Kamis, 29 September 2016

Malaikat Kecil itupun Pulang


                Senja itu, langit seolah runtuh menimpa tubuh Dahlia. Telpon yang dikiranya akan berisi ucapan selamat hari perkawinan tahun ke delapan dari Haris sang suami yang tengah di luar kota ternyata  berisikan kabar yang membuat semuanya menjadi gelap. Pekat. Mobil yang dikendarai Haris kinasihnya dilindas kereta api saat super kijang yang bahkan belum lunas cicilannya itu melintas di jalur kereta api yang tak berpalang pintu.
                “Mama kenapa nangis. Ada apa dengan Papa” suara Gio membuat Dahlia sadar telah berjam-jam bersandar di dinding, sementara gagang telepon menggantung begitu saja
                “Ada apa dengan Papa Ma” ulang Gio lagi
                “Papa sayang..Papa kecelakaan”
                Bagi Dahlia Gio Pratama adalah malaikat kecil. Gio yang membuat dirinya harus tetap tegar bertahan meski kehilangan yang amat sangat
                “Gio, Papa sudah tak ada, kini kita tinggal berdua. Bantu Mama ya sayang, Gio harus nurut apa kata Mama”ujar Dahlia parau
                “Iya Ma, Gio janji akan menuruti apa saja yang Mama katakan”
                Dan malaikat kecilnya itu benar-benar memenuhi janjinya. Gio penurut, bahkan sangat penurut.  Saa Dahlia mengaharuskan Gio mengaji di surau dekat rumah dia manut. Dahlia membatasi jam menonton film kartun kesukaannya malaikat kecilnya tak banyak membantah. Hal ini tentu saja membuat Dahlia tak merasa sia-sia membanting tulang membuka usaha katering, sesekali mengirim cerpen atau resep ke koran dan majalah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Uang pensiun Haris berusaha tak di otak-atik oleh Dahlia kecuali untuk keperluan sekolah Gio.
                Di sekolah, Gio murid yang cemerlang. Lebih sering menjadi bintang kelas ketimbang meringkat 2 atau 3 dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Di rumah, Gio menjadi teladan anak-anak lainnya. Pinter  di sekolah, rajin mengaji, sopan dan ramah pada semua orang. Sebagai ibu sekaligus ayah semenjak ditinggal Haris, tentu saja Dahlia merasa bangga bercampur bahagia. Padahal  banyak anak yatim lainnya yang tumbuh menjadi anak liar. Ada yang terlibat perkelahian masal,  ada yang terjerat narkoba, dan kenakalan lainnya.
                Gio malaikat kecilnya seolah menurut apa yang Dahlia katakan. Apa yang Dahlia mau,  apa yang Dahlia harapkan.
                Belasan tahun berlalu, Dahlia dan Gio layaknya tim kecil yang kompak. Hingga suatu hari, tepatnya setelah Gio menerima ijazah sekola SMA-nya.
                “Ma , plis, sekali ini saja Gio ingin menuruti kata hati, bukan Mama”
                “Tapi Gio, kamu pintar, nilai-nilaimu bagus. Bahkan masuk jurusan kedokteran-pun Mama yakin Gio bisa. Mengapa musti ngambil jurusan desain graphis?”
                “Pokoknya kalau tak ngambil desain graphis mendingan Gio tak usah kuliah. Titik “
                Semua bermula dari sini. Masa kelam, pekat saat Haris suaminya menghembuskan napas terakhir seperti terulang kembali. Di tempat baru itu, Gio malaikat kecil bagi Dahlia mengenal dan karib dengan Bramantio
                Tentu saja Dahlia tak bepikir macam-macam saat suatu hari, Gio, pulang ke rumah bersama Bram salah satu dosennya di kampus. Dahlia-pun tak curiga saat dosen muda berwajah menawan itu  tak diperbolehkan Gio menempati kamar tamu seperti tamu lainnya dan sekamar dengan anak semata wayangnya. Dahlia pikir, toh tempat tidur Gio terbilang besar, belum lagi Gio juga mempunyai kasur lipat yang biasa dipakai kapan saja.
                Dahlia juga tak berpikir jauh saat melihat tangan Bram kerap merangkul pundak Gio, malaikat kecilnya, Dahlia juga tak curiga saat malalikat kecilnya membuatkan dosennya secangkir cappucino kemudian diminum bersamaan.
                Hingga suatu hari, saat Gio dan Bram pamit ke toko buku, seperti biasanya Dahlia akan merapikan  kamar malaikat kecilnya yang biasanya seperti kapal pecah dan biasanya juga malaikat kecilnya paling malas mengunci pintu kamar saat keluar rumah.
                Begitu kamar terkuak, Dahlia menarik napas lega karena kali ini kamar Gio terlihat lebih rapi. Sebenarnya Dahlia hendak meninggalkan kamar begitu tahu kamar malaikat kecilnya tak lagi seperti kapal pecah. Tapi entah mungkin naluri, Dahlia memasuki kembali kamar Gio. Mata Dahlia menerawang setiap sudut kamar. Tiba-tiba lutut Dahlia menjadi gemetar, kepalanya memberat. Di meja belajar  malaikat kecilnya, berserakan berkeping-keping film biru beraroma cinta sejenis. Bergelatakan pula beberapa karet pelindung yang biasa digunakan kaum adam. Isi perut Dahlia teraangkat paksa. Mual pusing mendera Dahlia.
                Badai bagai berhembus melumat tubuh Dahlia. Rasanya baru saja kemarin Gio, malaikat kecilnya itu masih berupa bayi merah. Rasanya baru kemarin anak yang dibanggakannya memakai peci dan sarung kedodoran pulang mengaji  di surai dekat rumah. Rasanya baru kemarin malaikat kecilnya yang selalu membuat Dahlia tersenyum bahagia, bangga memamerkan nilai-nilai ulangan atau rapotnya yang selalu gemilang. Rasanya…
                Dahlia benar-benar merasa dihimpit benda yang maha berat. Malaikat kecilnya kini berada di persimpangan jalan menurut orang kebanyakan.
                Allah bersamamu jalan tak akan buntu. Tiba-tiba Dahlia teringat kata-kata tersebut. Kata-kata yang selalu di dengungkan Haris suaminya bertahun-tahun lalu. Dahlia segera mengambil wudhu. Dahlia yakin cinta dan kekuatan doa akan membawa malaikat kecilnya kembali ke jalan lempang. Setidaknya dengan doa Dahlia berharap diberi kekuatan, ketegaran agar bisa berbincang dari hati ke hati dengan Gio, malaikat kecilnya nanti.
*****
                “Allah Akbar. Allah Akbar. Allah Akbar ” gema takbir bersahutan. Dari masjid, dari jalan raya, dari musalah, dari mana saja. Dahlia terpekur di atas sajadah. Besok hari fitri. Hari yang seharusnya disambut dengan kebahagian setelah berpuasa sebulan.
                “Allah bersamamu jalan tak akan buntu” Dahlia mengafirmasi diri agar menemukan kembali malaikat kecilnya yang sudah berbulan bulan tak pulang ke rumah. Tak juga memberi kabar
                “kringgg...” HP Dahlia  berdering. Dahlia mengangkatnya. Sebuah nomor tak dikenal memanggil
                “Ma, Assalamualaikum “ Dahlia bergetar mendengar suara yang amat ia kenal. Yang amat ia rindukan
                “Walaikumsalam. Gio sehat, Gio baik baik sajakan?”cecar Dahlia, alih-alih memaki malaikat kecilnya yang lebih memilih meninggalkan rumah demi cinta
                “Ma, Gio kangen Mama, Gio ingin pulang ke rumah. Gio ingin kembali menjadi malaikat kecil Mama. Malaikat kecil yang saleh dan menurut apakata Mama. Maaf lahir batin ya Ma “

                “Allah bersamamu jalan tak kan buntu”. Dahlia tersenyum. Matanya berkaca

NB. Cerpen ini dimuat di tabloid Genie. Tapi, ini versi asli sebelum diedit oleh tabloid Genie. Ohya terimakasih fotonya Mas Risman Latif

Penulis Sutono Adiwerna. Aktifis FLP Tegal, RBA Tegal. Penulis lepas, Guru Eskul Jurnalis. Sesekali mengisi pelatihan kepenulisan. 

Kamis, 15 September 2016

Menanamkan Budi Pekerti Melalui Cerita

Judul Buku : Nyanyian Sasa Angsa dan 14 Cerita Seru Lainnya
Pengarang : Lia Herliana
Penerbit : Rainbow, Penerbit Andi, Yogyakarta
Cetakan 1 : 2016
Tebal : 60 halaman
ISBN : 978-979-29-4455-6

Sasa adalah seeokor angsa yang hobinya menyanyi. Menyanyi  kapan dan di mana saja. Sayangnya, suara Sasa cempreng dan tidak merdu sehingga hewan-hewan lainnya di peternakan Pak Sosro tidak menyukainya
                “Ngook..Ngook “ suara Sasa menyanyi dengan keras
                “Suaramu membuat gigiku tambah sakit” kata Jago, sikuda
                “Sasa, nyanyinya jangan keras-keras dong! Anak-anakku sedang istirahat” ujar Boni si induk ayam
                Mulai mala ini , aku berjanji untuk tidak bernyanyi lagi, gumam Sasa sedih
                Tengah malam , Sasa terbangun tiba-tiba. Ia mendengar gemerisik di dekat gudang. Jangan-jangan itu pencuri, bisik hati Sasa
                “Ngook..Ngoook” terpaksa Sasa melanggar janjinya untuk tidak bernyanyi lagi. Bagaimana kisah Sasa Angsa selanjutnya?
                Cerita seringkali lebih efektif untuk menanamkan budi pekerti, nilai nilai kesetiakawanan, nasionalisme dan kesalehan sosial
                Buku ini berisi 15 cerita yang tidak hanya seru tetapi mengandung pesan-pesan yang sangat kuat. Pada cerita berjudul Nyanyian Sasa, anak-anak sebagai pembaca atau pendengara cerita diharapkan memiliki sipat berani, pandai menempatkan diri saat melakukan sesuatu yang disukainya. Pada cerita Mbah Marto, secara ekspilisit penulis cerita ini menginginkan agar anak-anak memiliki sifat nasionalisme sedini mungkin. Di cerita Kolak Istimewa, pembaca anak diharapkan tergerak untuk memiliki sifat suka berbagi. Berbagi tidak hanya membahagiakan penerima tetapi pemberinya juga. Cerita lainnya di buku ini punya pesan-pesan yang pas sekali untuk pembaca anak
                Kelebihan buku ini, selain kisah-kisahnya seru juga inspiratif. Kelebihan lainnya, ilustrasi di setiap ceritanya indah dan menawan sehingga anak-anak  kita tak jenuh membaca dari awal hingga akhir cerita
                Catatan saya tentang kumpulan cernak ini, masih seperti gado-gado. Ada cerpen yang menceritakan sehari-hari, ada yang fantasi adapula yang berupa dongeng. Kekurangan ini bias jadi sebuah kelebihan karena pembaca bisa mendapat dongeng dan cerpen dalam satu buku
                Terakhir, buku ini cocok buat anak-anak, guru dan orang tua, pendongeng yang ingin menanamkan budi pekerti melalui cerita. Selamat membaca



Peresensi : Sutono , penulis lepas, Aktifis Rumah Baca Asma Nadia Tegal 


Rabu, 14 September 2016

Garnish, Kafe dan Gallery

Judul buku : Garnish
Pengarang : Mashdar Zaenal
Penerbit : de Teens, Diva Press Yogyakarta
Cetakan  1 : April 2016
Tebal : 220 Halaman
ISBN : 978-602-391-126-4

                “Upaya pelik yang kau lakukan akan berbanding lurus dengan kemenangan yang kau rayakan” ( Halaman 121 )
                Sejak kecil Buni menyukai dapur. Baginya dapur adalah tempat dimana cinta dan kedamaian bermuara. Dapur adalah ruangan yang paling istemewa. Sayang, Mamanya tak pernah menyukai anak laki-lakinya berkutat di dapur. Bagi sang Mama, dapur hanya tempat kaum perempuan. Laki-laki lebih cocok bermain bola, bermain music, merakit mesin, atau bercocok tanam.
                Dari kecil hingga menjadi sarjana ekonomi, Buni dan Mamanya terjebak perdebatan , laki-laki pamali mempunyai hobi memasak. Lebih baik ijasah ekonominya untuk mencari pekerjaan . Sedangkan Buni lebih nyaman berkutat di dapur, mencoba resep baru daripada bolak-balik mengirim surat lamaran pekerjaan yang hasilnya nihil.
                Perdebatan itu memuncak ketika Mamanya ulang tahun dan Buni ingin member kado spesial dengan membuatkan nasi goreng istimewa. Bukannya senang dengan hadiah Buni, Mamanya justeru membuang nasi goreng buatan Buni. Buni memutuskan keluar dari rumah Mama dan Papanya. Sebelum meninggalkan rumah, Buni melumuri  dengan caos, kecap ke seluruh tubuhnya.
                Sementara di tempat lain, ada Anin, gadis cantik yang ingin menjadi pelukis. Sayangnya sang Ayah tidak setuju. Menurut Ayahnya, menggambar hanya cocok untuk anak laki-laki.
                Anin menyukai seni rupa sejak kecil. Tepatnya ketika ulang tahun mendiang ibunya membelikan kuas dan sekotak cat air beraneka warna. Sejak itu pula, Anin bermimpi suatu hari lukisannya di pajang di sebuah Gallery. Suatu hari, Anin yang habis kesabaran akibat pengawasan Ayahnya yang terlalu ketat, memutuskan keluar dari rumah besarnya. Sebelum keluar rumah, Anin melumuri tubuhnya dengan aneka warna cat air.
                Di hari itu, Anin dan Buni bertemu di suatu tempat menjelang datang hujan.
                Bagaimana kisah selanjutnya? Akankah Buni-Anin meraih mimpinya masing-masing? Akankah Buni mendapatkan dukungan dari Sang Mama?
                Garnish menyasar pembaca remaja. Ditulis dengan diksi yang indah khas Mashdar Zaenal yang dikenal dengan cerpen-cerpennya yang lembut  tetapi mengalir dan mudah dipahami.
                Alurnya rapat, konfliknya dari awal hingga akhir cerita terjaga. Karakter-karakter yang ada di novel ini sangat kuat dan filmis
                Kelebihan lainnya, novel setebal 220 halaman ini berkaver dan layoutnya yang unik dan menarik
                Garnish, sayang untuk dilewatkan terutama anda yang penikmat fiksi. Selamat membaca.


Resensor : Sutono Adiwerna, Ketua Flp Tegal. Penulis lepas

Senin, 22 Agustus 2016

Dalam Cahaya Temaram


                Koridor  SMU Tiga mulai senyap. Har melangkah dengan gontai.  Di benaknya masih terngiang-ngiang kata-kata Pak Tugiman sebelum dirinya meninggalkan kelas XII Sos 1.
                “Har, minggu depan ujian nasional. Sampaikan sama bapakmu, tunggakan SPP-nya segera dilunasi”
                “Kalau belum lunas, artinya saya batal ikut UNAS  Pak?”
                “Bisa jadi. Kalaupun boleh ikut, kamu harus antri kartu sementara. Bapak sih berharap semua siswa SMU Tiga fokus mengerjakan soal-soal  saja. Tidak ada yang berdesakan mengambil kartu sementara”
                Angin siang menjelang sore bertiup sepoi. Har mendengus kesal ketika mendapati tulisan di dinding perpustakaan “ SETIAP WARGA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN”
                “ Mas Har..tunggu!” Har menghentikan langkahnya. Seorang gadis berjilbab melangkah dengan tergesa-gesa. Nia adalah sepupunya yang duduk di kelas sepuluh.
                “Kok mukanya kusut gitu Mas? Ada masalah?” tanya Nia setelah langkah mereka agak berjajar. Har menjawab dengan anggukan kepala
                “Ayolah cerita. Siapa tahu Nia bisa ngebantu
                “Masalahku apalagi kalau bukan soal SPP menunggak”curhat Har akhirnya
                “Apa perlu Nia minta bantuan Ayah. Minggu depan Mas Har UNAS kan?” Nia meminta persetujuan. Har menggelengkan kepala
                “Kamu dan Lik Sarpan sudah banyak membantu kami.  Lik Sarpan yang ngasih uang waktu daftar ulang saat bapak kebingungan cari uang untuk daftar ulang masuk SMU Tiga. Hampir setahun ini aku juga nebeng matic kamu”
                “Mas Har, kita kan saudara. Guna saudara kan saling membantu satu sama lainnya”
                “Pokoknya aku ndak mau ngerepotin kamu dan Lik Sarpan lagi. Titik” tegas Har. Nia mengulurkan kontak motor maticnya
***
                Magrib hampir datang. Har sedang sibuk memasukan dan menata  kerupuk-kerupuk mie ke dalam plastik besar berwarna bening.
                “Belum pulang Har?”tanya Lik Yanto pemilik pabrik kerupuk mie tempat Har bekerja sepulang sekolah
                “Sebentar lagi Lik. Mmm. Lik, minggu depan Har ujian nasional. Mungkin Har selama seminggu tidak masuk kerja”
                “Padahal pemesan kerupuk sedang banyak-banyaknya Har. Tapi karena ujian, Lik kasih ijin. Belajar yang rajin dan tekun ya! Jangan lupa berdoa.”
                “Lik...”
                “Hmmm..”
                “Har mau pinjam uang buat melunasi SPP. Ada Lik?”
                “Har..Har..kamukan tahu kemarin Lik habis nyetok tepung topioka. Kalaupun sisa, kan buat gajian kamu dan karyawan lainnya”
                “Tapi Lik..”
                “Har, hutangmu masih banyak. Tapi karena kamu butuh uang, gajian kamu minggu ini tidak Lik potong. Bagaimana? Lik Sarpan memberi jalan tengah. Mau tak mau Har menganggukan kepala sebelum akhirnya berpamitan pulang.
                Har sampai di rumahnya bertepatan kumandang adzan dari musala Nurhidayah
                “Baru pulang Har?” tanya Pak Karso, ayahnya.
                “Inggih Pak “ jawab Har singkat
                “Har kamu gajian?” tanya Pak Karso sembari memakai peci hitam, bersiap-siap menuju musalah. Har menganggukan kepala. “ Bapak pinjam Rp.30.000. Ada?”
                “Ngapunten Pak, uang Har nantinya buat bayar tunggakan SPP. Itupun belum lunas”
                “Yo wis, buat bayar SPP dulu. Maafkan Bapak ya Har! Harusnya kamu dan Ed tugasnya belajar dan sekolah saja. Kalian malah bekerja sepulan sekolah. Bapak memang bukan bapak yang baik”
                “Bapak nggak boleh ngomong seperti itu. Semenjak Ibu meninggal, Bapak bekerja keras menjadi ayah sekaligus ibu buat kita”
***
                Mentari pagi yang seharusnya hangat dan segar terasa begitu terik dan menyengat bagi Har dan murid-murid kelas XII yang berdesakan demi mendapatkan kartu sementara agar bisa ikut ujian. Sementara itu, teman-temannya yang berasal dari kalangan berada tengah asyik membaca dan mengerjakan soal demi soal yang ada di kertas ujian
                Har menarik napas lega setelah kartu sementara yang didapatnya dengan susah payah berhasil dalam genggaman.  Har berlari menuju ruang ujian setelah berkali-kali mengucap syukur
                Begitu sampai di kelas, setelah menyapa guru penjaga, Har menuju bangkunya.
***
                Magrib belum tiba. Lampu-lampu di rumah Har belum menyala. Ya, rumah Har memang belum pasang listrik sendiri, tapi menyalur di rumah Mak Saedah yang rumahnya berada di belakang  rumah mereka.
                “Pak tumben kok Mak Saedah belum nyalain lampu? Bakda magribkan Har harus belajar”
                “Sabar ya Har, sementara saluran listrik rumah ini diputus. Kalau sudah bayar baru disambung lagi”
                “Tapi Pak, Mas Har kan besok ujian. Kasian kan?”sela Ed yang sudah memakai sarung, baju koko dan peci.
                “Tadi Bapak juga sudah ngomong agar jangan diputus dulu. Maafkan Bapak ya Har, Ed. Bapak memang orang tua yang tak berguna”
                Suasana hening.  Ed dan Har menyesal telah membuat bapaknya sedih.
                “Pak, Ed, daripada bengong, mending kita cari dimana lampu-lampu teplok. Ed, sebelum ke musalah, tolong belikan minyak tanah di toko SARI. Seingatku di sana ada minyak tanah. Uangnya ada di saku seragam Mas Har.”
                “Beres Bos “
***
                Malam ini rumah Har nampak lenggang. Selain cahayanya yang temaram, Ed sedang ke rumah Bas sahabatnya. Pak Karso sedang ke rumah Bu Gendi, hendak mengambil upah buruh macul selama 3 hari. Hanya Har yang sedang berjibaku dengan tumpukan buku catatan dan buku paket pelajaran.
                Dalam Cahaya Temaram, Har beruajar berkali-kali. Di dalam hati. Har berjanji, agar belajar sebaik mungkin. Akan berusaha sekuat mungkin agar hari esok dirinya dan keluarganya hidup lebih baik lagi. Dalam Cahaya Temaram, Har tak putus berdoa  kepada Allah agar besok diberi kemudahan mengerjakan soal-soal ujian..


Keterangan, Cerpen ini  pernah
dimuat di Minggu Pagi, KR grup.




Jumat, 19 Agustus 2016

Hidup Butuh Perjuangan

Judul                  : BAPAK
Penulis               : Sutono Adiwerna
Penerbit              :Puput Happy Publishing
Tahun                 : Pebruari 2015
Jumlah                : 83 halaman
ISBN                  : 978-602-7806-33-7
Peresensi            : M. Madun Anwar, beralamat Jln. Ketapang, Desa Madayin (Bayan) Kec. Sambelia (83656), Lombok Timur, NTB.

Beliau selalu berpesan kepada anak-anaknya agar melek huruf dan ilmu agama. Tidak seperti dirinya yang buta huruf.

Setiap orangtua meminginginkan anaknya menjadi seseorang yang lebih dari dirinya. Tidak ingin menderita seperti dirinya. Begitu juga yang digambarkan dalam cerpen berjudul Ciu Bapak, seorang anak kecil yang menggambarkan bagaimana kelakukan bapaknya. Bapaknya seorang peminum dan suka membanting benda-benda yang ada di sekitarnya setelah mabuk. Namun, di balik sikap kasarnya, bapak anak kecil ini selalu menasihati anaknya. Selain itu, ibunya digambarakan seperti perempuan yang luar biasa, bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.


Selain itu, dalam kumpulan cerpen ini ada juga cerita bagaimana keajaiban menjaga sholat dhuha yang mendatangkan rizki yang tidak terduga. Maha Suci Allah, saat sepeda saya rusak, Allah mengganti dengan yang baru. Saat ponsel saya hilang atau rusak, Allah juga mengganti dengan ponsel yang lebih baik. Bahkan saat saya dililit hutang, selalu saja ada jalan keluar entah itu melalui uluran tangan saudara atau teman atau pun melalui honor tulisan saya yang dimuat. (halaman 64)

Ada juga cerita Tegal-Depok, untuk Sebuah Mimpi. Di mana dalam cerita ini penulis menceritakan bagaimana perjuangannya untuk bisa menjadi seorang penulis. Hingga akhirnya, semua perjuangan akan mendapatkan hasilnya. Dalam cerita ini, penulis juga mencantumkan nasihat dari Mbak Asma Nadia, “Temui dan rangkul orang yang sama semangatnya atau lebih unggul dari kita karena umur kita tidak tahu akan sampai di mana, dengan begitu manfaat rumah baca kita akan lebih berkesinambungan.” (halaman 76)

Buku Bapak karya Sutono Adiwerna terdiri 15 cerita yang menginspirasi. Namun bagi saya, ini bukan sekedar cerita yang menginspirasi, lebih dari itu, yaitu bisa melihat bagaimana kehidupan seorang penulis yang sebenarnya. Dengan buku ini, penulis sebenarnya menulis kisah kehidupannya sendiri. Jadi, walaupun keberadaan kita jauh dengan penulis, setidaknya dari buku ini kita bisa mengetahui kehidupan penulisnya. Point yang perlu dipelajari dari penulis adalah, menulis kisah kehidupan sendiri tidak ada salahnya. Kenapa? Karena dengan kisah hidup sendiri, siapa tahu akan menginspirasi orang lain.

Nah, kalau seperti itu, bagi kalian yang butuh bacaan menginispirasi, buku ini layak untuk kalian beli. Secara peribadi, rekomend. Harganya? Aku lupa. Kalau mau beli, boleh hubungi penulisnya di

Selasa, 09 Agustus 2016

The Power Of Sutono

Judul Buku      : KEMUNING
Penulis               : Sutono Adiwerna
Penerbit                : Puput Happy Publishing
Cetakan                : Cetakan Pertama, November  2013
Isi                         : iv + 100 Halaman; 13 x 19 cm
ISBN                   : 978-602-7806-25-2
Harga                   : Rp 26.000,-



“Kalau kau melintas di Karanganyar, tepatnya tiga kilometer dari gerbang perbatasan antara kota dan kabupaten Tegal, dan engkau mendapati seorang perempuan dengan tubuh ramping berwajah ayu yang tak henti memaki pengguna jalan yang melintas, bisa jadi yang kau jumpai itu Kemuning.”
Penggalan di atas adalah salah satu cerpen karya Sutono Adiwerna yang berjudul Kemuning. Seorang wanita cantik yang bekerja sebagai pelayan warung lesehan. Dilema karena harus memilih diantara dua laki-laki yang memperebutkannya.
Cerpen Kemuning ini adalah cerpen yang sangat nikmat dibaca. Disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan komunikatif, sehingga pembaca merasa tidak berat untuk membacanya dan tidak perlu mencari kosa kata baru karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sehari-hari dipakai dalam bahasa Indonesia.
Latar tempat dalam cerita ini juga digambarkan secara jelas dalam setiap paragraf dan dialog antar tokoh. Terkadang juga Sutono menyertakan bahasa-bahasa daerah seperti tinimbang, jompleng, dan manut. Hal tersebut mendukung latar warung lesehan dengan nuansa Jawa. Sehingga latar yang digambarkan penulis tersampaikan dengan kalimat-kalimat yang ditulisnya.
Namun, akhir cerita dari cerpen ini tidak begitu memuaskan. Bad ending yang menjadi akhir dari cerpen tentunya tidak terlalu diharapkan oleh para pembaca. Terdapat juga paragraf yang memiliki kesamaan kalimat membuat bingung orang yang pertama kali membacanya. Tidak berbeda dengan cerpen Parmin Ingin Naik Haji yang juga ditulis Sutono, memiliki ending dan gaya penulisan yang sama sehingga cerpen-cerpennya mudah ditebak.
Terlepas dari itu semua, cerpen ini sangat bagus dibaca untuk remaja terutama untuk kalangan SMP dan SMA. Terlebih sangat bagus menjadi referensi dalam menulis cerpen.

Resensor : Noval Fariz Mutaqien , Kelas 12 SMA Terpadu Al-Qudwah, Lebak Jawa Barat 

Senin, 18 Juli 2016

Jilbab Traveler dan Eksistansi Dewi Yull

Judul Film : Jilbab Traveler, Love Sparks In Korea
Sutradara : Guntur Soeharjanto 
Pemain : Bunga Citra Lestari, Morgan Oey, Giring Ganesha, Ringgo Agus, Dewi Yull dll
Produksi : Rafi Film 

Sinopsis

 Film dibuka dengan adegan tiga anak kecil Tia, Eron dan Rania yang sedang bermain di rel kereta api Gunung Sahari. Ketiga bersaudara itu meyakini kalau suatu hari mereka bisa bepergian jauh menjelajahi dunia.

Rania Timur ( Bunga Citra Lestari ) gagal menjadi sarjana karena sedari kecil sakit-sakitan mulai dari asma, gigi bermasalah hingga gegar otak.

Tak jadi sarjana tak lantas memupus keinginannya menjelajahi dunia dengan cara menulis. Dari mulai surat, tulisan di media hingga menerbitkan buku banyak buku sehingga Rania sering di undang untuk mengisi acara kepenulisan ke berbagai negara. Meski banyak negara yang telah ia singgahi, Rania masih mempunyai mimpi yakni mengunjungi bumi Palestina.

Saat mengisi acara di sebuah negara, Ibundanya ( Dewi Yull ) meminta Rania pulang karena sang ayah tengah  sakit keras. Raniapun bertolak ke tanah air

Sesampainya di rumah, Rania yang berniat mengubur mimpinya keliling dunia demi merawat sang ayah, justeru di minta ayahnya mengunjungi suatu tempat. Tempat dimana ayah dan ibunya bertemu dan jatuh cinta. Tempat itu bernama Baluran.

Di Baluran, Rania bertemu dengan Alvin ( Ringgo Agus )  dan sahabatnya yang berasar dari Korea, Hyun Gen ( Morgan Oey ). Hyun Gen Bilang, keindahan alam Indonesia tak ada apa-apanya di banding negara Korea Selatan. Karena kesal, Rania mengajak Alvin dan Hyun Gen ke Kawah Ijen.  Singkatnya ketiganya terlena dengan keindahan alam di sana hingga lupa waktu dan kehabisan angkot. Terpaksa Rania bersedia menginap di Home Stay-nya Alvin dan Hyun Gen. Paginya, hati Rania hancur. Ilhan ( Giring ) menjemput dan mengabarkan kalau ayah Rania telah tiada

Berhari. Berminggu. Rania murung dan merasa bersalah. Rasa bersalahnya sedikit berkurang setelah diminta Ilhan mengajar di Sekolah Ibu Pintar, sekolah khusus ibu-ibu buta aksara. Di tempat ini, Rania tak hanya berhasil mengajar membaca ibu-ibu tapi membuat murid-murid di sekolah itu mencintai buku. Ibu-ibu di sekolah itu senang bukan main begitu tahu kalau Mba Guru mereka ternyata seorang penulis terkenal.

Suatu hari, Eron ( Indra Bekti ) tak sengaja menemukan undangan untuk Rania dari Korea. Isinya mengisi pelatihan kepenulisan di sana. Setelah mendapat izin sang Ibu dan izin setengah hati dari Ilhan, bertolaklah Rania ke negeri gingseng. Di sana, Rania ternyata bertemu kembali dengan Hyun Gen. Bagaimana kisah selanjutnya. Dengan siapakah Rania menjatuhkan pilihannya agar ada lelaki yang menemani saat dirinya menjelajah dunia? Hyun Gen ataukah Ilhan? dapatkan jawabannya dengan menonton Film yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini.

Jilbab Traveler dan Eksistansi Dewi Yull

Jilbab Traveler, diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Asma Nadia. Dari segi penyutradaraan, skenerio, gambar, musik JTLSIK cukup bagus dan rapi. Morgan, Ringgo, Bunga Citra Lestari bermain bagus dan natural. Saat Rania memotret dan mengajar di sekolah Ibu Pintar, saya melihat Unge menjadi Mba Asma Banget yang semangatnya luar biasa dan menginspirasi orang-orang sekitarnya. Lebih daripada itu, BCL menurut saya berhasil menyampaikan pesan Rania bahwa jilbab tak menghalangi seseorang perempuan muslimah untuk mengejar cita cita, meraih mimpi.

Tapi yang mencuri hati saya di film ini yakni akting aktris, penyanyi senior Dewi Yull. Tanpa berkata-kata, dengan mimik dan gestur tubuh saja, Dewi bisa menggambarkan senang, sedih, bahagia, setuju dan tidak setuju.

Kilas balik, saya kecil sering ke rumah tetangga yang punya televisi untuk melihat drama Losmen dan dr. Sartika di TVRI, di buku yang pernah ditulis Dewi Yull,berjudul Giska, Dewi mengawali karir di dunia akting pada th 1981 lewat film Gadis. Di karunia dua anak istimewa dan berkebutuhan kusus, tak lantas karirnya meredup. Dewi Yull masih menyanyi bermain film misalnya Kiamat Sudah Dekat dll, termasuk Jilbab Traveler ini.