Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 September 2013

Bukan Review, Tetap Saja Kusebut Dia Cinta

Bukan Review, Tetap Saja Kusebut ( Dia ) Cinta
Judul  Buku : Tetap saja kusebut (dia ) cinta
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Qanita, Mizan, 2013-09-15
Harga Buku : 69.000
                Prolog
                Tahun 2006-an saat saya mulai belajar menulis di FLP Tegal, buku yang pertama saya beli di toko buku adalah novel berjudul Wandu, berhentilah jadi pengecut. Karena terkesan, saya pun meminjamkan novel tersebut  kepada dua motivator menulis saya di Flp Tegal yakni mba Sinta Yudisia ( ketua Flp Tegal kala itu )  dan Gilang Satria Perdana ( meski masih SMP, cerpen dan tulisannya telah menghiasi koran Radar Tegal dan majalah Kandela ). Kami bertiga kompak menyukai detail Tasaro dalam menciptakan karakter, alur dan setting. Lucunya kami juga tak suka ending novel pemenang lomba tingkat nasional yang diselenggarakan Flp Pusat ini, karena endingnya terlalu mengambang.
                Setelah Wandu, buku Tasaro lain yang mempunya kesan mendalam bagi saya adalah, buku diary pernikahannya yang berjudul Ilove you honey, ini wajah cintaku. Membaca buku ini, membuat semangat menulis saya yang hampir padam menyala kembali. Maklum di buku ini Tasaro menulis juga proses kreatif dia saat menulis novel pertamanya, Wandu.  Ternyata novel Wandu di ketik pakai komputer kantor, terkadang di rental komputer, tak jarang juga ditulis terlebih dahulu di sembarang kertas.
                Dan bagi saya pribadi, master piece penulis novel Muhamad, Nibiru dan Sewindu  tak lain dan tak bukan Galaksi Kinanthi. Mungkin karena Tasaro berhasil membangun seting akhir  tahun 80-an ( Sandiwara Saur Sepuh, Radio Transistor, berburu kepiting/yu-yu, mencari ubur-ubur ).  Mungkin juga karena keberhasilan Tasaro dalam menjaga alur dan konflik dari awal hingga akhir ( meski saya tak begitu suka juga dengan endingnya )
Bukan Review
            Namanya juga bukan review, maka baru kali ini saya mengulas sedikit tentang buku TSKDC. Buku terbitan Qanita, Mizan ini berisi 9 tulisan yang menurut saya beruntung bisa karena membacanya . Ada Puisi dan Kagem Ibuk yang berhasil membuat mata saya memanas, berkaca-kaca. Puisi, mengisahkan tentang Aryati yang memendam cintanya selama 50 tahun. Kagem Ibuk, mengisahakan ketegaran, kebersahajaan, kekuatan Ibunda sang penulis. Sebenarnya tulisan ini, pernah saya baca di antologi Tribute to Mom. Tapi di TSKDC ditulis ulang dengan lebih indah, sempurna. Bedanya lagi, kalau di tribute to mom, si ibuk masih ada, di TSKDC si ibuk telah tiada.
                Berikutnya tulisan bertajuk Atarih. Meski tak tersurat, saya tahu persis siapa Atarih yang yang dimaksud dalam buku ini. Saat nama Atarih mengemuka, dihujat karena bersiteru dengan seorang blogger, justeru Tasaro tengah bersama Atarih, mengisi pelatihan kepenulisan ke pelajar di Singapura. Membaca tulisan ini, saya mendapat nasihat , motivasi untuk terus belajar, berkembang.
                Ada banyak kisah bagus lainnya. Sayangnya, Tasaro menyertakan tulisan berjudul Bukan Malaikat Rehat. Di tulisan ini, menurut saya nggak Tasaro banget, karena betaburan istilah seperti akhi, antum, tarbiyah, ukhti, liqa dll. Its Ok lah kalau yang menulis penuls lain. Kalau Tasaro? Saya tebak mungkin tulisan ini dibuat saat buku kumcer dan novel semacam ini i laris seperti kacang goreng.
                Tuhan Nggak Pernah Iseng, saya tahu persis ini ditulis ulang dari novel Wandu,  ada juga tulisan berjudul Galeri dan Tetap Saja Kusebut dia Cinta yang membuat mata saya memanas, terharu.
                Membaca buku ini saya memetik pelajaran, siapa bilang kumpulan cerita tak dilirik penerbit mayor? Asal kita sudah punya brand dan tentu saja bisa menulis dengan bagus dan baik,  tidak ada yang tidak mungkin. Maka menulislah, tak ada sia-sia dengan apa kita tulis hari ini.
                Nilai plus lain buku ini, kertasnya luks, berwarna, dihiasi lukisan-lukisan karya Dedha Gora Hadiwidjaya. Selamat Membaca.
NB, tak sengaja membuka buku Keiklasan Cinta Diana, ( Diana Roswita Dkk ) ternyata Tasaro milad bulan september. Ini Sekalian hadiah kecil, meski terlambat, semoga berkenan )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar