Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Rabu, 19 November 2014

Buku pertama yang saya beli di toko buku

Lahir dari keluarga kurang tak mampu, membuat saya tak kehilangan akal agar kecintaan saya akan membaca tetap tersalurkan. Saya kecil jualan es lilin keliling kampung. Selain dapat uang untuk saku sekolah, saya juga di perbolehkan meminjam majalah Bobo milik Mba Urip, tetangga saya yang saya yang kebetulan punya lemari es dan meminta saya menjualkan es lilin buatannya.

Agak besar sedikit, pas SMP saya selain melahap majalah MOP yang setiap bulannya terbit, saya juga rajin. Rajin sekali ke perpustakaan sekolah. Saking rajinnya 6 bulan saya bisa ganti kartu padahal yang lainnya masih pada kosong karena jarang digunakan. Ketika MoP, buku pelajaran, buku perpustakaan belum memuaskan dahaga akan bacaan, saya membeli koran, majalah, buku bekas. Terkadang harga perbiji terkadang yang jual perkiloan. Di bangku SMA saya bersyukur sekali karena sekolah saya, berada tepat di sebelah perpustakaan daerah Kab Tegal. Jadi saya kalau istirahat pertama main ke perpus sekolah, kalau istirahat kedua atau sepulang sekolah main ke perpusda Kab Tegal

Tahun 2006, ketika mulai ancang-ancang belajar menulis, mau tak mau saya harus lebih rajin lagi membaca-membaca-membaca. Dan saya masih rajin ke lapak majalah dan buku bekas. Ohya, tahun itu moment pertama saya beli buku baru di toko buku. Mau tahu buku pertama yang saya beli?

1. Pulang, Kumcer, Happy Salma. Cerpen-cerpen di dalamnya keren-keren. Tak menyanggka Teh Happy yang manis, yang artis, yang super duper sibuk bisa menulis cerpen-cerpen yang membumi.

2. Wandu, Jangan jadi pengecut, Novel, Tasaro. Membaca novel ini, saya jadi tersihir gaya tulis Tasaro. Belakangan saya berjuang mengumpulkan buku-buku yang di tulis mantan wartawan ini. Ah saya sudah punya Galaksi Kinanti, Kau Gila Maka Kucinta, Aku Angin Engkaulah Samudra, Muhamad  Lelaki Penggenggam Hujan, Tetap saja ku sebut dia cinta

3. Berhenti Sejenak, kispri, Bayu Gawtama. Buku yang saya beli di mba Sinta Yudisia saat pertemuan rutin Flp Tegal ini, kelak menjadi buku yang sering saya baca, sering saya pinjamkan kemana-mana. Sampai sekarang.

4. Pink. Kumcer, Sinta Yudisia. Kalau ini saya ndak beli, tapi di kasih oleh penulisnya langsung oleh



menulis saya ini. Dari sini saya bertekad, kelak saya akan berusaha mengumpulkan, membeli buku yang ditulis oleh mba Sinta. Sekarang saya sudah punya Rinai, Rose, The lost prince, Kitab Cinta dan Patah hati, Sketsa Cinta Bunda, dan Sophia dan Pink



Tidak ada komentar:

Posting Komentar