Senin, 22 Agustus 2016

Dalam Cahaya Temaram


                Koridor  SMU Tiga mulai senyap. Har melangkah dengan gontai.  Di benaknya masih terngiang-ngiang kata-kata Pak Tugiman sebelum dirinya meninggalkan kelas XII Sos 1.
                “Har, minggu depan ujian nasional. Sampaikan sama bapakmu, tunggakan SPP-nya segera dilunasi”
                “Kalau belum lunas, artinya saya batal ikut UNAS  Pak?”
                “Bisa jadi. Kalaupun boleh ikut, kamu harus antri kartu sementara. Bapak sih berharap semua siswa SMU Tiga fokus mengerjakan soal-soal  saja. Tidak ada yang berdesakan mengambil kartu sementara”
                Angin siang menjelang sore bertiup sepoi. Har mendengus kesal ketika mendapati tulisan di dinding perpustakaan “ SETIAP WARGA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN”
                “ Mas Har..tunggu!” Har menghentikan langkahnya. Seorang gadis berjilbab melangkah dengan tergesa-gesa. Nia adalah sepupunya yang duduk di kelas sepuluh.
                “Kok mukanya kusut gitu Mas? Ada masalah?” tanya Nia setelah langkah mereka agak berjajar. Har menjawab dengan anggukan kepala
                “Ayolah cerita. Siapa tahu Nia bisa ngebantu
                “Masalahku apalagi kalau bukan soal SPP menunggak”curhat Har akhirnya
                “Apa perlu Nia minta bantuan Ayah. Minggu depan Mas Har UNAS kan?” Nia meminta persetujuan. Har menggelengkan kepala
                “Kamu dan Lik Sarpan sudah banyak membantu kami.  Lik Sarpan yang ngasih uang waktu daftar ulang saat bapak kebingungan cari uang untuk daftar ulang masuk SMU Tiga. Hampir setahun ini aku juga nebeng matic kamu”
                “Mas Har, kita kan saudara. Guna saudara kan saling membantu satu sama lainnya”
                “Pokoknya aku ndak mau ngerepotin kamu dan Lik Sarpan lagi. Titik” tegas Har. Nia mengulurkan kontak motor maticnya
***
                Magrib hampir datang. Har sedang sibuk memasukan dan menata  kerupuk-kerupuk mie ke dalam plastik besar berwarna bening.
                “Belum pulang Har?”tanya Lik Yanto pemilik pabrik kerupuk mie tempat Har bekerja sepulang sekolah
                “Sebentar lagi Lik. Mmm. Lik, minggu depan Har ujian nasional. Mungkin Har selama seminggu tidak masuk kerja”
                “Padahal pemesan kerupuk sedang banyak-banyaknya Har. Tapi karena ujian, Lik kasih ijin. Belajar yang rajin dan tekun ya! Jangan lupa berdoa.”
                “Lik...”
                “Hmmm..”
                “Har mau pinjam uang buat melunasi SPP. Ada Lik?”
                “Har..Har..kamukan tahu kemarin Lik habis nyetok tepung topioka. Kalaupun sisa, kan buat gajian kamu dan karyawan lainnya”
                “Tapi Lik..”
                “Har, hutangmu masih banyak. Tapi karena kamu butuh uang, gajian kamu minggu ini tidak Lik potong. Bagaimana? Lik Sarpan memberi jalan tengah. Mau tak mau Har menganggukan kepala sebelum akhirnya berpamitan pulang.
                Har sampai di rumahnya bertepatan kumandang adzan dari musala Nurhidayah
                “Baru pulang Har?” tanya Pak Karso, ayahnya.
                “Inggih Pak “ jawab Har singkat
                “Har kamu gajian?” tanya Pak Karso sembari memakai peci hitam, bersiap-siap menuju musalah. Har menganggukan kepala. “ Bapak pinjam Rp.30.000. Ada?”
                “Ngapunten Pak, uang Har nantinya buat bayar tunggakan SPP. Itupun belum lunas”
                “Yo wis, buat bayar SPP dulu. Maafkan Bapak ya Har! Harusnya kamu dan Ed tugasnya belajar dan sekolah saja. Kalian malah bekerja sepulan sekolah. Bapak memang bukan bapak yang baik”
                “Bapak nggak boleh ngomong seperti itu. Semenjak Ibu meninggal, Bapak bekerja keras menjadi ayah sekaligus ibu buat kita”
***
                Mentari pagi yang seharusnya hangat dan segar terasa begitu terik dan menyengat bagi Har dan murid-murid kelas XII yang berdesakan demi mendapatkan kartu sementara agar bisa ikut ujian. Sementara itu, teman-temannya yang berasal dari kalangan berada tengah asyik membaca dan mengerjakan soal demi soal yang ada di kertas ujian
                Har menarik napas lega setelah kartu sementara yang didapatnya dengan susah payah berhasil dalam genggaman.  Har berlari menuju ruang ujian setelah berkali-kali mengucap syukur
                Begitu sampai di kelas, setelah menyapa guru penjaga, Har menuju bangkunya.
***
                Magrib belum tiba. Lampu-lampu di rumah Har belum menyala. Ya, rumah Har memang belum pasang listrik sendiri, tapi menyalur di rumah Mak Saedah yang rumahnya berada di belakang  rumah mereka.
                “Pak tumben kok Mak Saedah belum nyalain lampu? Bakda magribkan Har harus belajar”
                “Sabar ya Har, sementara saluran listrik rumah ini diputus. Kalau sudah bayar baru disambung lagi”
                “Tapi Pak, Mas Har kan besok ujian. Kasian kan?”sela Ed yang sudah memakai sarung, baju koko dan peci.
                “Tadi Bapak juga sudah ngomong agar jangan diputus dulu. Maafkan Bapak ya Har, Ed. Bapak memang orang tua yang tak berguna”
                Suasana hening.  Ed dan Har menyesal telah membuat bapaknya sedih.
                “Pak, Ed, daripada bengong, mending kita cari dimana lampu-lampu teplok. Ed, sebelum ke musalah, tolong belikan minyak tanah di toko SARI. Seingatku di sana ada minyak tanah. Uangnya ada di saku seragam Mas Har.”
                “Beres Bos “
***
                Malam ini rumah Har nampak lenggang. Selain cahayanya yang temaram, Ed sedang ke rumah Bas sahabatnya. Pak Karso sedang ke rumah Bu Gendi, hendak mengambil upah buruh macul selama 3 hari. Hanya Har yang sedang berjibaku dengan tumpukan buku catatan dan buku paket pelajaran.
                Dalam Cahaya Temaram, Har beruajar berkali-kali. Di dalam hati. Har berjanji, agar belajar sebaik mungkin. Akan berusaha sekuat mungkin agar hari esok dirinya dan keluarganya hidup lebih baik lagi. Dalam Cahaya Temaram, Har tak putus berdoa  kepada Allah agar besok diberi kemudahan mengerjakan soal-soal ujian..


Keterangan, Cerpen ini  pernah
dimuat di Minggu Pagi, KR grup.




Jumat, 19 Agustus 2016

Hidup Butuh Perjuangan

Judul                  : BAPAK
Penulis               : Sutono Adiwerna
Penerbit              :Puput Happy Publishing
Tahun                 : Pebruari 2015
Jumlah                : 83 halaman
ISBN                  : 978-602-7806-33-7
Peresensi            : M. Madun Anwar, beralamat Jln. Ketapang, Desa Madayin (Bayan) Kec. Sambelia (83656), Lombok Timur, NTB.

Beliau selalu berpesan kepada anak-anaknya agar melek huruf dan ilmu agama. Tidak seperti dirinya yang buta huruf.

Setiap orangtua meminginginkan anaknya menjadi seseorang yang lebih dari dirinya. Tidak ingin menderita seperti dirinya. Begitu juga yang digambarkan dalam cerpen berjudul Ciu Bapak, seorang anak kecil yang menggambarkan bagaimana kelakukan bapaknya. Bapaknya seorang peminum dan suka membanting benda-benda yang ada di sekitarnya setelah mabuk. Namun, di balik sikap kasarnya, bapak anak kecil ini selalu menasihati anaknya. Selain itu, ibunya digambarakan seperti perempuan yang luar biasa, bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.


Selain itu, dalam kumpulan cerpen ini ada juga cerita bagaimana keajaiban menjaga sholat dhuha yang mendatangkan rizki yang tidak terduga. Maha Suci Allah, saat sepeda saya rusak, Allah mengganti dengan yang baru. Saat ponsel saya hilang atau rusak, Allah juga mengganti dengan ponsel yang lebih baik. Bahkan saat saya dililit hutang, selalu saja ada jalan keluar entah itu melalui uluran tangan saudara atau teman atau pun melalui honor tulisan saya yang dimuat. (halaman 64)

Ada juga cerita Tegal-Depok, untuk Sebuah Mimpi. Di mana dalam cerita ini penulis menceritakan bagaimana perjuangannya untuk bisa menjadi seorang penulis. Hingga akhirnya, semua perjuangan akan mendapatkan hasilnya. Dalam cerita ini, penulis juga mencantumkan nasihat dari Mbak Asma Nadia, “Temui dan rangkul orang yang sama semangatnya atau lebih unggul dari kita karena umur kita tidak tahu akan sampai di mana, dengan begitu manfaat rumah baca kita akan lebih berkesinambungan.” (halaman 76)

Buku Bapak karya Sutono Adiwerna terdiri 15 cerita yang menginspirasi. Namun bagi saya, ini bukan sekedar cerita yang menginspirasi, lebih dari itu, yaitu bisa melihat bagaimana kehidupan seorang penulis yang sebenarnya. Dengan buku ini, penulis sebenarnya menulis kisah kehidupannya sendiri. Jadi, walaupun keberadaan kita jauh dengan penulis, setidaknya dari buku ini kita bisa mengetahui kehidupan penulisnya. Point yang perlu dipelajari dari penulis adalah, menulis kisah kehidupan sendiri tidak ada salahnya. Kenapa? Karena dengan kisah hidup sendiri, siapa tahu akan menginspirasi orang lain.

Nah, kalau seperti itu, bagi kalian yang butuh bacaan menginispirasi, buku ini layak untuk kalian beli. Secara peribadi, rekomend. Harganya? Aku lupa. Kalau mau beli, boleh hubungi penulisnya di

Selasa, 09 Agustus 2016

The Power Of Sutono

Judul Buku      : KEMUNING
Penulis               : Sutono Adiwerna
Penerbit                : Puput Happy Publishing
Cetakan                : Cetakan Pertama, November  2013
Isi                         : iv + 100 Halaman; 13 x 19 cm
ISBN                   : 978-602-7806-25-2
Harga                   : Rp 26.000,-



“Kalau kau melintas di Karanganyar, tepatnya tiga kilometer dari gerbang perbatasan antara kota dan kabupaten Tegal, dan engkau mendapati seorang perempuan dengan tubuh ramping berwajah ayu yang tak henti memaki pengguna jalan yang melintas, bisa jadi yang kau jumpai itu Kemuning.”
Penggalan di atas adalah salah satu cerpen karya Sutono Adiwerna yang berjudul Kemuning. Seorang wanita cantik yang bekerja sebagai pelayan warung lesehan. Dilema karena harus memilih diantara dua laki-laki yang memperebutkannya.
Cerpen Kemuning ini adalah cerpen yang sangat nikmat dibaca. Disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan komunikatif, sehingga pembaca merasa tidak berat untuk membacanya dan tidak perlu mencari kosa kata baru karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sehari-hari dipakai dalam bahasa Indonesia.
Latar tempat dalam cerita ini juga digambarkan secara jelas dalam setiap paragraf dan dialog antar tokoh. Terkadang juga Sutono menyertakan bahasa-bahasa daerah seperti tinimbang, jompleng, dan manut. Hal tersebut mendukung latar warung lesehan dengan nuansa Jawa. Sehingga latar yang digambarkan penulis tersampaikan dengan kalimat-kalimat yang ditulisnya.
Namun, akhir cerita dari cerpen ini tidak begitu memuaskan. Bad ending yang menjadi akhir dari cerpen tentunya tidak terlalu diharapkan oleh para pembaca. Terdapat juga paragraf yang memiliki kesamaan kalimat membuat bingung orang yang pertama kali membacanya. Tidak berbeda dengan cerpen Parmin Ingin Naik Haji yang juga ditulis Sutono, memiliki ending dan gaya penulisan yang sama sehingga cerpen-cerpennya mudah ditebak.
Terlepas dari itu semua, cerpen ini sangat bagus dibaca untuk remaja terutama untuk kalangan SMP dan SMA. Terlebih sangat bagus menjadi referensi dalam menulis cerpen.

Resensor : Noval Fariz Mutaqien , Kelas 12 SMA Terpadu Al-Qudwah, Lebak Jawa Barat 

Senin, 18 Juli 2016

Jilbab Traveler dan Eksistansi Dewi Yull

Judul Film : Jilbab Traveler, Love Sparks In Korea
Sutradara : Guntur Soeharjanto 
Pemain : Bunga Citra Lestari, Morgan Oey, Giring Ganesha, Ringgo Agus, Dewi Yull dll
Produksi : Rafi Film 

Sinopsis

 Film dibuka dengan adegan tiga anak kecil Tia, Eron dan Rania yang sedang bermain di rel kereta api Gunung Sahari. Ketiga bersaudara itu meyakini kalau suatu hari mereka bisa bepergian jauh menjelajahi dunia.

Rania Timur ( Bunga Citra Lestari ) gagal menjadi sarjana karena sedari kecil sakit-sakitan mulai dari asma, gigi bermasalah hingga gegar otak.

Tak jadi sarjana tak lantas memupus keinginannya menjelajahi dunia dengan cara menulis. Dari mulai surat, tulisan di media hingga menerbitkan buku banyak buku sehingga Rania sering di undang untuk mengisi acara kepenulisan ke berbagai negara. Meski banyak negara yang telah ia singgahi, Rania masih mempunyai mimpi yakni mengunjungi bumi Palestina.

Saat mengisi acara di sebuah negara, Ibundanya ( Dewi Yull ) meminta Rania pulang karena sang ayah tengah  sakit keras. Raniapun bertolak ke tanah air

Sesampainya di rumah, Rania yang berniat mengubur mimpinya keliling dunia demi merawat sang ayah, justeru di minta ayahnya mengunjungi suatu tempat. Tempat dimana ayah dan ibunya bertemu dan jatuh cinta. Tempat itu bernama Baluran.

Di Baluran, Rania bertemu dengan Alvin ( Ringgo Agus )  dan sahabatnya yang berasar dari Korea, Hyun Gen ( Morgan Oey ). Hyun Gen Bilang, keindahan alam Indonesia tak ada apa-apanya di banding negara Korea Selatan. Karena kesal, Rania mengajak Alvin dan Hyun Gen ke Kawah Ijen.  Singkatnya ketiganya terlena dengan keindahan alam di sana hingga lupa waktu dan kehabisan angkot. Terpaksa Rania bersedia menginap di Home Stay-nya Alvin dan Hyun Gen. Paginya, hati Rania hancur. Ilhan ( Giring ) menjemput dan mengabarkan kalau ayah Rania telah tiada

Berhari. Berminggu. Rania murung dan merasa bersalah. Rasa bersalahnya sedikit berkurang setelah diminta Ilhan mengajar di Sekolah Ibu Pintar, sekolah khusus ibu-ibu buta aksara. Di tempat ini, Rania tak hanya berhasil mengajar membaca ibu-ibu tapi membuat murid-murid di sekolah itu mencintai buku. Ibu-ibu di sekolah itu senang bukan main begitu tahu kalau Mba Guru mereka ternyata seorang penulis terkenal.

Suatu hari, Eron ( Indra Bekti ) tak sengaja menemukan undangan untuk Rania dari Korea. Isinya mengisi pelatihan kepenulisan di sana. Setelah mendapat izin sang Ibu dan izin setengah hati dari Ilhan, bertolaklah Rania ke negeri gingseng. Di sana, Rania ternyata bertemu kembali dengan Hyun Gen. Bagaimana kisah selanjutnya. Dengan siapakah Rania menjatuhkan pilihannya agar ada lelaki yang menemani saat dirinya menjelajah dunia? Hyun Gen ataukah Ilhan? dapatkan jawabannya dengan menonton Film yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini.

Jilbab Traveler dan Eksistansi Dewi Yull

Jilbab Traveler, diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Asma Nadia. Dari segi penyutradaraan, skenerio, gambar, musik JTLSIK cukup bagus dan rapi. Morgan, Ringgo, Bunga Citra Lestari bermain bagus dan natural. Saat Rania memotret dan mengajar di sekolah Ibu Pintar, saya melihat Unge menjadi Mba Asma Banget yang semangatnya luar biasa dan menginspirasi orang-orang sekitarnya. Lebih daripada itu, BCL menurut saya berhasil menyampaikan pesan Rania bahwa jilbab tak menghalangi seseorang perempuan muslimah untuk mengejar cita cita, meraih mimpi.

Tapi yang mencuri hati saya di film ini yakni akting aktris, penyanyi senior Dewi Yull. Tanpa berkata-kata, dengan mimik dan gestur tubuh saja, Dewi bisa menggambarkan senang, sedih, bahagia, setuju dan tidak setuju.

Kilas balik, saya kecil sering ke rumah tetangga yang punya televisi untuk melihat drama Losmen dan dr. Sartika di TVRI, di buku yang pernah ditulis Dewi Yull,berjudul Giska, Dewi mengawali karir di dunia akting pada th 1981 lewat film Gadis. Di karunia dua anak istimewa dan berkebutuhan kusus, tak lantas karirnya meredup. Dewi Yull masih menyanyi bermain film misalnya Kiamat Sudah Dekat dll, termasuk Jilbab Traveler ini.




Selasa, 12 Juli 2016

Halal Bi Halal FLP Tegal di Bumba Resto Slawi

Sampai di Bumbu Bakar Resto Slawi, sekitar jam 9 pagi. Rumah makan yang beralamat di Jl Jendral Sudirman Slawi ini, gerbangnya masih tutup. Saya mengayuh sepeda ke arah Slawi Pos hendak mencari kertas kado. Tak lama, hape berdering. Rupanya SMS  dari Mba Eri, isinya menanyakan apakah kenang-kenangan buat pembicara sudah siap, saya jawab sudah ada, tinggal dibukungkus dengan kertas kado. Nanti Mba Eri bawa kertas kado ya!. Mba Eri mengirim pesan lagi. Ok, nanti Pak Tono bawa solatip ya. Karena tidak membawa solatif, saya pun mencari toko yang menyediakannya. Setelah dapat solatif putih, kecil, saya kembali ke BumBa

Saat tiba di BumBa, gerbang sudah dibuka. Sepeda saya parkirkan. Lama tak berselang, muncul Mba Yulie dari Bogares, rupanya, Mba Yulie pernah bergabung dengan  Flp Johor yang sudah kembali ke kampung halaman. Setelah itu  datang pula Mba Naim dan Mba Yuli dari Songgom, Brebes ( jauh lho ) kemudian datang Mba Isti, setelah itu Mba Puput juga menampakan diri. Setelah Mba Puput tiba dan menghubungi pemilik BumBa Resto, masuklah kami ke Rumah Makan yang menu andalannya Ayam Bakar ini.

Lima belas menit kemudian, Mas Ali Muakhir dan kelurga datang. Sama seperti Halal bi Halal Flp Tegal yang sudah-sudah, beliau sudah di TKP saat pesertanya belum ngumpul.

Mba Puput Membuka acara beberapa menit berselang. Ketika saya diberi kesempatan ngomong, sembari menunggu teman-teman lain datang saya meminta saling mengenalkan diri beserta motivasi datang ke acara Halal Bi Halal dan Talk Show Menjadi Writerpreuner. Tak terasa ketika satu persatu mengenalkan diri dari Mas Ali Muakhir hingga giliran saya, yang datang ke BumBa sudah 20 orang. Alhamdulillah.

Usai saling mengenalkan diri, Mas Ali Muakhir menanyakan bagaimana pertemuan kali ini diisi dengan apa yang teman-teman Flp Tegal hendak tanyakan, ketahui  A to Z tentang kepenulisan. Karena semua sepakat, satu persatu mendapat kesempatan bertanya dan mendapat jawaban yang memuaskan dari penulis serial Ollin ini.

Saya tidak mencatat satu persatu pertanyaan teman-teman Flp Tegal  dan jawaban dari Mas Ali Muakhir. Saya hanya ingat beberapa saja. Inipun sudah tak terjemahkan versi saya sendiri.

FLP T : Bagaimana agar tidak macet dalam menulis cerita?
AM  : Bikin sinopsis ( beda lho dengan blurb yang ada di kaver belakang buku ), kemudian bikin pra finishing, setelah itu casting baru kemudian setting
FLP T: Tips biar tembus media bagaimana?
AM : Baca media yang kita target minimal 6 edisi. Misal kita ingin dimuat di Femina, baca cerpen Femina selama 6 edisi kemudian kupas kelebihan dan kekurangan cerpen di sana.Demikian pula ketika ingin dimuat di Majalah Bobo dll.
 FLP T: Bagaimana dapat uang dari blog?
AM  : Uang dari blog bisa dari adsense, iklan. Untuk itu blog harus dibuat se menarik dan unik. Teman-teman coba bloger untuk ngasih pelatihan, di Tegal ada bloger yang sering dapat endors, iklan namanya Ila Rizki
FLP T: Bagaimana split ( berpindah ) dari menulis genre anak ke genre dewasa atau remaja ?
A M : Kalau saya kumpulan bahan dulu. Biasanya kalau bahan sudah lengkap, menulis lebih mudah kalau semisal diminta bikin cerpen oleh majalah tertentu.
FLP T: Judul itu penting tidak sih?
AM :  Judul penting, tapi yang lebih penting ide dan isi cerita. Biasanya kalau ide dan isi ceritanya ok, judulnya bisa diganti oleh redaktur baik media massa maupun editor penerbit.

Menjelang Adzan dhuhur, acara selesai. Sebelum pulang ke rumah masing-masing kami menyantap menu andalan BumBa Resto Slawi.

Ket : FLP T : teman-teman Flp Tegal, AM : Mas Ali Muakhir






Jumat, 01 Juli 2016

Zian Anak Saleh



                Kriingg... Jam beker berbunyi nyaring. Zian terjaga dari tidurnya. Setelah membaca doa bangun tidur, Zian bergegas menuju kamar mandi. Dengan sedikit berjingkat, Zian yang masih kelas 3 SD ini menekan saklar yang memang dipasang tidak terlalu tinggi. Kemudian Zian memutar kran dan berwudhu.
                Setelah selesai wudhu, Zian berjalan menuju kamar, membentangkan sajadah, kemudian menunaikan salat tahajud dua rakaat lalu salat sunah witir satu rakaat dilanjutkan membaca  surat-surat pendek dari Juz’ama. Biasanya Zian baru menutup tilawahnya jika Pak Jamil ayahnya mengetuk kamar Zian untuk mengajak Zian salat subuh berjamaan di masjid An’nur  yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka
                Zian Adi Perkasa namanya. Masih berumur 9 tahun, siswa SD Budi Pekerti, memang ingin menjadi anak yang saleh. Karena kata Ustad Ali, gurunya di SD tersebut “Doa anak yang saleh dikabulkan oleh Allah Swt”. Zian sudah beberapa bulan terakhir terbiasa salat tahajud sebelum menunaikan salat subuh berjamaah.
                Zian mulai rajin salat tahajud sejak bulan puasa ramadan tahun kemarin. Awalnya sambil menunggu makanan sahur yang dimasak Bu Aisah, bundanya siap disantap, Ayah mengajak Zian salat tahajud terlebih dahulu. Mulanya sih Zian enggan karena dan masih ngantuk. Zian mulai terbiasa dan menyukai salat sunah ini setelah Pak Jamil berujar “salat terutama tahajud bagus untuk kesehatan. Tahajud juga bisa memudahkan orang yang menjalankannya cepat terkabul keinginannya”
                Zian ingin menjadi anak yang saleh. Selain rajin salat, Zian dikenal sebagai anak baik pada siapa saja. Kalau melihat ada teman sekelasnya yang tidak punya uang saku, Zian tak segan untuk membagi dua bekal yang dibawanya dari rumah, atau berbagi kue yang ia beli dari kantin sekolah. Tidak hanya itu, Zian juga selalu sabar mengajari jika ada teman yang mengalami kesulitan dalam membaca atau menghitung. Yah kebetulan Zian belajar di sekolah umum yang menampung semua siswa tanpa melalui tes terlebih dahulu. Jadi jangan heran jika ada teman-teman Zian yang belum begitu lancar membaca maupun menghitung meski sudah kelas 3 SD.
                Zian ingin menjadi anak saleh. Karena kata ustad Ali, doa anak yang saleh akan dikabulkan oleh Allah Swt. Zian tak pernah membentak, menghardik bila ada peminta-minta datang. Kalau Zian kebetulan memegang uang tak segan dirinya akan memberikan ke peminta-minta tersebut. Atau kalau tak punya uang, Zian memberi peminta-minta itu nasi plus lauknya. Atau kalau tak ada yang bisa Zian beri, dirinya akan ngomong baik-baik kepada pengemis atau peminta-minta tersebut.
                Zian ingin menjadi anak yang saleh. Pintar dan baik hati yang disukai banyak orang. Dicintai keluarga, disayangi guru dan teman-teman semuanya.

Oleh Sutono Adiwerna ( dimuat di Radar Bojonegoro 19 juni 2016 )

Minggu, 26 Juni 2016

Keutamaan dan Hikmah Bangun di Waktu Subuh



Judul buku : Penakluk Subuh
Penulis : Muhamad Iqbal
Penerbit : Qultummedia, Jakarta
Cetakan 1 : Maret 2016
ISBN : 978-979-017-336-1

Diantara perkara yang dibenci di kalangan pendahulu kita yang saleh adalah tidur antara selesai salat subuh dan terbitnya matahari ( Ibnul Qayyim )
Buku berjudulu Penakluk Subuh terdiri dari 4 Bab.
Bab pertama mengupas keutamaan waktu pagi. Diantaranya mudah menyerap ilmu. Tak heran jika para ulama terdahulu maupun yang saat ini seringkali mendalami ilmunya pada pagi hari. Ada yang setiap pagi menulis sebanyak 40 halaman selama 40 tahun. Beliau juga membaca berbagai refrensi sejak subuh ( halaman 7 )
M Quraish Shihab usai salat subuh hingga menjelang siang sesibuk apapun, menyempatkan diri untuk menulis
Selain mudah menyerap ilmu, keutamaan waktu pagi lainnya, yakni memudahkan mendapatkan rezeki, waktu yang penuh berkah, menyehatkan dan waktu yang berkualitas untuk baekerja
Bab Kedua di buku ini, membahas kebiasaan orang-orang sukses pada pagi hari. Banyak orang-orang sukses sebut saja Steve Job, Margaret Thatcer, Robert Iger ternyata bangun di waktu subuh ( 4.30 pagi ) . Dengan bangun lebih pagi, kita bisa melakukan banyak hal. Misalnya, olahraga, membaca, sarapan, memotivasi diri, membuat target harian dan lainnya
Bab selanjutnya, mengenai amalan-amalan pada pagi hari. Diantaranya, salat-salat sunah seperti salat tahajud, salat hajat, salat wittir, dan salat duha. Amalan di pagi hari lainnya, berdoa, berzikir, sedekah, bekerja, Qailulah atau istirahat siang
Pada bab terakhir ditututp dengan kumpulan zikir dan doa pada pagi hari
Buku ini menggunakan bahasa yang sederhana, mengalir, enak dibaca dan mudah dipahami. Buku setebal 166 halaman ini dilengkapi dengan tatacara, doa dan hikmah salat-salat sunah seperti tahajud, hajat, wittir, dan duha plus kumpulan doa dan zikir pagi yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Catatan saya, di bab 2 kebiasaan orang-orang sukses di pagi hari terdapat nama-nama Steve Job, Margaret Thatcer dll. Alangkah baiknya kalau diganti atau ditambahi tokoh sukses baik pengusaha, pejabat, penulis yang muslim. Baik dari luar ataupun dalam negeri.
Akhir kata, buku ini sayang untuk dilewatkan oleh siapa saja. Terutama untuk umat muslim yang sekarang tengah menjalankan ibadah puasa. Selamat Membaca