Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 September 2016

Malaikat Kecil itupun Pulang


                Senja itu, langit seolah runtuh menimpa tubuh Dahlia. Telpon yang dikiranya akan berisi ucapan selamat hari perkawinan tahun ke delapan dari Haris sang suami yang tengah di luar kota ternyata  berisikan kabar yang membuat semuanya menjadi gelap. Pekat. Mobil yang dikendarai Haris kinasihnya dilindas kereta api saat super kijang yang bahkan belum lunas cicilannya itu melintas di jalur kereta api yang tak berpalang pintu.
                “Mama kenapa nangis. Ada apa dengan Papa” suara Gio membuat Dahlia sadar telah berjam-jam bersandar di dinding, sementara gagang telepon menggantung begitu saja
                “Ada apa dengan Papa Ma” ulang Gio lagi
                “Papa sayang..Papa kecelakaan”
                Bagi Dahlia Gio Pratama adalah malaikat kecil. Gio yang membuat dirinya harus tetap tegar bertahan meski kehilangan yang amat sangat
                “Gio, Papa sudah tak ada, kini kita tinggal berdua. Bantu Mama ya sayang, Gio harus nurut apa kata Mama”ujar Dahlia parau
                “Iya Ma, Gio janji akan menuruti apa saja yang Mama katakan”
                Dan malaikat kecilnya itu benar-benar memenuhi janjinya. Gio penurut, bahkan sangat penurut.  Saa Dahlia mengaharuskan Gio mengaji di surau dekat rumah dia manut. Dahlia membatasi jam menonton film kartun kesukaannya malaikat kecilnya tak banyak membantah. Hal ini tentu saja membuat Dahlia tak merasa sia-sia membanting tulang membuka usaha katering, sesekali mengirim cerpen atau resep ke koran dan majalah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Uang pensiun Haris berusaha tak di otak-atik oleh Dahlia kecuali untuk keperluan sekolah Gio.
                Di sekolah, Gio murid yang cemerlang. Lebih sering menjadi bintang kelas ketimbang meringkat 2 atau 3 dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Di rumah, Gio menjadi teladan anak-anak lainnya. Pinter  di sekolah, rajin mengaji, sopan dan ramah pada semua orang. Sebagai ibu sekaligus ayah semenjak ditinggal Haris, tentu saja Dahlia merasa bangga bercampur bahagia. Padahal  banyak anak yatim lainnya yang tumbuh menjadi anak liar. Ada yang terlibat perkelahian masal,  ada yang terjerat narkoba, dan kenakalan lainnya.
                Gio malaikat kecilnya seolah menurut apa yang Dahlia katakan. Apa yang Dahlia mau,  apa yang Dahlia harapkan.
                Belasan tahun berlalu, Dahlia dan Gio layaknya tim kecil yang kompak. Hingga suatu hari, tepatnya setelah Gio menerima ijazah sekola SMA-nya.
                “Ma , plis, sekali ini saja Gio ingin menuruti kata hati, bukan Mama”
                “Tapi Gio, kamu pintar, nilai-nilaimu bagus. Bahkan masuk jurusan kedokteran-pun Mama yakin Gio bisa. Mengapa musti ngambil jurusan desain graphis?”
                “Pokoknya kalau tak ngambil desain graphis mendingan Gio tak usah kuliah. Titik “
                Semua bermula dari sini. Masa kelam, pekat saat Haris suaminya menghembuskan napas terakhir seperti terulang kembali. Di tempat baru itu, Gio malaikat kecil bagi Dahlia mengenal dan karib dengan Bramantio
                Tentu saja Dahlia tak bepikir macam-macam saat suatu hari, Gio, pulang ke rumah bersama Bram salah satu dosennya di kampus. Dahlia-pun tak curiga saat dosen muda berwajah menawan itu  tak diperbolehkan Gio menempati kamar tamu seperti tamu lainnya dan sekamar dengan anak semata wayangnya. Dahlia pikir, toh tempat tidur Gio terbilang besar, belum lagi Gio juga mempunyai kasur lipat yang biasa dipakai kapan saja.
                Dahlia juga tak berpikir jauh saat melihat tangan Bram kerap merangkul pundak Gio, malaikat kecilnya, Dahlia juga tak curiga saat malalikat kecilnya membuatkan dosennya secangkir cappucino kemudian diminum bersamaan.
                Hingga suatu hari, saat Gio dan Bram pamit ke toko buku, seperti biasanya Dahlia akan merapikan  kamar malaikat kecilnya yang biasanya seperti kapal pecah dan biasanya juga malaikat kecilnya paling malas mengunci pintu kamar saat keluar rumah.
                Begitu kamar terkuak, Dahlia menarik napas lega karena kali ini kamar Gio terlihat lebih rapi. Sebenarnya Dahlia hendak meninggalkan kamar begitu tahu kamar malaikat kecilnya tak lagi seperti kapal pecah. Tapi entah mungkin naluri, Dahlia memasuki kembali kamar Gio. Mata Dahlia menerawang setiap sudut kamar. Tiba-tiba lutut Dahlia menjadi gemetar, kepalanya memberat. Di meja belajar  malaikat kecilnya, berserakan berkeping-keping film biru beraroma cinta sejenis. Bergelatakan pula beberapa karet pelindung yang biasa digunakan kaum adam. Isi perut Dahlia teraangkat paksa. Mual pusing mendera Dahlia.
                Badai bagai berhembus melumat tubuh Dahlia. Rasanya baru saja kemarin Gio, malaikat kecilnya itu masih berupa bayi merah. Rasanya baru kemarin anak yang dibanggakannya memakai peci dan sarung kedodoran pulang mengaji  di surai dekat rumah. Rasanya baru kemarin malaikat kecilnya yang selalu membuat Dahlia tersenyum bahagia, bangga memamerkan nilai-nilai ulangan atau rapotnya yang selalu gemilang. Rasanya…
                Dahlia benar-benar merasa dihimpit benda yang maha berat. Malaikat kecilnya kini berada di persimpangan jalan menurut orang kebanyakan.
                Allah bersamamu jalan tak akan buntu. Tiba-tiba Dahlia teringat kata-kata tersebut. Kata-kata yang selalu di dengungkan Haris suaminya bertahun-tahun lalu. Dahlia segera mengambil wudhu. Dahlia yakin cinta dan kekuatan doa akan membawa malaikat kecilnya kembali ke jalan lempang. Setidaknya dengan doa Dahlia berharap diberi kekuatan, ketegaran agar bisa berbincang dari hati ke hati dengan Gio, malaikat kecilnya nanti.
*****
                “Allah Akbar. Allah Akbar. Allah Akbar ” gema takbir bersahutan. Dari masjid, dari jalan raya, dari musalah, dari mana saja. Dahlia terpekur di atas sajadah. Besok hari fitri. Hari yang seharusnya disambut dengan kebahagian setelah berpuasa sebulan.
                “Allah bersamamu jalan tak akan buntu” Dahlia mengafirmasi diri agar menemukan kembali malaikat kecilnya yang sudah berbulan bulan tak pulang ke rumah. Tak juga memberi kabar
                “kringgg...” HP Dahlia  berdering. Dahlia mengangkatnya. Sebuah nomor tak dikenal memanggil
                “Ma, Assalamualaikum “ Dahlia bergetar mendengar suara yang amat ia kenal. Yang amat ia rindukan
                “Walaikumsalam. Gio sehat, Gio baik baik sajakan?”cecar Dahlia, alih-alih memaki malaikat kecilnya yang lebih memilih meninggalkan rumah demi cinta
                “Ma, Gio kangen Mama, Gio ingin pulang ke rumah. Gio ingin kembali menjadi malaikat kecil Mama. Malaikat kecil yang saleh dan menurut apakata Mama. Maaf lahir batin ya Ma “

                “Allah bersamamu jalan tak kan buntu”. Dahlia tersenyum. Matanya berkaca

NB. Cerpen ini dimuat di tabloid Genie. Tapi, ini versi asli sebelum diedit oleh tabloid Genie. Ohya terimakasih fotonya Mas Risman Latif

Penulis Sutono Adiwerna. Aktifis FLP Tegal, RBA Tegal. Penulis lepas, Guru Eskul Jurnalis. Sesekali mengisi pelatihan kepenulisan. 

2 komentar:

  1. Bagus, Mas ...

    selamat ya, sepertinya Mas Sutono memang paling cocok nulis cerpen anak.

    BalasHapus
  2. betul. tapi ingin juga belajar genre lain, agar tak bosan

    BalasHapus