Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Rabu, 18 Desember 2013

Puisi dari Sahabat Pena

Entah angin apa yang menggerakan tangan saya membuka lemari usang karena dimakan usia. Kabarnya lemari ini dibeli kakak sulung saya sekitar akhir tahun 80-an. Harganya 10rb. Eits tapi bukan tentang lemari yang akan saya bagi di sini. Tetapi puisi dari sahabat pena saya, di kertas yang kutemukan tak sengaja ini, tertera Oktober 1998. Mungkin ini surat terakhir dari sapen saya yg berasal dari Secang, Magelang. Di surat terakhir, sapen saya meminta foto saya dengan teman-teman saya yang berseragam putih abu-abu. Kala itu, selain tak punya kamera, saya juga minder sehingga sedikit sekali punya teman yang akrab. Kala itu juga, saat membaca puisi tersebut saya tak menemukan keistimewaan. Tapi sepagi tadi, ketika saya baca ulang, surat dan puisi dari sapen saya ini terasa begitu istimewa..dan saya bagi untuk teman-teman.


Selamanya

Angin Malam
Balada Dua Remaja
Awal sebuah doanya

Ingat kamu dan janjimu
Dan kini satu saja, pintaku
kutunggu dia ( Suto ) di sini

Kenangan di bulan Oktober
Pertama kali bertemu, lewat surat
denganmu..itu

Selamanya
bersama...selamanya..

Hel-Air.B, Secang, Magelang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar