Kamis, 01 Desember 2016

Menantu, Mertua dan Tabib

Alkisah ada seorang perempuan muda. Perempuan tersebut tinggal bersama mertuanya yang menurutnya cerewet, rewel dan suka ikut campur. Apa saja yang dilakukan perempuan itu, salah di mata mertuanya. Masakannya tak sedap, dandannya teralalu menor, tak tahu adat dan komentar negatif lainnya. Ketika perempuan muda mengadukan hal ini kepada suaminya, sang suami cuma bisa bilang sabar, sabar dan sabar

Merasa tak kuat dengan tingkah laku ibu mertuanya, perempuan muda itu mendatangi seorang tabib. Kepada tabib itu, perempuan muda tersebut meminta ramuan agar ibu mertuanya mati secara perlahan. Sebelum perempuan muda meninggalkan rumah praktek tabib, tabib itu berpesan, " jangan lupa taburi ramuan itu ke makanan, minuman mertuamu. Selama ibu mertuamu masih hidup, berpuralah menjadi menantu yang baik. Iyakan semua perkataannya. Dalam 4 minggu tunggu hasilnya ya anakku"

Singkat kata, perempuan muda itu dengan telaten memberi makanan, minuman  kepada ibu mertuanya. Tak hanya itu, perempuan muda itu juga menuruti apa saja yang dikatakan ibu mertuanya. Kalau kata ibu mertua masakannya terlalu asin, keesokan  harinya perempuan itu mengurangi garam saat memasak dan lainnya. Singkatnya, perempuan muda itu pura pura manis, menurut kepada ibu mertuanya.

Hari berganti, minggu berlalu. Suatu hari tanpa sengaja perempuan muda itu mendengar ibu mertuanya berbicara pada anaknya ( suami perempuan muda ) " Nak, sekarang istrimu berubah. Istrimu penurut, salehah. Ibu sayaaanggg sekali dengan istrimu. Dalam salat, ibu berdoa semoga kita semua kelak berkumpul di surga "

Deg...perempuan itu kaget. Terharu. Merasa menyesal. Di dalam kamar, perempuan muda itu menangis tersedu, bergetar memohon ampun kepada Allah Swt . Diam-diam, perempuan muda itu, mulai pula mencintai ibu mertuanya. Dan tak ingin ibu mertuanya mati ditangannya.

Perempuan muda itupun mendatangi rumah tabib. " Ya Tabib, berikan penawar kepadaku. Aku sekarang sayang pada ibu mertuaku. Ibu mertua juga sayang padaku  Ya Tabibbb. Tolong akuuu"

Sang tabib tersenyum. " Anakku, syukurlah mata hatimu telah terbuka. Anakku, sebenarnya ramuan yang kuberikan padamu dahulu, adalah ramuan kesehatan. Pulanglah cium kaki ibu mertuamu "

NB. Terinspirasi Kisah Teladan yang di sampaikan OSD ( Oki Setiana Dewi ) di Islam itu Indah. Foto,
sumber internet

Sabtu, 19 November 2016

Cinta Sejati Laki-laki Biasa

                Judul Buku : Cinta Laki-Laki Biasa
            Pengarang : Asma Nadia dkk
            Penerbit : Asma Nadia Publishing House, Depok
            Cetakan Pertama : Juni 2016
            ISBN : 978-602-9055-45-0

                Saat Nania memutuskan bersedia dipersunting Rafli, bertubi-tubi keluarga dan teman-temannya berusaha mengubah keputusan gadis cantik itu
                Betapa tidak? Nania hampir punya segalanya. Wajah yang cantik, cerdas, terpelajar dan berasal dari keluarga yang kaya raya. Sedang Rafli? Hanya laki laki biasa tidak seperti dokter Tio yang lulusan kampus terbaik di Jerman, memiliki rupa dan penampilan seperti model
                Nania kukuh dengan keputusannya menikah dengan Rafli, lelaki biasa, dari keluarga biasa, wajah biasa dengan pekerjaan dan juga gaji yang  amat biasa.
                Hingga bilangan tahun ke 10, teman-teman dan keluarganya masih menyayangkan keputusan Nania menikahi Rafli dan Nania tetap bertahan.
                Badai datang saat Nania mengandung anak ketiganya.
                Saat hendak melahirkan, kandungan Nania bermasalah. Memang bayi Nania lahir sehat dan selamat tetapi Nania koma, tak siuman hingga seminggu lebih lamanya yang menyebabkan tubuh Nania tak lagi sempurna. Bagaimana kisah selanjutnya?
                Cinta Laki Laki Biasa, merangkum 18 cerpen karya pemenang lomba Cinta Dalam Aksara yang diikuti kurang lebih 5000 penulis cerpen.
                Selain cerpen Cinta Laki Laki Biasa yang memikat karena  alur dan konfliknya terjaga  karya Asma Nadia, ada banyak cerita romantis dan inspiratif di dalamnya seperti, cerpen bertajuk  Suatu Senja di Alun alun Kota ( Sutono Adiwerna ) , Lirih ( Wiwik Waluyo ), Badrun Ingin Menjadi Batu ( Seto Permada )  Batu Cinta (  Yus R Ismail  ), Telor Dadar  ( Dita HC ), 30 Menit  ( Isa Alamsyah ) dan lain lainnya.
                Kelebihan lainnya,  buku ini dibumbui kutipan indah, kaver dan layout buku yang memikat. Terakhir tak ada gading yang tak retak pasti cerpen-cerpen di buku ini ada satu, dua yang  kurang dari sempurna. Tapi, semoga menumbuhkan semangat akan cinta sejati dan melarutkannya dalam doa-doa. Selamat membaca


                Penulis Resensi : Sutono

            Pekerjaan : Penulis lepas, Guru eskul jurnalistik dan aktivis Rumah Baca di Kab Tegal

NB. Resensi ini, dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 19 Nov 2016

Jumat, 04 November 2016

Katib Jumat 4-11-206


Saat Rasul hijrah ke Thaif, banyak yg menghina, mencaci bahkan ada juga yg melempari Rasul dgn kotoran manusia. Melihat ini, Jibril menawarkan untuk membalikan gunung agar para pembeci binasa. Apa kata Rasul? jangan lakukan itu Jibril, sesungguhnya mereka belum tahu.

Kisah lainnya, suatu hari Rasul menyuruh utusannya memberi surat yg isinya agar raja Kisran melangitkan kalimat Allah. Tetapi raja tersebut menolak dan menyobek nyobek surat itu. Mendengar itu, Rasul amat tersinggung dan berdoa agar wilayah raja itu tersobek sobek. dikemudian hari, wilayah raja itu hancur karena satu persatu memisahkan diri..

Menurutku katibnya keren, up to date. karena pas tanggal ini, di Jakarta berlangsung Aksi Damai yang diikuti ribuan muslim dari berbagai ormas dan daerah. Adapun tujuan unjuk rasa damai ini adalah agar pemerintah menindaklajuti dugaan Penistaan agama yang dilakukan gubenur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama atau Ahok 

Jumat, 14 Oktober 2016

Kisah Bersama FLP Tegal



            Perjumpaan

                Minggu di siang yang terik menyengat. Setelah mengayuh sepeda ontel satu jam lamanya, akhirnya saya sampai di rumah seorang penulis. Penulis yang alamatnya saya dapatkan dari majalah Annida itu bernama Sinta Yudisia. Cerpennya yang berjudul Gadis Kota Jerush menjadi pemenang lomba menulis cerpen yang diadakan majalah remaja islami tersebut.

                Aku  bersyukur Mba Sinta dan Mas Agus, suaminya menyambut kedatanganku. Setelah berpamitan, Mba Sinta memberi brosur info lomba menulis cerpen remaja yang diselenggarakan Forum Lingkar Pena cabang Tegal

                Siang yang terik itu adalah awal mula perjalanan mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Ohya tahun 2006 itu,saya adalah karyawan toko besi yang terkadang angkut material seperti pasir, batu dan semen. Sore harinya saya menjadi loper atau penghantar koran sore terbitan kota Semarang

Spirit


                Beberapa minggu kemudian, saya datang ke acara pengumuman lomba cerpen dan talk show Berani Menjadi Penulis dengan pemateri Boim Lebon dan Ali Muakhir. Dari acara itu, meskipun cerpen saya tak menang, saya bersyukur selain dapat ilmu juga bisa bergabung menjadi anggota FLP Tegal
                Sebulan sakali, di hari minggu  jika ada pertemuan rutin FLP, aku berusaha datang. Kegiatan lain biasanya saya tunda, kecuali kalau kegiatan lain itu amat sangat penting.

                Awal bergabung sebenarnya minder karena sebagian besar anggota FLP Tegal pintar-pintar. Asal tahu saja,  selain nol besar dalam menulis, leadership saya payah. Tak hanya itu, jangankan komputer, mengetik di HP saja waktu itu saya belum pernah. Belum lagi sebagian besar bawa motor, saya naik sepeda. Kuno pula

                Tapi semangat  untuk menjadi penulis demikian membaja . Selain datang ke pertemuan rutin, saya mulai banyak membaca buku lagi dengan sering berkunjung ke perpustakaan daerah. Saya juga mulai kursus komputer dari awal banget, mengetik 10 jari buta.

                Allah memberi jalan lapang buat umatnya yang terus berusaha.  Cerpen yang saya buat yang awalnya kata Mba Sinta mentah, kaku dan tidak mengalir, setengah tahun kemudian menurut beliau cerpen saya mulai mengalir dan enak di baca. Tahun ini, tulisan saya  yang sehalaman kartu pos di muat di Majalah Annida lho. Alhamdulillah
Gamang
                Seperti itik yang kehilangan induknya. Mungkin itu gambaran yang pas buat saya dan teman-teman FLP Tegal kala itu. Kami yang sedang asyik-asyik belajar menulis cerpen, puisi berita dari FLP Tegal, tiba-tiba harus di tinggal Mba Sinta yang harus ikut suaminya yang dipindah tugaskan ke Surabaya

                Pada waktu itu, memang Mba Sinta lah yang berjuang keras sendiri. Kami para anggota hanya tinggal datang saja jika ada acara. Pembicara, konsumsi, acara semua di pegang Mba Sinta. Dampaknya, FLP Tegal  terpaksa tak bergerak setelah ditinggal Mba Sinta

                Semangat ingin  menjadi penulis tak juga padam. Saya belajar menulis dari mana saja. Kemana saja. Saya rutin membaca majalah Annida dan Horison. Karena dua majalah itu banyak cerpennya dan ada rubrik konsultasi tentang menulisnya. Kalau ke perpustakaan daerah, buku yang kerap saya baca, buku- buku tentang kepenulisan.
                Tak hanya itu,saya juga sering ke Brebes jika ada pertemuan rutin atau acara yang diadakan, FLP Brebes yang kala itu diketuai Mbak Titaq, Mutaqwiati. Tahun 2007 kali pertama dapat honor dari menulis karena tulisan saya dimuat di majalah Tarbawi, rubrik KIAT. Alhamdulillah.

                Saya gamang lagi ketika Mba Titaq juga pindah ke Ngawi karena orang tuanya di sana sudah berusia senja.
Harapan Baru
                Saya tahu untuk menjadi penulis yang diperlukan adalah banyak membaca, menulis kemudian mengirimkannya ke media atau penerbit. Tapi Mba Sinta dan teman teman FLP Tegal membuat saya kangen saat berdiskusi, saat satu persatu mengumpulkan tulisan kemudian dibedah satu-satu. Kangen saat FLP Tegal mengundang penulis lokal maupun nasional untuk memberikan ilmu

                Suatu hari, saya mendapat telpon dari Fani Rosa yang baru lulus kuliah. Saat kuliah, Fani adalah aktifis FLP di kampusnya. Dia mengajak saya dan teman-teman lain  termasuk Yustia Hapsari, anggota FLP Tegal saat Mba Sinta ketua untuk menghidupkan kembali FLP Tegal

                Singkatnya, awal tahun 2009 FLP Tegal resmi berdiri lagi dengan diawali work shop menulis yang mengundang Alm SN Ratmana dan Pemred Radar Tegal.

                Dari acara ini bergabunglah Ali Irfan yang pengalaman menulisnya paling panjang dari kami semua yang ada. Suatu minggu, kami sepakat memilih Ali Irfan menahkodai rumah besar FLP Tegal

                Di tangannya FLP Tegal alhamdulillah tidak hanya di kenal luas Tegal dan Kab Tegal, kami beberapa kali mengadakan acara yang tergolong wah diantaranya mengundang SN Ratmana, Kurnia Efendi, Aries Adenata, Rahman Hanifan, Afifah Afra, dan lain-lain. FLP Tegal juga berhasil menerbitkan dua buku. Antolog Cerpen Akulah Pencuri Itu dan Lolong Lelaki Lansia.
                Setelah periode Ali Irfan, estafet dipegang oleh Eri Fitniati, guru yang juga mantan sekertaris FLP Semarang.

Epilog
                Dua kali masuk bursa calon ketua FLP Tegal, alhamdulillah yang terpilih akhirnya Ali Irfan kemudian Eri Fitniati

                Saat periode kepemimpinan Eri Fitniati berakhir dan tidak mau diperpanjang lagi,dengan laegawa saya bersedia kemudian menjadi ketua FLP Tegal periode sekarang. Alasannya, saya nggak ingin FLP Tegal yang sudah berjalan harus tiarap lagi karena tidak ada ketuanya. Saya berharap, suatu hari nanti muncul penulis seperti Ali Irfan dan Eri Fitniati. Amiin.

                Saya butuh FLP, FLP Tegal. Karena FLP Telah mengajarkan banyak hal. Tidak hanya tulis menulis. Saya belajar tentang leader shep, marketing dan tentu saja saya mulai belajar lagi tentang Islam.
                Dari rahim FLP Tegal sekarang lahir penulis-penulis Tegal mulai dari Ali Irfan, Fani Rosa, Yustia Hapsari, Irfan Fauzi, Puput Happy, Nur Istiqomah dan lain-lain. FLP Tegal juga menjembatani saya bertemu penulis penulis besar seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Kang Abik, Gola Gong dan masih banyak lainnya

                Mengutip kata Datuk Taufik Ismail, Forum Lingkar Pena Adalah Anugerah terindah dari Allah untuk Indonesia.



Penulis, Sutono Adiwerna, Penulis, Ketua Flp Tegal. 

 NB. Maaf jika ada nama yang terlewat, tercatat.



Kamis, 29 September 2016

Malaikat Kecil itupun Pulang


                Senja itu, langit seolah runtuh menimpa tubuh Dahlia. Telpon yang dikiranya akan berisi ucapan selamat hari perkawinan tahun ke delapan dari Haris sang suami yang tengah di luar kota ternyata  berisikan kabar yang membuat semuanya menjadi gelap. Pekat. Mobil yang dikendarai Haris kinasihnya dilindas kereta api saat super kijang yang bahkan belum lunas cicilannya itu melintas di jalur kereta api yang tak berpalang pintu.
                “Mama kenapa nangis. Ada apa dengan Papa” suara Gio membuat Dahlia sadar telah berjam-jam bersandar di dinding, sementara gagang telepon menggantung begitu saja
                “Ada apa dengan Papa Ma” ulang Gio lagi
                “Papa sayang..Papa kecelakaan”
                Bagi Dahlia Gio Pratama adalah malaikat kecil. Gio yang membuat dirinya harus tetap tegar bertahan meski kehilangan yang amat sangat
                “Gio, Papa sudah tak ada, kini kita tinggal berdua. Bantu Mama ya sayang, Gio harus nurut apa kata Mama”ujar Dahlia parau
                “Iya Ma, Gio janji akan menuruti apa saja yang Mama katakan”
                Dan malaikat kecilnya itu benar-benar memenuhi janjinya. Gio penurut, bahkan sangat penurut.  Saa Dahlia mengaharuskan Gio mengaji di surau dekat rumah dia manut. Dahlia membatasi jam menonton film kartun kesukaannya malaikat kecilnya tak banyak membantah. Hal ini tentu saja membuat Dahlia tak merasa sia-sia membanting tulang membuka usaha katering, sesekali mengirim cerpen atau resep ke koran dan majalah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Uang pensiun Haris berusaha tak di otak-atik oleh Dahlia kecuali untuk keperluan sekolah Gio.
                Di sekolah, Gio murid yang cemerlang. Lebih sering menjadi bintang kelas ketimbang meringkat 2 atau 3 dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Di rumah, Gio menjadi teladan anak-anak lainnya. Pinter  di sekolah, rajin mengaji, sopan dan ramah pada semua orang. Sebagai ibu sekaligus ayah semenjak ditinggal Haris, tentu saja Dahlia merasa bangga bercampur bahagia. Padahal  banyak anak yatim lainnya yang tumbuh menjadi anak liar. Ada yang terlibat perkelahian masal,  ada yang terjerat narkoba, dan kenakalan lainnya.
                Gio malaikat kecilnya seolah menurut apa yang Dahlia katakan. Apa yang Dahlia mau,  apa yang Dahlia harapkan.
                Belasan tahun berlalu, Dahlia dan Gio layaknya tim kecil yang kompak. Hingga suatu hari, tepatnya setelah Gio menerima ijazah sekola SMA-nya.
                “Ma , plis, sekali ini saja Gio ingin menuruti kata hati, bukan Mama”
                “Tapi Gio, kamu pintar, nilai-nilaimu bagus. Bahkan masuk jurusan kedokteran-pun Mama yakin Gio bisa. Mengapa musti ngambil jurusan desain graphis?”
                “Pokoknya kalau tak ngambil desain graphis mendingan Gio tak usah kuliah. Titik “
                Semua bermula dari sini. Masa kelam, pekat saat Haris suaminya menghembuskan napas terakhir seperti terulang kembali. Di tempat baru itu, Gio malaikat kecil bagi Dahlia mengenal dan karib dengan Bramantio
                Tentu saja Dahlia tak bepikir macam-macam saat suatu hari, Gio, pulang ke rumah bersama Bram salah satu dosennya di kampus. Dahlia-pun tak curiga saat dosen muda berwajah menawan itu  tak diperbolehkan Gio menempati kamar tamu seperti tamu lainnya dan sekamar dengan anak semata wayangnya. Dahlia pikir, toh tempat tidur Gio terbilang besar, belum lagi Gio juga mempunyai kasur lipat yang biasa dipakai kapan saja.
                Dahlia juga tak berpikir jauh saat melihat tangan Bram kerap merangkul pundak Gio, malaikat kecilnya, Dahlia juga tak curiga saat malalikat kecilnya membuatkan dosennya secangkir cappucino kemudian diminum bersamaan.
                Hingga suatu hari, saat Gio dan Bram pamit ke toko buku, seperti biasanya Dahlia akan merapikan  kamar malaikat kecilnya yang biasanya seperti kapal pecah dan biasanya juga malaikat kecilnya paling malas mengunci pintu kamar saat keluar rumah.
                Begitu kamar terkuak, Dahlia menarik napas lega karena kali ini kamar Gio terlihat lebih rapi. Sebenarnya Dahlia hendak meninggalkan kamar begitu tahu kamar malaikat kecilnya tak lagi seperti kapal pecah. Tapi entah mungkin naluri, Dahlia memasuki kembali kamar Gio. Mata Dahlia menerawang setiap sudut kamar. Tiba-tiba lutut Dahlia menjadi gemetar, kepalanya memberat. Di meja belajar  malaikat kecilnya, berserakan berkeping-keping film biru beraroma cinta sejenis. Bergelatakan pula beberapa karet pelindung yang biasa digunakan kaum adam. Isi perut Dahlia teraangkat paksa. Mual pusing mendera Dahlia.
                Badai bagai berhembus melumat tubuh Dahlia. Rasanya baru saja kemarin Gio, malaikat kecilnya itu masih berupa bayi merah. Rasanya baru kemarin anak yang dibanggakannya memakai peci dan sarung kedodoran pulang mengaji  di surai dekat rumah. Rasanya baru kemarin malaikat kecilnya yang selalu membuat Dahlia tersenyum bahagia, bangga memamerkan nilai-nilai ulangan atau rapotnya yang selalu gemilang. Rasanya…
                Dahlia benar-benar merasa dihimpit benda yang maha berat. Malaikat kecilnya kini berada di persimpangan jalan menurut orang kebanyakan.
                Allah bersamamu jalan tak akan buntu. Tiba-tiba Dahlia teringat kata-kata tersebut. Kata-kata yang selalu di dengungkan Haris suaminya bertahun-tahun lalu. Dahlia segera mengambil wudhu. Dahlia yakin cinta dan kekuatan doa akan membawa malaikat kecilnya kembali ke jalan lempang. Setidaknya dengan doa Dahlia berharap diberi kekuatan, ketegaran agar bisa berbincang dari hati ke hati dengan Gio, malaikat kecilnya nanti.
*****
                “Allah Akbar. Allah Akbar. Allah Akbar ” gema takbir bersahutan. Dari masjid, dari jalan raya, dari musalah, dari mana saja. Dahlia terpekur di atas sajadah. Besok hari fitri. Hari yang seharusnya disambut dengan kebahagian setelah berpuasa sebulan.
                “Allah bersamamu jalan tak akan buntu” Dahlia mengafirmasi diri agar menemukan kembali malaikat kecilnya yang sudah berbulan bulan tak pulang ke rumah. Tak juga memberi kabar
                “kringgg...” HP Dahlia  berdering. Dahlia mengangkatnya. Sebuah nomor tak dikenal memanggil
                “Ma, Assalamualaikum “ Dahlia bergetar mendengar suara yang amat ia kenal. Yang amat ia rindukan
                “Walaikumsalam. Gio sehat, Gio baik baik sajakan?”cecar Dahlia, alih-alih memaki malaikat kecilnya yang lebih memilih meninggalkan rumah demi cinta
                “Ma, Gio kangen Mama, Gio ingin pulang ke rumah. Gio ingin kembali menjadi malaikat kecil Mama. Malaikat kecil yang saleh dan menurut apakata Mama. Maaf lahir batin ya Ma “

                “Allah bersamamu jalan tak kan buntu”. Dahlia tersenyum. Matanya berkaca

NB. Cerpen ini dimuat di tabloid Genie. Tapi, ini versi asli sebelum diedit oleh tabloid Genie. Ohya terimakasih fotonya Mas Risman Latif

Penulis Sutono Adiwerna. Aktifis FLP Tegal, RBA Tegal. Penulis lepas, Guru Eskul Jurnalis. Sesekali mengisi pelatihan kepenulisan. 

Kamis, 15 September 2016

Menanamkan Budi Pekerti Melalui Cerita

Judul Buku : Nyanyian Sasa Angsa dan 14 Cerita Seru Lainnya
Pengarang : Lia Herliana
Penerbit : Rainbow, Penerbit Andi, Yogyakarta
Cetakan 1 : 2016
Tebal : 60 halaman
ISBN : 978-979-29-4455-6

Sasa adalah seeokor angsa yang hobinya menyanyi. Menyanyi  kapan dan di mana saja. Sayangnya, suara Sasa cempreng dan tidak merdu sehingga hewan-hewan lainnya di peternakan Pak Sosro tidak menyukainya
                “Ngook..Ngook “ suara Sasa menyanyi dengan keras
                “Suaramu membuat gigiku tambah sakit” kata Jago, sikuda
                “Sasa, nyanyinya jangan keras-keras dong! Anak-anakku sedang istirahat” ujar Boni si induk ayam
                Mulai mala ini , aku berjanji untuk tidak bernyanyi lagi, gumam Sasa sedih
                Tengah malam , Sasa terbangun tiba-tiba. Ia mendengar gemerisik di dekat gudang. Jangan-jangan itu pencuri, bisik hati Sasa
                “Ngook..Ngoook” terpaksa Sasa melanggar janjinya untuk tidak bernyanyi lagi. Bagaimana kisah Sasa Angsa selanjutnya?
                Cerita seringkali lebih efektif untuk menanamkan budi pekerti, nilai nilai kesetiakawanan, nasionalisme dan kesalehan sosial
                Buku ini berisi 15 cerita yang tidak hanya seru tetapi mengandung pesan-pesan yang sangat kuat. Pada cerita berjudul Nyanyian Sasa, anak-anak sebagai pembaca atau pendengara cerita diharapkan memiliki sipat berani, pandai menempatkan diri saat melakukan sesuatu yang disukainya. Pada cerita Mbah Marto, secara ekspilisit penulis cerita ini menginginkan agar anak-anak memiliki sifat nasionalisme sedini mungkin. Di cerita Kolak Istimewa, pembaca anak diharapkan tergerak untuk memiliki sifat suka berbagi. Berbagi tidak hanya membahagiakan penerima tetapi pemberinya juga. Cerita lainnya di buku ini punya pesan-pesan yang pas sekali untuk pembaca anak
                Kelebihan buku ini, selain kisah-kisahnya seru juga inspiratif. Kelebihan lainnya, ilustrasi di setiap ceritanya indah dan menawan sehingga anak-anak  kita tak jenuh membaca dari awal hingga akhir cerita
                Catatan saya tentang kumpulan cernak ini, masih seperti gado-gado. Ada cerpen yang menceritakan sehari-hari, ada yang fantasi adapula yang berupa dongeng. Kekurangan ini bias jadi sebuah kelebihan karena pembaca bisa mendapat dongeng dan cerpen dalam satu buku
                Terakhir, buku ini cocok buat anak-anak, guru dan orang tua, pendongeng yang ingin menanamkan budi pekerti melalui cerita. Selamat membaca



Peresensi : Sutono , penulis lepas, Aktifis Rumah Baca Asma Nadia Tegal 


Rabu, 14 September 2016

Garnish, Kafe dan Gallery

Judul buku : Garnish
Pengarang : Mashdar Zaenal
Penerbit : de Teens, Diva Press Yogyakarta
Cetakan  1 : April 2016
Tebal : 220 Halaman
ISBN : 978-602-391-126-4

                “Upaya pelik yang kau lakukan akan berbanding lurus dengan kemenangan yang kau rayakan” ( Halaman 121 )
                Sejak kecil Buni menyukai dapur. Baginya dapur adalah tempat dimana cinta dan kedamaian bermuara. Dapur adalah ruangan yang paling istemewa. Sayang, Mamanya tak pernah menyukai anak laki-lakinya berkutat di dapur. Bagi sang Mama, dapur hanya tempat kaum perempuan. Laki-laki lebih cocok bermain bola, bermain music, merakit mesin, atau bercocok tanam.
                Dari kecil hingga menjadi sarjana ekonomi, Buni dan Mamanya terjebak perdebatan , laki-laki pamali mempunyai hobi memasak. Lebih baik ijasah ekonominya untuk mencari pekerjaan . Sedangkan Buni lebih nyaman berkutat di dapur, mencoba resep baru daripada bolak-balik mengirim surat lamaran pekerjaan yang hasilnya nihil.
                Perdebatan itu memuncak ketika Mamanya ulang tahun dan Buni ingin member kado spesial dengan membuatkan nasi goreng istimewa. Bukannya senang dengan hadiah Buni, Mamanya justeru membuang nasi goreng buatan Buni. Buni memutuskan keluar dari rumah Mama dan Papanya. Sebelum meninggalkan rumah, Buni melumuri  dengan caos, kecap ke seluruh tubuhnya.
                Sementara di tempat lain, ada Anin, gadis cantik yang ingin menjadi pelukis. Sayangnya sang Ayah tidak setuju. Menurut Ayahnya, menggambar hanya cocok untuk anak laki-laki.
                Anin menyukai seni rupa sejak kecil. Tepatnya ketika ulang tahun mendiang ibunya membelikan kuas dan sekotak cat air beraneka warna. Sejak itu pula, Anin bermimpi suatu hari lukisannya di pajang di sebuah Gallery. Suatu hari, Anin yang habis kesabaran akibat pengawasan Ayahnya yang terlalu ketat, memutuskan keluar dari rumah besarnya. Sebelum keluar rumah, Anin melumuri tubuhnya dengan aneka warna cat air.
                Di hari itu, Anin dan Buni bertemu di suatu tempat menjelang datang hujan.
                Bagaimana kisah selanjutnya? Akankah Buni-Anin meraih mimpinya masing-masing? Akankah Buni mendapatkan dukungan dari Sang Mama?
                Garnish menyasar pembaca remaja. Ditulis dengan diksi yang indah khas Mashdar Zaenal yang dikenal dengan cerpen-cerpennya yang lembut  tetapi mengalir dan mudah dipahami.
                Alurnya rapat, konfliknya dari awal hingga akhir cerita terjaga. Karakter-karakter yang ada di novel ini sangat kuat dan filmis
                Kelebihan lainnya, novel setebal 220 halaman ini berkaver dan layoutnya yang unik dan menarik
                Garnish, sayang untuk dilewatkan terutama anda yang penikmat fiksi. Selamat membaca.


Resensor : Sutono Adiwerna, Ketua Flp Tegal. Penulis lepas