Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Kamis, 06 Agustus 2015

Ternyata..

 Ternyata...
Oleh Sutono Adiwerna
            Tak terasa kereta Kaligung yang membawa Tegar dan ayahnya yang hendak menuju Semarang  telah jauh meninggalkan stasiun Tegal. Kini kereta api yang mereka tumpangi berhenti di stasiun Pekalongan.
            “Sudah sampai di Semarang Yah? Kok keretanya berhenti? ”tanya Tegar dengan logat Tegal yang kental pada ayahnya yang tengah mengantuk.
            Setengah menguap, ayah menjawab “Baru di stasiun Pekalongan”
            Tegar mengambil tahu aci buatan bundanya dari tas ransel. Tegar memang suka sekali tengan makanan khas Tegal ini. Tahu goreng yang diatasnya diberi tepung aci ini rasanya asin, dan gurih.
            Kereta masih berhenti di stasiun Pekalongan. Penumpang baru dari kota batik mulai berdatangan. Terkadang menempati kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket, terkadang duduk seenaknya
            Beberapa saat kemudian kereta mulai melaju, melanjutkan perjalanan. Kursi di depan Tegar dan ayahnya kini telah ditempati seorang lelaki setegah baya dengan anaknya yang diperkirakan Tegar masih kelas 10 atau 11 SMA.
            Tegar terkesiap ketika melihat remaja itu mengeluarkan tangannya yang putih dari jendela. Remaja yang wajahnya mirip Kak Aliando Syarif berkata riang “Bapak..bapak..lihatlah tumbuhan-tumbuhan itu berjalan”
            Lelaki setengah baya disebelahnya tersenyum memandang anaknya dengan gembira. Wajahnya berseri-seri
            “Sudah remaja kok kayak anak TK” kata Tegar di dalam hati. Mulutnya masih menikmati gurihnya tahu aci buatan bundanya yang kali ini tak bisa ikut ke Semarang karena ada urusan yang tak bisa ditinggal
            Lagi-lagi remaja yang wajahnya mirip  Digo di sinetron Ganteng-Ganteng Srigala itu  berteriak riang saat melihat pemandangan yang dilaluinya “Bapak...bapak..lihat! awan itu juga mengikuti kereta ini”
            “Ndeso” desis Tegar sedikit terganggu. Disampingnya, ayah terlihat pulas sekali tidurnya
            Kereta masih terus melaju menuju kota Atlas, Semarang. Tiba-tiba langit mendadak gelap. Awan hitam menggumpal-gumpal  terlihat dari jendela kereta. Tegar mengambil komik Detiktif Conan dari dalam tasnya. Baru beberapa lembar komik terbaca, hujan turun deras
            “Aneh”pikir Tegar ketika mengintip dari balik komik, remaja yang wajahnya mirip artis  itu tak juga memasukan tangannya seolah-olah menikmati tangannya yang putih,bersih digerojogi air hujan
            “Bapak...bapak hujan turuun. Galih suka hujan”teriak remaja itu
            Ganteng-ganteng kok ndeso” kata Tegar masih di dalam hati. Tegar berniat membangunkan ayahnya agar bersedia meminta Kak Aliando berhenti bertingkah seperti anak TK, tidak jadi karena ayahnya terlihat lelah dan mengantuk sekali
            “Bapak...hujannya belum berhenti. Kapan-kapan Galih boleh main hujan-hujanan ya?”teriak remaja itu masih seriang sebelumnya. Lelaki setengah baya di sebelahnya mengelus rambut anaknya dengan kasih sayang
            “Rrrhhtggt”Tegar mendengus, memasukan komik Conannya ke dalam tas dengan dongkol. Tegar berusaha memejamkan matanya. Barangkali dengan tidur seperti ayahnya, Tegar bisa terbebas dari tingkah kampungan Kak Aliando itu
            Tapi sebelum matanya bisa terpejam, samar-samar Tegar mendengar percakapan dua orang bapak-bapak
            “Maaf, kenapa tak Bapak bawa putra anda ke dokter atau rumah sakit agar tak aneh seperti itu”ujar seorang bapak sedikit berbisik.  Remaja bernama  Galih yang sedang jadi bahan pembicaraan tak kelihatan. Mungkin sedang ke toilet atau juga sedang berjalan-jalan keliling gerbong kereta
            Lelaki setengah baya yang ditanya itu menjawab dengan tenang” Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Berkat pertolongan Allah melalui para dermawan, sekarang Galih anak saya bisa melihat dunia  dalam hidupnya setelah mengalami kebutaan bertahun-tahun
            “Degg” Tegar terkesiap, terkejut. Perasaan  menyesal, malu datang karena beberapa menit lagi mengaanggap Kak Aliando itu sakit gila
            “Terkadang apa yang kita lihat tak seperti kondisi sesungguhnya”kata ayah membuyarkan lamunan Tegar.
            “Termasuk, ayah yang kelihatannya tidur nyenyak  mengamati putranya yang ganteng ni ngedumel?”tanya Tegar hati-hati

            “Ha..ha..ha...”ayah tersenyum lebar ( Radar Bojonegoro, 11 juli 2015 )

8 komentar:

  1. sip.. tulisan yang bagus sekali. pesannya mengena.

    BalasHapus
  2. aamiin. Alhamdulillah, semoga bisa terus menulis. Terimakasih apresiasinya ya Yustia..

    BalasHapus
  3. makasih sudah baca mba guru..ayo kapan nulis cernak lagi?

    BalasHapus
  4. Pesan moral yang manis. Selamat ...

    BalasHapus
  5. terimakasih sudah berkunjung dan membaca cerita sederhana ini..

    BalasHapus
  6. Terimakasih Riska..terimakasih sudah membaca cerita ini

    BalasHapus