincang bertajuk Bagaimana Menjadi Penulis. Pembicara talk show Aveus Har, mengatakan untuk menjadip penulis novel yang baik, kita harus punya Peta ( sinopsis, outline ), Bekal ( riset dan refrensi bacaan ), Waktu dan Tenaga yang memadai. Selain itu, kalau ingin menjadi penulis baik kita harus memiliki target dan obsesi yang kuat
Bincang-bincang penulis, menghadirkan Aveus Har, Rahman Hanifan, Baba Ali, Topik Mulyana dan Sutono Adiwerna. Di sesi ini, Rahman Hanifan mengatakan untuk menjadi penulis kuncinya 3 M. Menulis, Menulis, Menulis. Membaca, Membaca, Membaca. Baba Ali berpesan agar menjadikan menulis sebagai sarana dakwah, Aveus Har menekankan agar calon penulis harus memperbanyak bacaan, Topik Mulyana dari FLP Pusat berpesan menulis adalah memproduksi bahasa, untuk itu harus memilah dan memilih sumber bacaan agar tulisan yang dibuat bernilai kebaikan. Sutono Adiwerna, berbagi tentang manfaat yang didapat dari menulis. Yakni menyehatkan, banyak teman, penyegar pikiran, membantu tugas sekolah dll
Jam 13.30, acara muswil dimulai dengan pembacaan LPJ dari ketua FLP Jateng terdahulu. Setelah pembacaan LPJ, pemilihan ketua baru dimulai. Hasilnya, Rahman Hanifan sebagai ketua terpilih. Rahman Hanifan adalah penulis 8 buku motivasi remaja islami. Beliau juga pernah menjadi ketua FLP Pemalang dan pengurus FLP Jateng. Setelah sambutan pertama paska terpillih, Rahman Hanifan memilih pengurus-pengurus baru FLP Jateng. Siti Untari sebagai sekretaris, Khuzaiyah sebagai bendahara, Divisi kaderisasi oleh Eri fitniati, Karya dipegang oleh Sutono dan Humas oleh Yustia Hapsari
Selamat Mas Rahman Hanifan dkk, semoga bisa membaca FLP Jateng kedepan lebih baik, amanah dan terus berkarya untuk umat
Jumat, 14 Oktober 2016
Kisah Bersama FLP Tegal
Perjumpaan
Minggu di siang yang terik menyengat. Setelah mengayuh sepeda ontel satu jam lamanya, akhirnya saya sampai di rumah seorang penulis. Penulis yang alamatnya saya dapatkan dari majalah Annida itu bernama Sinta Yudisia. Cerpennya yang berjudul Gadis Kota Jerush menjadi pemenang lomba menulis cerpen yang diadakan majalah remaja islami tersebut.Aku bersyukur Mba Sinta dan Mas Agus, suaminya menyambut kedatanganku. Setelah berpamitan, Mba Sinta memberi brosur info lomba menulis cerpen remaja yang diselenggarakan Forum Lingkar Pena cabang Tegal.
Siang yang terik itu adalah awal mula perjalanan mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Ohya tahun 2006 itu,saya adalah karyawan toko besi yang terkadang angkut material seperti pasir, batu dan semen. Sore harinya saya menjadi loper atau penghantar koran sore terbitan kota Semarang.
Spirit
Beberapa minggu kemudian, saya datang ke acara pengumuman lomba cerpen dan talk show Berani Menjadi Penulis dengan pemateri Boim Lebon dan Ali Muakhir. Dari acara itu, meskipun cerpen saya tak menang, saya bersyukur selain dapat ilmu juga bisa bergabung menjadi anggota FLP Tegal.Sebulan sakali, di hari minggu jika ada pertemuan rutin FLP, aku berusaha datang. Kegiatan lain biasanya saya tunda, kecuali kalau kegiatan lain itu amat sangat penting.
Awal bergabung sebenarnya minder karena sebagian besar anggota FLP Tegal pintar-pintar. Asal tahu saja, selain nol besar dalam menulis, leadership saya payah. Tak hanya itu, jangankan komputer, mengetik di HP saja waktu itu saya belum pernah. Belum lagi sebagian besar bawa motor, saya naik sepeda. Kuno pula
Tapi semangat untuk menjadi penulis demikian membaja . Selain datang ke pertemuan rutin, saya mulai banyak membaca buku lagi dengan sering berkunjung ke perpustakaan daerah. Saya juga mulai kursus komputer dari awal banget, mengetik 10 jari buta.
Allah memberi jalan lapang buat umatnya yang terus berusaha. Cerpen yang saya buat yang awalnya kata Mba Sinta mentah, kaku dan tidak mengalir, setengah tahun kemudian menurut beliau cerpen saya mulai mengalir dan enak di baca. Tahun ini, tulisan saya yang sehalaman kartu pos di muat di Majalah Annida lho. Alhamdulillah
Gamang
Seperti itik yang kehilangan induknya. Mungkin itu gambaran yang pas buat saya dan teman-teman FLP Tegal kala itu. Kami yang sedang asyik-asyik belajar menulis cerpen, puisi berita dari FLP Tegal, tiba-tiba harus di tinggal Mba Sinta yang harus ikut suaminya yang dipindah tugaskan ke SurabayaPada waktu itu, memang Mba Sinta lah yang berjuang keras sendiri. Kami para anggota hanya tinggal datang saja jika ada acara. Pembicara, konsumsi, acara semua di pegang Mba Sinta. Dampaknya, FLP Tegal terpaksa tak bergerak setelah ditinggal Mba Sinta.
Semangat ingin menjadi penulis tak juga padam. Saya belajar menulis dari mana saja. Kemana saja. Saya rutin membaca majalah Annida dan Horison. Karena dua majalah itu banyak cerpennya dan ada rubrik konsultasi tentang menulisnya. Kalau ke perpustakaan daerah, buku yang kerap saya baca, buku- buku tentang kepenulisan.
Tak hanya itu,saya juga sering ke Brebes jika ada pertemuan rutin atau acara yang diadakan, FLP Brebes yang kala itu diketuai Mbak Titaq, Mutaqwiati. Tahun 2007 kali pertama dapat honor dari menulis karena tulisan saya dimuat di majalah Tarbawi, rubrik KIAT. Alhamdulillah.
Saya gamang lagi ketika Mba Titaq juga pindah ke Ngawi karena orang tuanya di sana sudah berusia senja.
Harapan Baru
Saya tahu untuk menjadi penulis yang diperlukan adalah banyak membaca, menulis kemudian mengirimkannya ke media atau penerbit. Tapi Mba Sinta dan teman teman FLP Tegal membuat saya kangen saat berdiskusi, saat satu persatu mengumpulkan tulisan kemudian dibedah satu-satu. Kangen saat FLP Tegal mengundang penulis lokal maupun nasional untuk memberikan ilmu.Suatu hari, saya mendapat telpon dari Fani Rosa yang baru lulus kuliah. Saat kuliah, Fani adalah aktifis FLP di kampusnya. Dia mengajak saya dan teman-teman lain termasuk Yustia Hapsari, anggota FLP Tegal saat Mba Sinta ketua untuk menghidupkan kembali FLP Tegal.
Singkatnya, awal tahun 2009 FLP Tegal resmi berdiri lagi dengan diawali work shop menulis yang mengundang Alm SN Ratmana dan Pemred Radar Tegal.
Dari acara ini bergabunglah Ali Irfan yang pengalaman menulisnya paling panjang dari kami semua yang ada. Suatu minggu, kami sepakat memilih Ali Irfan menahkodai rumah besar FLP Tegal.
Di tangannya FLP Tegal alhamdulillah tidak hanya di kenal luas Tegal dan Kab Tegal, kami beberapa kali mengadakan acara yang tergolong wah diantaranya mengundang SN Ratmana, Kurnia Efendi, Aries Adenata, Rahman Hanifan, Afifah Afra, dan lain-lain. FLP Tegal juga berhasil menerbitkan dua buku. Antolog Cerpen Akulah Pencuri Itu dan Lolong Lelaki Lansia.
Setelah periode Ali Irfan, estafet dipegang oleh Eri Fitniati, guru yang juga mantan sekertaris FLP Semarang.
Epilog
Dua kali masuk bursa calon ketua FLP Tegal, alhamdulillah yang terpilih akhirnya Ali Irfan kemudian Eri FitniatiSaat periode kepemimpinan Eri Fitniati berakhir dan tidak mau diperpanjang lagi,dengan laegawa saya bersedia kemudian menjadi ketua FLP Tegal periode sekarang. Alasannya, saya nggak ingin FLP Tegal yang sudah berjalan harus tiarap lagi karena tidak ada ketuanya. Saya berharap, suatu hari nanti muncul penulis seperti Ali Irfan dan Eri Fitniati. Amiin.
Saya butuh FLP, FLP Tegal. Karena FLP Telah mengajarkan banyak hal. Tidak hanya tulis menulis. Saya belajar tentang leader shep, marketing dan tentu saja saya mulai belajar lagi tentang Islam.
Dari rahim FLP Tegal sekarang lahir penulis-penulis Tegal mulai dari Ali Irfan, Fani Rosa, Yustia Hapsari, Irfan Fauzi, Puput Happy, Nur Istiqomah dan lain-lain. FLP Tegal juga menjembatani saya bertemu penulis penulis besar seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Kang Abik, Gola Gong dan masih banyak lainnya.
Mengutip kata Datuk Taufik Ismail, Forum Lingkar Pena Adalah Anugerah terindah dari Allah untuk Indonesia.
Penulis, Sutono Adiwerna, Penulis, Ketua Flp Tegal.
NB. Maaf jika ada nama yang terlewat, tercatat.fy;">
Selasa, 12 Juli 2016
Halal Bi Halal FLP Tegal di Bumba Resto Slawi
Sampai di Bumbu Bakar Resto Slawi, sekitar jam 9 pagi. Rumah makan yang beralamat di Jl Jendral Sudirman Slawi ini, gerbangnya masih tutup. Saya mengayuh sepeda ke arah Slawi Pos hendak mencari kertas kado. Tak lama, hape berdering. Rupanya SMS dari Mba Eri, isinya menanyakan apakah kenang-kenangan buat pembicara sudah siap, saya jawab sudah ada, tinggal dibukungkus dengan kertas kado. Nanti Mba Eri bawa kertas kado ya!. Mba Eri mengirim pesan lagi. Ok, nanti Pak Tono bawa solatip ya. Karena tidak membawa solatif, saya pun mencari toko yang menyediakannya. Setelah dapat solatif putih, kecil, saya kembali ke BumBa
Saat tiba di BumBa, gerbang sudah dibuka. Sepeda saya parkirkan. Lama tak berselang, muncul Mba Yulie dari Bogares, rupanya, Mba Yulie pernah bergabung dengan Flp Johor yang sudah kembali ke kampung halaman. Setelah itu datang pula Mba Naim dan Mba Yuli dari Songgom, Brebes ( jauh lho ) kemudian datang Mba Isti, setelah itu Mba Puput juga menampakan diri. Setelah Mba Puput tiba dan menghubungi pemilik BumBa Resto, masuklah kami ke Rumah Makan yang menu andalannya Ayam Bakar ini.
Lima belas menit kemudian, Mas Ali Muakhir dan kelurga datang. Sama seperti Halal bi Halal Flp Tegal yang sudah-sudah, beliau sudah di TKP saat pesertanya belum ngumpul.
Mba Puput Membuka acara beberapa menit berselang. Ketika saya diberi kesempatan ngomong, sembari menunggu teman-teman lain datang saya meminta saling mengenalkan diri beserta motivasi datang ke acara Halal Bi Halal dan Talk Show Menjadi Writerpreuner. Tak terasa ketika satu persatu mengenalkan diri dari Mas Ali Muakhir hingga giliran saya, yang datang ke BumBa sudah 20 orang. Alhamdulillah.
Usai saling mengenalkan diri, Mas Ali Muakhir menanyakan bagaimana pertemuan kali ini diisi dengan apa yang teman-teman Flp Tegal hendak tanyakan, ketahui A to Z tentang kepenulisan. Karena semua sepakat, satu persatu mendapat kesempatan bertanya dan mendapat jawaban yang memuaskan dari penulis serial Ollin ini.
Saya tidak mencatat satu persatu pertanyaan teman-teman Flp Tegal dan jawaban dari Mas Ali Muakhir. Saya hanya ingat beberapa saja. Inipun sudah tak terjemahkan versi saya sendiri.
FLP T : Bagaimana agar tidak macet dalam menulis cerita?
AM : Bikin sinopsis ( beda lho dengan blurb yang ada di kaver belakang buku ), kemudian bikin pra finishing, setelah itu casting baru kemudian setting
FLP T: Tips biar tembus media bagaimana?
AM : Baca media yang kita target minimal 6 edisi. Misal kita ingin dimuat di Femina, baca cerpen Femina selama 6 edisi kemudian kupas kelebihan dan kekurangan cerpen di sana.Demikian pula ketika ingin dimuat di Majalah Bobo dll.
FLP T: Bagaimana dapat uang dari blog?
AM : Uang dari blog bisa dari adsense, iklan. Untuk itu blog harus dibuat se menarik dan unik. Teman-teman coba bloger untuk ngasih pelatihan, di Tegal ada bloger yang sering dapat endors, iklan namanya Ila Rizki
FLP T: Bagaimana split ( berpindah ) dari menulis genre anak ke genre dewasa atau remaja ?
A M : Kalau saya kumpulan bahan dulu. Biasanya kalau bahan sudah lengkap, menulis lebih mudah kalau semisal diminta bikin cerpen oleh majalah tertentu.
FLP T: Judul itu penting tidak sih?
AM : Judul penting, tapi yang lebih penting ide dan isi cerita. Biasanya kalau ide dan isi ceritanya ok, judulnya bisa diganti oleh redaktur baik media massa maupun editor penerbit.
Menjelang Adzan dhuhur, acara selesai. Sebelum pulang ke rumah masing-masing kami menyantap menu andalan BumBa Resto Slawi.
Ket : FLP T : teman-teman Flp Tegal, AM : Mas Ali Muakhir
Saat tiba di BumBa, gerbang sudah dibuka. Sepeda saya parkirkan. Lama tak berselang, muncul Mba Yulie dari Bogares, rupanya, Mba Yulie pernah bergabung dengan Flp Johor yang sudah kembali ke kampung halaman. Setelah itu datang pula Mba Naim dan Mba Yuli dari Songgom, Brebes ( jauh lho ) kemudian datang Mba Isti, setelah itu Mba Puput juga menampakan diri. Setelah Mba Puput tiba dan menghubungi pemilik BumBa Resto, masuklah kami ke Rumah Makan yang menu andalannya Ayam Bakar ini.
Lima belas menit kemudian, Mas Ali Muakhir dan kelurga datang. Sama seperti Halal bi Halal Flp Tegal yang sudah-sudah, beliau sudah di TKP saat pesertanya belum ngumpul.
Mba Puput Membuka acara beberapa menit berselang. Ketika saya diberi kesempatan ngomong, sembari menunggu teman-teman lain datang saya meminta saling mengenalkan diri beserta motivasi datang ke acara Halal Bi Halal dan Talk Show Menjadi Writerpreuner. Tak terasa ketika satu persatu mengenalkan diri dari Mas Ali Muakhir hingga giliran saya, yang datang ke BumBa sudah 20 orang. Alhamdulillah.
Usai saling mengenalkan diri, Mas Ali Muakhir menanyakan bagaimana pertemuan kali ini diisi dengan apa yang teman-teman Flp Tegal hendak tanyakan, ketahui A to Z tentang kepenulisan. Karena semua sepakat, satu persatu mendapat kesempatan bertanya dan mendapat jawaban yang memuaskan dari penulis serial Ollin ini.
Saya tidak mencatat satu persatu pertanyaan teman-teman Flp Tegal dan jawaban dari Mas Ali Muakhir. Saya hanya ingat beberapa saja. Inipun sudah tak terjemahkan versi saya sendiri.
FLP T : Bagaimana agar tidak macet dalam menulis cerita?
AM : Bikin sinopsis ( beda lho dengan blurb yang ada di kaver belakang buku ), kemudian bikin pra finishing, setelah itu casting baru kemudian setting
FLP T: Tips biar tembus media bagaimana?
AM : Baca media yang kita target minimal 6 edisi. Misal kita ingin dimuat di Femina, baca cerpen Femina selama 6 edisi kemudian kupas kelebihan dan kekurangan cerpen di sana.Demikian pula ketika ingin dimuat di Majalah Bobo dll.
FLP T: Bagaimana dapat uang dari blog?
AM : Uang dari blog bisa dari adsense, iklan. Untuk itu blog harus dibuat se menarik dan unik. Teman-teman coba bloger untuk ngasih pelatihan, di Tegal ada bloger yang sering dapat endors, iklan namanya Ila Rizki
FLP T: Bagaimana split ( berpindah ) dari menulis genre anak ke genre dewasa atau remaja ?
A M : Kalau saya kumpulan bahan dulu. Biasanya kalau bahan sudah lengkap, menulis lebih mudah kalau semisal diminta bikin cerpen oleh majalah tertentu.
FLP T: Judul itu penting tidak sih?
AM : Judul penting, tapi yang lebih penting ide dan isi cerita. Biasanya kalau ide dan isi ceritanya ok, judulnya bisa diganti oleh redaktur baik media massa maupun editor penerbit.
Menjelang Adzan dhuhur, acara selesai. Sebelum pulang ke rumah masing-masing kami menyantap menu andalan BumBa Resto Slawi.
Ket : FLP T : teman-teman Flp Tegal, AM : Mas Ali Muakhir
Jumat, 24 Juli 2015
Menulis tak terbatas cerita atau buku ( HBH Flp Tegal )
Pagi 19 juli 2015. Jam 9 pagi saya sampai di gedung BMT BUM Tegal. Di sana baru ada Riska. Menurutnya, tadi ada yang datang, laki-laki, berkacamata. Mungkin Ade atau Gilang kata saya dalam hati. Saya coba telpon Gilang, nomornya sedang sibuk. Ade, tak ada kontaknya. Pas buka Facebook, ternyata Ade yang datang, karena sepi dia meninggalkan BUM.
Tak lama kemudian, datang dua peserta. Berikutnya Miladi dan saudaranya, dan penulis buku Hore, Aku Tinggi mba Vanda sampai juga ke BUM. Alhamdulillah.
Setelah menunggu agak lama, OB BUM yang memegang kunci gedung datang. Masuklah kami semua ke aula yang letaknya di lantai dua. Setelah mengambil tempat duduk masing-masing, karena kemungkinan ketua Flp Tegal dan Mba Sinta Yudisia datang terlambat, saya meminta Mba Vanda berbagi pengalaman menulisnya. Meski dadakan, Alhamdulillah penulis kelahiran Tegal ini sharingnya sangat bermanfaat, dan memberi semangat anggota Flp Tegal yang baru saja bergabung.
Saya sedikit bagi disini
1. Menulis itu tak harus cerpen, buku, novel. Menulis bisa di buku harian, blog atau status di Facebook asal ada azas kemanfaatannya
2. Mba Vanda mulai gencar menulis tahun 2011, tapi baru bisa memanennya mulai tahun 2013. Dan tahun ini telah terbit dua bukunya yakni Hore, Aku Tinggi ( Tiga Serangkai ) dan Ramuan Tradisional dari Alquran ( Adi bintang )
3. Untuk menjaga semangat menulis, ikut komunitas menulis baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
4. Kita harus punya target atau detlen pribadi untuk setiap tulisan.
5.Flp Tegal kayaknya harus punya PJ pemegang laporan setiap anggota yang karyanya dimuat atau menghasilkan tulisan. Nanti yang paling produktif atau lainnya bisa mendapat reward, bisa berupa buku atau lainnya.
Setelah sharing, Mba Vanda meminta yang lainnya untuk berkenalan satu persatu.
Ketua Flp Tegal, Mba Eri, disusul kedatangan Mba Sinta membuat agenda Halal Bi Halal makin seru. Seperti biasanya sesion terakhir adalah, sesi poto-poto.
Terakhir, mumpung masih Syawal, Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf lahir dan Batin
Tak lama kemudian, datang dua peserta. Berikutnya Miladi dan saudaranya, dan penulis buku Hore, Aku Tinggi mba Vanda sampai juga ke BUM. Alhamdulillah.
Setelah menunggu agak lama, OB BUM yang memegang kunci gedung datang. Masuklah kami semua ke aula yang letaknya di lantai dua. Setelah mengambil tempat duduk masing-masing, karena kemungkinan ketua Flp Tegal dan Mba Sinta Yudisia datang terlambat, saya meminta Mba Vanda berbagi pengalaman menulisnya. Meski dadakan, Alhamdulillah penulis kelahiran Tegal ini sharingnya sangat bermanfaat, dan memberi semangat anggota Flp Tegal yang baru saja bergabung.
Saya sedikit bagi disini
1. Menulis itu tak harus cerpen, buku, novel. Menulis bisa di buku harian, blog atau status di Facebook asal ada azas kemanfaatannya
2. Mba Vanda mulai gencar menulis tahun 2011, tapi baru bisa memanennya mulai tahun 2013. Dan tahun ini telah terbit dua bukunya yakni Hore, Aku Tinggi ( Tiga Serangkai ) dan Ramuan Tradisional dari Alquran ( Adi bintang )
3. Untuk menjaga semangat menulis, ikut komunitas menulis baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
4. Kita harus punya target atau detlen pribadi untuk setiap tulisan.
5.Flp Tegal kayaknya harus punya PJ pemegang laporan setiap anggota yang karyanya dimuat atau menghasilkan tulisan. Nanti yang paling produktif atau lainnya bisa mendapat reward, bisa berupa buku atau lainnya.
Setelah sharing, Mba Vanda meminta yang lainnya untuk berkenalan satu persatu.
Ketua Flp Tegal, Mba Eri, disusul kedatangan Mba Sinta membuat agenda Halal Bi Halal makin seru. Seperti biasanya sesion terakhir adalah, sesi poto-poto.
Terakhir, mumpung masih Syawal, Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf lahir dan Batin
Rabu, 12 Maret 2014
Kamis, 07 Maret 2013
Jejak Flp Tegal era thn 2009 ...
Setitik Goresan Menuju Plat-Pulpen FLP Tegal
Oleh: Sutono
Ada beberapa hal yang membuat saya sangat yakin bahwa FLP adalah anugerah dari Allah untuk saya, kita dan Indonesia.
& Sekitar tahun 2006 saya mulai bergabung dengan FLP yang ketika itu diketuai Mba Sinta Yudisia. Sebelumnya saya tak pernah bermimpi bisa berjumpa sekaligus belajar menulis dari penulis yang saya kagumi. Tapi di saat saya sedang belajar, tiba-tiba Mba Sinta diboyong ke Surabaya mengikuti suaminya. Kecewa, sedih Mba Sinta pindah ketika kami – murid-muridnya – belum bisa mengadopsi ilmunya. Singkatnya kami seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Tapi, show must go on. Lama saya berjuang sendiri, menulis, dan menulis. Tanpa ada yang memberi semangat ketika lagi down. Tidak ada yang mengomentari apa yang telah saya tulis tersebut. Hingga suatu hari saya mendapat sms dari seorang yang bernama Fani, yang mengajak menggeliatkan kembali FLP Tegal. Saya menangkap semangat, sembari menerka-nerka berapa buku yang telah ia tulis. Berapa puluh judul tulisan yang telah ia sematkan di media massa, karena jujur saya belum mengenal si pemberi sms itu sama sekali. Beberapa kali kami mencoba mengadakan pertemuan, tetapi lebih sering gagal. Bahkan saya dan mas Edi pernah berurusan dengan polisi. Ceritanya waktu saya menerima telpon dari Fani, lupa memakai helm. Padahal motor mas Edi sedang melaju.
& Karena didasari niat baik, Allah melalui cara yang unik mempertemukan kita semua. Saya masih ingat rapat demi rapat yang kita lakukan sering mbulet-mbulet, karena beberpa hal. Mulai dari orang yang terpilih menjadi ketua panitia tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Disms, ditelpon tak ada respon, hingga terpaksa diganti. Sampai lokasi pertemuan yang seadanya. Tapi berkat pengorbanan kawan-kawan semua entah itu waktu, harta, tenaga, pikiran, akhirnya acara Talk Show bisa diselenggarakan dengan lancar. Penghargaan saya sebagai orang yang membutuhkan FLP sering disergap malu karena tidak bisa melakukan suatu hal melainkan sangat sedikit dibanding kawan-kawan semua. Saya hanya bisa berdoa semoga apa yang kawan-kawan lakukan merupakan suatu amalan yang bisa memperberat timbangan kebaikan kita.
& Satu lagi yang menjadi catatan saya yang membuat saya yakin kalau FLP adalah anugerah dari Allah ialah ketika saya mendengar kata “Demi FLP wis…” Subhanallah! Allahu Akbar! Kata itu diucapkan dari mulut Mba Mala, seorang yang bisa dikatakan belum mendapat apapun dari FLP. Tapi, mampu melakukan sesuatu untuk FLP.
& Akhirnya saya berharap setelah acara talk show ini, kita masih bisa berteman, bersahabat, dan saling bergandeng tangan dalam melakukan kebajikan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Review Good Attitude
Judul buku : Good Attitude Penulis : Dwi Suwiknyo dan penulis lainnya. Penerbit : Trenlis, Desember 2025 Tebal : 114 hlm Genre : Motivasi K...
-
Judul Buku : Cinta Laki-Laki Biasa Pengarang : Asma Nadia dkk Penerbit : Asma Nadia Publishing...
-
Jujur Untuk Selamanya Oleh Sutono Adiwerna Sudah tiga bulan ini, ayah Nino membuka kios buah di depan rumah. Mula-mula...
-
Judul buku : Sahabat Sejatiku Penulis : Farras Salsabila Penerbit : Tiga Ananda, Tiga Serangkai Solo Tahun Terbit : April 2013 Tebal : 8...
-
Judul Buku : My Sweet Heart Penulis : Amira Budi Mutiara Penerbit : Dar Mizan Anak ( KKPK ) Cetakan : Pertama Februari 2009 ...
-
Jumat malam, saya belum mendapatkan materi apa yang akan disampaikan saat kelas menulis di SDIT BIAS nanti. Malam itu, saya iseng beres bere...
-
1. Setting TK tempat Ade Irma Suryani. Saat Ade Irma dkk bermain, latar lagunya Lihat kebunku . Lihat Kebunku penuh dengan bunga...
-
Mereka meninggal di usia yang muda. Meski telah tiada karya mereka masih teringat bahkan ada yang sampai sekarang mempunyai Fans Page yang m...
-
Judul buku : Di bawah naungan cahaya-Mu Penulis : Desi Puspitasari Tahun terbit : September 2007 Tebal buku : 192 halaman Harga : ...
-
Baru baru ini, di kelas menulis SDIT Usamah Tegal, saya meminta murid2 untuk mencurahkan isi hati dalam sepucuk surat. Mau tahu isinya..? 1...
-
Rasa pertama ketika Bu Endah akan mengajar Bahasa Inggris di kelas kami, 3 IPS 4 adalah gemetar. Pertama karena bahasa Inggrisku memang anc...















