Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Jumat, 16 Januari 2015

Suatu pagi di kelas menulis




                Dulu, Rani kecil tinggal di sebuah bilik kayu mungil, di pinggir rel kereta pai Gunung Sahari. Ia memilik seorang kakak yang berusia dua tahun di atasnya. Dan gadis kecil itu sangat mencintai kakaknya.
                Rani kecil sangat suka membaca. Ia membaca semua. Buku cerita, buku pelajaran, koran, bungkus cabai, dan pembungkus sayur lainnya yang di bawa pulang sang mama dari pasar
                Suatu hari, Rani kecil kepalanya terbentur ujung besi yang lancip. Berdarah. Yang menyebabkan gegar otak
                Tak hanya itu, Rani kecil juga mempunyai kelainan otak di bagian belakang, paru-paru kotor, jantungnya bermasalah, giginya membusuk dan tak beraturan sehingga haru dicabut 14 giginya. Meski begitu Rani kecil tak pernah mengeluh
                Suatu hari Rani kecil berujar “ Kak  aku ingin sekali punya perpustakaan. Aku juga ingin menyewakan buku-buku cerita kita pada anak-anak lain”
                Kakaknya memandang  sang adik dengan berbinar “Kakak setuju. Kita taruh buku-buku kita diatas meja kayu di depan rumah. Kita tawarkan pada mereka yang lewat”
                Mulailah Rani kecil dan kakaknya menjejerkan buku-buku mereka di depan rumah kontrakan mereka yang kecil
                “Suatu hari, kakak akan menulis buku cerita seperti ini”kata kakaknya sambil memandang langit
                “Aku juga” Kata Rani kecil.” Tapi apa bisa Kak? Aku kan gegar otak”
                “Tentu dek. Tentu saja kamu bisa. Kamu bisa melakukan apapun yang kakak kerjakan bila kamu mau” jawab kakaknya
                Disela-sela sekolah dan bolak-balik ke dokter, Rani kecil mengikuti berbagai kegiatan. Pramuka, vokal grup, teater. Apa saja
                “Saya akan melawan penyakit saya dengan berkarya kak. Dengan melakukan sesuatu “ tekad Rani kecil.
                Dan tahukah anak-anak siapa Rani kecil dan kakaknya itu? Mereka adalah dua penulis hebat. Bunda Asma Nadia dan Bunda Helvy Tiana Rosa
                Rani kecil, sekarang lebih dikenal dengan Asma Nadia. Bukunya sudah pululahan. Sebagian besar tergolong buku laris. Beberapa diantaranya sudah di filmkan seperti Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela. Yang terbaru Catatan Hati Seorang Isteri, Jilbab in Love sudah di sinetronkan.
                Asma Nadia juga telah meraih berbagai penghargaan dari bidang menulis. Tak hanya itu, sekarang Asma Nadia memiliki Rumah Baca gratis untuk kaum dhuafa yang tersebar di mana-mana
                Kakaknya, Helvy Tiana Rosa juga sekarang di kenal sebagai sastrawan kenamaan, dosen. Pendiri Forum Lingkar Pena ( komunitas pengkaderan penulis muda )  ini, juga telah menulis puluhan buku yang tak kalah laris. Salah satu yang fenomenal adalah Ketika Mas Gagah Pergi yang Insyaalah akan segera diangkat ke layar lebar atau film.
                Kisah yang saya kutip di pengantar buku Emak Ingin Naik Haji ini, saya bacakan dengan intonasi sedemikian rupa di depan murid-murid eskul jurnalistik yang saya ajar. Dan Subahanallah  seminggu kemudian dengan mata berkaca saya menerima cerpen, puisi, cerita pengalaman yang mereka tulis   
                Setelah saya baca, beberapa tulisan saya kirim ke koran minggu. Dan Alhamdulillah sudah ada yang tulisannya menghias salah satu koran nasional
                Dan ketika saya di minta sekolah menghidupkan kembali mading sekolah, saya kembali tersenyum mendengar mata-mata kecil itu berkata
                “Pak Saya bikin cerpen ya..”
                “Pak saya Nulis puisinya “
                “Pak bikin pantun boleh? “
                “Pak cergam saya yang buat ya ! pliss “

                Semoga semangat mata-mata kecil itu selalu terjaga. Sehingga mereka kelak ada yang menjelma menjadi penulis hebat seperti halnya Helvy dan Asma Nadia. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar