Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Minggu, 08 Februari 2015

Uang Kembalian ( oleh Sutono Adiwerna )


                “Tumbas” ujar Moza sembari menaruh uang di atas etalase dengan kaki sedikit berjingjit. Kue-kue semacam Wafer, sosis, donat memang Om Jono pajang di toples dan ditaruh di atas etalase berukurun 2x1 m.  Sementara etalase bagian dalam di penuhi barang-barang semacam sabun mandi, pasta gigi, mie instan dan lainnya.
                “Beli apa Moz?”tanya Om Jono. Sementara tangannya masih sibuk melayani pembeli lain. Seorang ibu-ibu yang tengah hamil besar
                Di kampung Cipluk, toko kecil yang dinamai “Warung Sederhana “ ini memang laris manis. Mungkin karena harga-harganya terjangkau. Atau mungkin juga karena si empunya toko terkenal ramah  dan baik hati
                “Om ini..”ujar Moza, menunjukan wafer berbentuk segi panjang
                “Satu..?” tanya Om Jono. Moza menganggukan kepala
                “ Jujul..”
                “Kembali berapa?”
                “lima ratus “ jawab Moza. Mungkin karena pagi itu Om Jono sedang tak enak badan di tambah lagi toko Om Jono memang di pinggir jalan raya sehingga agak bising, sehingga Om Jono mengambil 3 logam limaratusan.
                “Ini kembaliannya. Terimakasih ya Moz
                Moza menerima uang kembalian dengan rasa canggung.
                “Moza kamu di panggil Bunda. Katanya di suruh bantuin masak “ ujar  Mbak Lastri tetangga Moza yang kebetulan mau membeli garam di tokonya Om  Jono
                Setelah tersenyum, Moza bergegas meninggalkan tokonya Om Jono
                Angin berhembus sepoi-sepoi. Bersamaan dengan itu, cahaya matahari mulai menghangat. Om Jono mengambil sulak dan membersihkan bagian luar etalase.
                “Oalah ternyata uangnya Si Moza Cuma seribu to?” seru Om Jono di dalam hati
                “Padahal sudah tak kasih kembalian seribu lima ratus.”lanjut Om Jono. Masih di dalam hati
                Sementara itu di sebuah rumah..
                Moza mondar-mandir. Seperti setrikaan. Rambut lurus sebahu yang di kuncir dua bergerak-gerak seperti burung yang sedang mematuk biji-bijian. Bau harum tumisan menguar dari dapur. Bunda tengah membuat nasi goreng spesial rupanya.
                Kembalikan
                Nggak usah
                Kembalikan
                Nggak usah
                Kembalikan
                Moza masih mondar-mandir di ruang tamu.
                “Moz...! “ panggil Bunda dari dalam dapur
                “Iya Bunda..” Moza menghampiri bundanya
                “ Moz, sosis di dapur habis. Bunda minta tolong beliin di tokonya Om Jono ya ! “
                “Uangnya?”
                “ Di atas televisi ada uang dua ribuan”
                “Oke”
                Ketika Moza sampai di tokonya Om Jono, Om Jono tengah membersihkan bersih-bersih toko.
                “Beli apa Moz” tanya Om Jono. Moza terkesiap kaget
                “Sosis dua Om “ ujar Moza setelah menarik napas dalam-dalam
                “Jadi dua ribu Moz” Om Jono menyerahkan sosis.
                “ini uangnya Om “
                “Lho kok uangnya banyak sekali? Dua ribu Moz”
                “Anuu..”
                “Anu apa Moz?”
                “Moza minta maaf,waktu beli wafer, kembalian Om Jono kebanyakan. Kelebihan seribu “
                “Oalah..itu to? Om sudah ikhlasin kok. Itung-itung buat hadiah tahun baru”
                “Serius Om?”tanya Moza penasaran. Om Jono tersenyum.

                “Hadiah kok cuman seribu? Tambah lagi dong. He..he..”canda Moza. Plong. Moza merasa lega telah jujur perihal uang kembalian pagi tadi. Mungkin benar kata bundanya, milikilah sifat jujur. Karena jujur akan selalu berbuah manis.

Keterangan, cerpen ini dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, 8 Februari 2015

8 komentar:

  1. Ternyata sederhana tapi ngena, ya, Kak. Sedang berusaha tembus KR juga saya ... Terima kasih ruang belajarnya ...

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah mampir dan apresiasi di blog sederhana ini. Tipe cerpen di KR memang simpel dan sederhana. Khulatul bisa bikin cerpen dari peribahasa juga. Misal Banyak jalan menuju roma dll. Terus semangat yaa

    BalasHapus
  3. Ikutan belajar, jadi keinget zaman dulu. mak jleb. Jujur memang membawa berkah

    BalasHapus
  4. Yups..terimakasih sudah mampir di blog ini. Terimakasih juga sudah berkenan membaca dan mengapresiasi cernak ini. Yukk Semangatt

    BalasHapus
  5. Sederhana, ya Kak. Ikut menyimak sambil nimba ilmu. Kalau di KR masa tunggunya berapa bulan, Kak?

    BalasHapus
  6. iyaps. terimakasih sudah berkenan membacanya. Di KR nunggunya sebulanan. Kirim cernak biar berpeluang selain ceritanya sederhana, kirimnya juga via pos. kalau tinggal di yogya, main ke redaksinya saja plus bawa naskah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh pantas saya waktu yang Telor Ceplok sudah tk kirim sejak Februari 2015 tapi tidak ada kabar, malah ada pemberitahuan email gagal. Terus kemarin tgl 12 agustus saya coba kirim via pos. Alhamdulilah gol. Berarti gak semua media menginginkan kirim naskah via email ya, Kak?

      Hapus