Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Kamis, 07 Maret 2013

Jejak Flp Tegal era thn 2009 ...


Setitik Goresan Menuju Plat-Pulpen FLP Tegal
Oleh: Sutono
Mengutip kata sastrawan dan penyair Taufik Ismail “FLP adalah anugerah dari Allah untuk Indonesia” tidak berlebihan dan sangat pantas menurut saya. Mustahil kalau FLP Tegal yang sudah vacumsetahun lamanya dapat menyelenggarakan talk show dan Plat Pulpen menjelang Munas FLP 14-16 Agustus di Solo mendatang.
Ada beberapa hal yang membuat saya sangat yakin bahwa FLP adalah anugerah dari Allah untuk saya, kita dan Indonesia.
& Sekitar tahun 2006 saya mulai bergabung dengan FLP yang ketika itu diketuai Mba Sinta Yudisia. Sebelumnya saya tak pernah bermimpi bisa berjumpa sekaligus belajar menulis dari penulis yang saya kagumi. Tapi di saat saya sedang belajar, tiba-tiba Mba Sinta diboyong ke Surabaya mengikuti suaminya. Kecewa, sedih Mba Sinta pindah ketika kami – murid-muridnya – belum bisa mengadopsi ilmunya. Singkatnya kami seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Tapi, show must go on. Lama saya berjuang sendiri, menulis, dan menulis. Tanpa ada yang memberi semangat ketika lagi down. Tidak ada yang mengomentari apa yang telah saya tulis tersebut. Hingga suatu hari saya mendapat sms dari seorang yang bernama Fani, yang mengajak menggeliatkan kembali FLP Tegal. Saya menangkap semangat, sembari menerka-nerka berapa buku yang telah ia tulis. Berapa puluh judul tulisan yang telah ia sematkan di media massa, karena jujur saya belum mengenal si pemberi sms itu sama sekali. Beberapa kali kami mencoba mengadakan pertemuan, tetapi lebih sering gagal. Bahkan saya dan mas Edi pernah berurusan dengan polisi. Ceritanya waktu saya menerima telpon dari Fani, lupa memakai helm. Padahal motor mas Edi sedang melaju.
& Karena didasari niat baik, Allah melalui cara yang unik mempertemukan kita semua. Saya masih ingat rapat demi rapat yang kita lakukan sering mbulet-mbulet, karena beberpa hal. Mulai dari orang yang terpilih menjadi ketua panitia tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Disms, ditelpon tak ada respon, hingga terpaksa diganti. Sampai lokasi pertemuan yang seadanya. Tapi berkat pengorbanan kawan-kawan semua entah itu waktu, harta, tenaga, pikiran, akhirnya acara Talk Show bisa diselenggarakan dengan lancar. Penghargaan saya sebagai orang yang membutuhkan FLP sering disergap malu karena tidak bisa melakukan suatu hal melainkan sangat sedikit dibanding kawan-kawan semua. Saya hanya bisa berdoa semoga apa yang kawan-kawan lakukan merupakan suatu amalan yang bisa memperberat timbangan kebaikan kita.
& Satu lagi yang menjadi catatan saya yang membuat saya yakin kalau FLP adalah anugerah dari Allah ialah ketika saya mendengar kata “Demi FLP wis…” Subhanallah! Allahu Akbar! Kata itu diucapkan dari mulut Mba Mala, seorang yang bisa dikatakan belum mendapat apapun dari FLP. Tapi, mampu melakukan sesuatu untuk FLP.
& Akhirnya saya berharap setelah acara talk show ini, kita masih bisa berteman, bersahabat, dan saling bergandeng tangan dalam melakukan kebajikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar