Rabu, 01 November 2017

Kritik Sosial Lewat Cerpen

Judul Buku : Kiai Amplop
            Pengarang : Sam Edy Yuswanto
            Penerbit : Lovrinz Publishing, Cirebon
            Cetakan : Agustus 2017
            Tebal : 124 Hlm
            ISBN : 978-602-6652-96-6
                Kiai Baha adalah Kiai muda yang tengah naik daun serta dikagumi masyarakat di daerahnya. Bukan hanya parasnya yang tampan, Kiai Baha juga lihai meramu kata saat berceramah di publik. Cara menyampaikan dakwahnya pun dengan hallus, tegas tapi tidak saklek. Kiai Baha juga tidak pernah menyindir golongan tertentu dan suaranya merdu saat melantunkan ayat ayat suci Al quran
                Secepat kilat, karir Kiai Baha melesat tinggi melebihi para artis. Hal ini membuat warga di daerahnya kecewa karena Kiai Baha hijrah ke Jakarta karena menjadi pengisi tetap pengajian di beberapa televisi swasta. Kiai Baha juga kerap diundang ke acara-acara pengajian besar di ibu kota. Kini warga di daerahnya hanya bisa melihat Kiai idolanya hanya dari layar kaca
                Karena karir Kiai Baha kian moncer, Jika warga di daerah mengundang untuk mengisi acara walimahan dan semacamnya, Kiai Baha menolak dengan alasan sibuk atau jadwalnya padat padahal sebenarnya Kiai Baha kerap membandingkan isi amplop  alias mematok harga
                Suatu hari, Kiai Baha menjerit karena mendadak jubah besar yang dikenakannya mengeluarkan hawa panas yang luar biasa.Kia  Baha terus menjerit-jerit meminta pertolongan. Tapi anehnya, tak ada seorangpun mau menolongnya termasuk  istrinya sendiri. Apa yang terjadi dengan Kiai Baha?
                Buku berjudul Kiai Amplop ini, merangkum 13  cerpen. Sebagian besar cerita-cerita di dalamnya menyuguhkan kritik sosial yang ada di masyarat. Di cerpen Kiai Amplop, Sam Edy menyuguhkan  fenomena Kiai-Kiai yang mematok harga saat  mengisi acara dan tidak bersedia mengisi acara di daerahnya takut dibayar tidak sesuai tarif
                Cerpen berjudul Korupsi, menyoroti praktek-praktek korupsi negeri tercinta. Dari mulai tingkat besar hingga tingkat kecil. Dari kelas pejabat hingga praktek korupsi di keseharian. Saat mengisi BBM di SPBU misalnya. Kritik sosial lain ada di cerpen Menara, Pelayat Amplop, Pilkades, Kiai Jarkoni dan lain-lain
                Cerpen-cerpen dalam buku ini, ditulis dnegan bahasa yang sederhana, cair dan mengalir sehingga enak dibaca
                Kelebihan lainnya, beberapa cerpen endingnya penuh kejutan dan tidak mudah ditebak. Bisa jadi karena penulisnya sudah banyak menulis di banyak media massa
                Tapi tak ada gading yang tak retak. Kumpulan cerpen ini punya kekurangan. Tapi buku ini sayang untuk dilewatkan setidaknya untuk hiburan dan bisa dibaca di sela-sela waktu senggang. Selamat Membaca


PERESENSI : SUTONO ADIWERNA, PENULIS LEPAS, PEGIAT FLP TEGAL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FLP 23 Tahun

FLP 23 tahun Menulis adalah berjuang ( HTR ) 2006, saat pertama ingin jadi penulis dan gabung FLP Cab Tegal, saya terbilang modal neka...