Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Kamis, 01 November 2012

Mereka, yang Membuat Saya Ingin Menulis

Sinta Yudisia

Berawal dari majalah Annida Cool oktober 2003 yang saya beli di Alun- alun Tegal, tahun 2006 saya kali pertama jumpa dengan penulis novel Existere ini. Masih terlintas, melekat dibenak dengan senyumnya yang khas, di siang yang terik mba Sinta menyambut saya yang mandi keringat setelah mengayuh sepeda hingga hitungan belasan kilo meter. Yak, selain tak bermotor angkutan umum yang menuju kediaman istri mas Agus Sofyan ini memang tidak ada. Tak sia- sia rasanya karena setelah pertemuan itu, saya bisa belajar banyak dari beliau dan penulis- penulis lain serta bisa bergabung bersama gerbong Flp Cabang Tegal

Ali Muakhir

Kali pertama sua dengan penulis serial Nomik Olin ini ketika mas Ali Muakhir mengisi acara talk show kepenulisan yang diselenggarakan Flp Tegal. Setahu saya beliau datang bersama Boim Lebon. Betapa takjub saya karena bisa bertemu dengan penulis Nomik Olin yang tergolong populer itu. Lebih takjub lagi setelah tahu kalau ayah dari Nada Firdaus ini, kelahiran Tegal, tepatnya Kabunan, Slawi Kabupaten Tegal.

Dua hari pasca lebaran tahun 2008 berbekal mengantongi alamat rumah beliau, saya menguatkan azam menimba ilmu kepenulisan mumpung peraih rekor MURI, katagori penulis bacaan anak paling produktif ini mudik. Yang terlintas dibenak, Harjosari- Kabunan tak begitu jauh kalau di tempuh dengan sepeda.

Sayangnya begitu sampai di rumahnya, mas Ali tengah berada di Blubuk rumah asal mba Leni istrinya tinggal. Saya tidak memegang HP kala itu. Dengan alamat rumah yang diberikan seseorang saya nekat jam 8 malam menuju desa Blubuk. Entah apa yang membuat saya senekat itu. Tahukah anda? jarak Kabunan- Blubuk sekitar 8 Km, belum lagi saya baru ngeh kalau jalur Slawi- Blubuk didominasi areal persawahan yang cukup panjang dengan lampu Lantas seadanya. Sepanjang jalan untuk mengusir lelah, takut yang mendera saya bersenandung, berdzikir.

Lagi- lagi saya merasa beruntung. Malam itu hampir 2 jam saya ngobrol dengan penulis bukkuk Matahari kecil ditingkahi tangis Nada yang kala itu masih 5 th. Ah, masih saya ingat ketika saya menyebut nama Novia Syahidah si Putri Kejawen, mas Ali menimpali panjang lebar segala sesuatu, all abaut isteri Arul Khan itu. Demikian juga ketika saya menyebut Sakti Wibowo, Tasaro, Asma Nadia, Afifah Afra, Izatul jannah dll. Lagi- lagi saya baru ngeh setelah belakangan mengetahui kalau saat itu mas Ali Muakhir GM disebuah lini penerbit Mizan.

M Irfan Hidayatullah

Kali pertama temu dengan penulis buku Jangan- jangan Kau bukan Manusia tahun 2007. Saat Kang Irfan bersama mba Dianti mengisi acara seminar remaja bertajuk The Power of Love yang lagi- lagi digagas Flp Tegal. Sore hari saat acara gladi resik dan diskusi kepenulisan di outlet Latansa, saya dengan tanpa tahu diri menyerahkan 2 cerpen yang saya tulis agar dibaca dan dikoreksi beliau

Malam harinya saya sempat pesimis cerpen yang saya tulis tersebut sempat dibaca beliau apalagi dikoreksi dosen yang kala itu menjabat sebagai ketua umum Flp. Maklum beliau kan harus menyiapkan acara yang akan disampaikan keesokan harinya. Tapi diluar dugaan. Setelah acara seminar kelar, beliau menyerahkan 2 cerpen yang saya tulis lengkap dengan koreksi di sana- sini. Mulai dari EYD, diksi plus komentar di akhir cerpen yang saya tulis.

Empat tahun berlalu, cerpen dengan catatan kaki dari kang Irfan Hidayatullah masih tersimpan dan menjadi pelecut agar ketika saya menjadi penulis nanti mau berbagi dengan orang lain.

Fani Rosanti

Awal 2009 saya mendapat sms dari seseorang bernama Fani, yang isinya mengajak saya untuk menggeliatkan kembali Flp di Tegal yang sedang mati suri. Saya menyambut ajakan tersebut karena saya pikir Fani itu laki- laki dan sudah menerbitkan lebih dari satu buku.

Ternyata perkiraan saya salah.Pertama Fani seorang muslimah, yang kedua, isteri mas Riwanto itu sama seperti saya belum menerbitkan sebiji bukupun.

Meski dengan sedikit pesimis, saya bersedia membantu niat baiknya agar di Tegal ada Flp lagi. Alhamdulillah atas izin-Nya dan dibantu teman- teman seperti Edi Nugroho, Deski Danuaji, Fahim, Ervin, Dwi Puspa Sari, Yustia Hapsari, Irsya Dian, bu Mala dan lain- lain, kini Flp cabang Tegal mulai menggeliat bangun dari tidur panjang ( kini diketuai Ali Irfan ). Oiya setelah Flp Tegal terjaga, saya berkesempatan bertemu, bersilaturahmi dengan Flpers seluruh Indonesia di Solo dan Yogya tempo hari

M. Mutaqwiati


Jauh sebelum jumpa dengan mba Titaq, saya lebih dulu membaca antologi cerpen fenomenal " Sebaran Wangi Kesturi" dan cerpen Gelegak Rindu karya M. Mutaqwiati. Yang saya sukai dari cerpen/ novel isteri mas Imron R. ini adalah kepiawaiannya meramu nilai sastra, lokalitas dan nilai Ruhiyah dengan indah. Saya sempat beberapa kali berkunjung kerumah mba Titaq kala masih di Brebes. Dari mba Titaq saya belajar memanfaatkan waktu luang yang tersisa untuk menulis. Bayangkan ketika masih di Brebes, anak- anaknya masih kecil- kecil, mengelola sekolah TK, mengisi kajian keislaman, dan menahkodai Flp Brebes dll tapi masih bisa menerbitkan buku dan sering mengisi pelatihan kepenulisan meski harus membawa sibungsu yang kala itu masih berusia hitungan bulan.

Nb. Tulisan ini saya buat untuk menyemangati diri saat enggan menulis. Tentu masih banyak nama- nama lain yang belum sempat saya ceritakan disini. Insyaallah lain kesempatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar