Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Kamis, 15 Desember 2016

Cinta Luar Biasa, Laki laki Biasa

Judul Film : Cinta Laki Laki Biasa
Sutradara : Guntur Suharyanto
Produksi : Kharisma Starvision
Skenario : Alim Studio
Pemain : Velove Vexia, Deva Mahenra, Dini Aminarti, Nino Vernandez, Ira Wibowo, Dewi Yull, Yati Surahman dll

Sebenarnya saya sudah merencanakan menonton Film yang diadaptasi dari cerpen Mba Asma ini pas di hari pertama dirilis. Tapi, pada tanggal 1 desember 2016, film ini belum tayang di Gajah Mada Cinema Tegal. Pada tanggal 4 desember, saya mendapati iklan di sebuah koran bahwa film yang cerpennya ada di buku Cinta Laki-Laki Biasa ( ada cerpen saya lho-P ) tayang di gedung bioskop yang beralamat di jalan Gajah Mada Tegal ini. Sayangnya, saat itu saya sedang menyiapkan diri menjadi relawan Kelas Inspirasi pada tgl 13 desember. Finaly, bisa ketemu Nania dan Rafi meski agak telats.

Sinopsis

Nania Adinda Wiryawan  ( Velove ) kenal Rafly ( Deva ) saat dirinya magang di tempat  Rafly bekerja
Nania terkesan dengan kesederhanaan, kejujuran, kesalehan  Muhammad Rafly  Imani yang kebetulan menjadi mentor Nania

Gayung bersambut. Diam-diam Rafly juga mengagumi Nania yang cantik, cerdas, sarjana, anak orang kaya, ramah serta tak canggung bergaul dengan para tukang bangunan tempat Raflybekerja.

Saat menghadiri acara Wisuda Nania, Rafly membatalkan menemui Nania karena melihat Nania dan keluarganya tengah bercengkrama dengan Tio, dokter muda lulusan Jerman, tampan yang hendak dijodohkan dengan Nania

Suatu hari, Nania dan Rafly bertemu kembali karena tempat kerja keduanya bekerja sama. Singkatnya, Rafly mengutarakan niatnya untuk bertaaruf dengan gadis cantik nan cerdas itu. Dan Nania menerima ajakan laki-laki yang biasa tersebut

Tentu saja keinginan Nania ditentang keluarganya. Terlebih ibunya ( Ira Wibowo ). Meski mendapat pertentangan dari sana sini, Nania tetap kukuh dan bersedia dipinang Rafly, laki laki biasa, dengan wajah biasa, pekerjaan biasa dan gaji yang juga biasa

Tak terasa, 10 tahun lamanya Rafly dan Nania berumah tangga. Meski dengan kehidupan serba sederhana, Nania merasa bahagia dan harmonis. Tidak seperti rumah tangga kakak- kakak Nania yang didapati secara tak sengaja tengah bertengkar.

Suatu hari, Nania hendak menuju rumah salah seorang kakaknya ( Dewi Rezer ) yang hendak bunuh diri karena suaminya ditangkap KPK karena kasus korupsi. Malang tak dapat ditolak, saat mobil Nania melaju, dari arah berlawanan mobil Nania dihantam truk dengan kecepatan tinggi.

Benturan keras di kepala, membuat Nania kehilangan memori masa lalunya. Singkatnya, Nania tak bisa mengenali siapa saja termasuk Rafly dan Yasmin ( anak mereka )

Sekuat tenaga, Rafly berusaha mengembalikan memori isteri yang dicintainya. Sayangnya hal ini menyebabkan Nania frustasi. Nania tak hanya tak mau bertemu dengan Raffi, Nania bahkan tak mau lagi diterapi oleh dokter Tio (  Nino Fernandez ). Di tengah  kesedihan, kebingungannya, serta membagi waktu bekerja dan mengasuh Yasmin dan Yusuf, Raffi meminta tolong kepada Lulu ( Dini Aminarti ) agar Nania kembali mau menjalani pengobatan. Bagaimana kisah selanjutnya?

Menurut saya, film Cinta Laki-laki Biasa menghanyutkan. Dibanding film Mba Asma sebelumnya ( Surga Yang tak Dirindukan, Jilbab Traveler, Pesantren Impian ) Cinta Laki-laki Biasa lebih meninggalkan kesan. Selain penyutradaraan, skenario yang menurut saya oke punya, Velove dan Deva berhasil menghidupkan tokoh Nania dan Rafliy dengan nyaris sempurna. Pemain pendukungnya juga bermain natural, dan yang paling mencuri perhatian menurut saya Yati Surahman dan Dewi Yull. Yati berperan sebagai si Mbok, pembantu keluarga Nania dan Dewi sebagai ibunda Rafly.

Catatan saya, adegan kenalan Nania dan Rafly  terkesan klise, untungnya dimodifikasi dengan adanya tokoh Thole saat Nania dan Raffi yang membuat kami penontonnya tersenyum-senyum. Ost yang dibawakan Deva tak sekuat saat KD megisi Ost Surga yang tak dirindutkan. Akhir kata, jika masih ada jadwal penayangan film ini di bioskop di dekat anda, tontonlah, Insyaallah banyak hal yang dapat kita petik. Oh ya ornamen seperti cat tembok warna biru, pohon, petir yang sebelumnya tak kira hanya tempelan, ternyata bisa menjadi jembatan mengurai konflik. Dan ini keren kata saya





7 komentar:

  1. Koreksi sedikit, nama tokohnya Rafli, bukan Raffi. Hehehe. Sepakat bahwa film ini paling berkesan dibandingkan film-film sebelumnya yang diangkat dari karya Asma Nadia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas koresinya mas dio agung, sudah tak edit.

      Hapus
  2. jadi pengen ditonton. sayang, di Lombok tidak ada bioskop.nunggu teman ada yang download. ^_^

    BalasHapus
  3. atau tunggu saja pas diputar televisi. hihi

    BalasHapus