Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Rabu, 21 November 2012

Cerpen Temen

gila2an kita hari ini bikin aku iseng nulis ni cerpen. maaf klo ada yg nggak sesuai. just for fun aja. hope you enjoy it. ^_^

RAHASIA EMPAT HATI

Allin memacu motor dengan kecepatan tinggi, meliuk – liuk diantara padatnya lalu lintas Jakarta sore itu. Ia tahu jika terlambat lima menit saja semuanya bisa kacau. Sedikit menyesal karena tak bisa menolak ketika bos mengajak berbincang mengenai proyek baru yang akan digarapnya. Bulu kuduknya berdiri membayangkan kemarahan dari seseorang yang sedang menunggunya sore ini. Dipacunya motor itu semakin kencang.

Akhirnya motor memasuki pelataran parkir sebuah mall terkemuka setelah lebih dari satu jam menembus padatnya lalu lintas. Ia melotot galak pada seorang cowok yang hendak menempati space parkir yang sudah diincarnya. Cowok itu mundur dan akhirnya ia bisa memarkirkan motor dengan tenang untuk kemudian secepat mungkin masuk mall.

Dering handphone yang sejak tadi meraung – raung membuatnya semakin mempercepat langkah. ‘iya sabar dong sebentar lagi nyampe.’ Ucapnya dalam hati. Langkah itu mulai melambat saat menginjakkan kaki dilantai tiga.mata itu mencari sosok yang sudah membat hatinya porak poranda belakangan setahun ini. Membuatnya dirundung gelisah serta rindu yang berkepanjangan.

Tak lama ia menemukan seluletnya tengah menunggu digerai donat . Amat mempesona dengan kemeja putihnya. Bergegas ia melangkah hingga menabrak seseorang, membuat minuman yang dipegangnya tumpah.

“Maaf mas nggak sengaja.” Ucapnya.

“Nggak apa – apa mbak. Ehm boleh kenalan?” jawab lelaki itu.

Allin melotot galak kemudian pergi. Langkah itu memasuki gerai donat kemudian duduk didepan seseorang itu. Ia menyambar minuman didepannya untuk menetralkan nafasnya yang memburu.

“Sorry mas telat.”

Lelaki itu menjitak kepala Allin dengan gemas kemudian berkata, “Sampai kering aku nunggunya!”

“Kan udah bilang maaf. Ya udah ayo cepetan cabut.”

“Habisin dulu minumnya.”
***

Kantor nampak semakin lengang. Satu per satu karyawan mulai beres – beres menyimpan semuanya untuk esok hari. Namun lihatlah disalah satu kubikel nampak dua orang sedang berbincang hangat. Seakan tak terganggu oleh suasana yang mulai ramai oleh OB yang sibuk berbenah. Orang – orang pasti menyangka mereka pasangan. Keduanya nampak serasi. Lihatlah sang gadis dengan semburat merah dipipi nampak berusaha bersikap sewajar mungkin. Sedangkan sang lelaki tersenyum simpul.

Lelaki itu bernama Hapiz seorang staffa akuntansi dan gadis itu bernama Dessy public relations. Keduanya sudah setahun ini bekerja diperusahaan makanan berskala internasional itu. Siapa sangka hubungan kerja akan menjadi awal dari persahabatan manis yang mereka jalani dan tahukah kau gadis itu memendam rasa padanya bahkan sejak awal pertemuan mereka.

Dessy melirik handphone yang tergenggam ditangannya, belum ada kabar dari Allin maupun Kindi. Ia tak tahu harus cemas atau bersyukur karenanya. Apakah semua baik – baik saja? Entahlah yang pasti ia menikmati kebersamaan ini.

“Dessy? Are you okay?”

“Hah? Yeah I’m fine.” Jawabnya sedikit terbata.

“Kamu terlihat sedang menunggu sesuatu. Atau kita pulang saja?”

“Ah hanya perasaanmu saja. Aku masih ingin disini.”

“Akan ku tunjukkan padamu sesuatu.”

Hapiz bangkit dari duduk kemudian mengulurkan tangan pada gadis disampingnya. Desy tertegun menatap uluran tangan itu. Ia tak bisa menahan hatinya untuk tak melambung. Tubuhnya mendadak kaku terantai ragu. Sesuatu dalam dadanya berdegup dengan kencang. Perlahan disambut uluran tangan itu, kemudian mengikuti lelakinya melangkah.
***

“Yang ini Mas Kindiiiiiiiiiiii.” Kata Allin gemas.

“Jelek Lin. Yang ini aja. Lebih manis.”

“Pokoknya aku mau yang ini!”

“Udah Mbak nggak usah didengerin. Yang ini aja dibungkus.”

“Nggak mbak! Yang ini aja.”

Pramuniaga toko kue itu tersenyum melihat tingkah mereka masih saja bertengkar. Sudah lebih dari satu jam mereka memperdebatkan hal yang sama namun nampaknya kata sepakat masih suka bersembunyi. Sebuah ide mampir dikepala pramuniaga itu sebagai solusi untuk menghentikan perdebatan yang sepertinya sebentar lagi akan berubah menjadi perang terbuka.

“Bagaimana kalau yang ini?” tawarnya ramah. Kedua manusia berisik itu terdiam kemudian tersenyum.
***

Dessy melangkah hati – hati meniti tangga yang membawanya keatap gedung. Sepatu hak tingginya tak bisa diajak kerja sama untuk hal yang satu ini. Hapiz menuntun langkahnya pelan, menjaga agar gadis itu tetap dalam posisi nyaman menaiki tangga yang agak curam. Tangan itu menggenggamnya erat. Ia merasakan detak jantung yang kian memburu. Berharap semoga anak tangga tak kunjung habis sehingga genggaman itu tak terlepas walau sedetik.

Hapiz membuka pintu atap, seketika terpaan angin menyambut. Sedikit berisik karena hembusannya yang sedikit kencang. Tapi membuatnya merasa bebas. Dasinya berkibar membuat suasana semakin berisik. Ia melepas dasi itu, membuka kancing teratas kemejanya kemudian menggulung lengan kemeja sebatas siku. Memasukkan dasi ke saku celana kemudian menatap kota.

“Pemandanganya indah bukan?” tanyanya. Dessy mengangguk. “Kemari akan ku tunjukkan padamu sesuatu yang lebih indah.”

Dessy tertegun karena tangan itu kembali terulur.
***

Lalu lintas yang masih padat serta senja yang mulai menjemput membuat Kindi mengurangi kecepatan laju motor. Dengan seseorang diboncengannya, ia merasa perlu meningkatkan kewaspadaan. Sesekali diliriknya gadis itu lewat spion. Ia tahu benar raut wajah itu sudah benar – benar tak sabar.

“Stop Mas!” kata Allin tiba – tiba. Ia turun dari boncengan memberikan bungkusan kue dengan hati – hati. “Biar aku yang bawa motornya!”

Kindi terdorong mundur karena gadis itu dengan cepat mengambil alih kemudi tanpa sempat mengeluarkan sepatah katapun apalagi protes.

“Pegangin kue-nya. Jangan sampai rusak. Kita main – main dikit.”

Motor melaju dengan kecepatan tinggi, meliuk – liuk diantara padatnya lalu lintas. Bahkan Allin nekad melewati celah dari dua bus yang beriringan. Penyesalan besar menjalari  Kindi. Mengapa ia bisa semudah itu memberikan kemudi pada gadis ini. Padahal ia tahu persis betapa tidak sabarannya Allin. Mulutnya merapal doa semoga masih diijinkan melihat esok hari.
***

“Ayo sini Des. Kamu nggak takut ketinggian kan?” tanya Hapiz sembari mengajak Dessy lebih dekat dengan bibir gedung.

 Dengan santai ia duduk dipinggir memandang lurus kedepan. Dessy mencengkram lengan lelaki itu erat. Sungguh ia takut berada disitu apalagi dengan ketinggian lebih dari sepuluh lantai. Tapi entah mengapa rasa nyaman yang bercokol kuat dalam benaknya mengikis kengerian. Dalam hati ia berharap agar Allin dan Kindi tak jadi datang.
***

Suara rem berdecit menyemarakkan lobi yang lengang. Kindi menarik nafas lega karena terbebas dari persimpangan surga dan neraka. Gadis itu memamerkan senyum tanpa rasa bersalah sedikitpun karena sudah membuat wajahnya yang pucat pasi.

“Ntar kapan – kapan cobain yang lebih kenceng ya Mas?” ucapnya sembari memperlebar senyum yang membuat Kindi kembali mendaratkan sebuah jitakkan dikepala.

Sesuai informasi, mereka menekan tombol lift menuju atap gedung. Keduanya terdiam sibuk dengan pikiran masing – masing. Akan kuberitahu seseuatu padamu, gadis itu sebenarnya sibuk memperingatkan jantungnya agar tak berdegup melebihi kecepatan normal. Sementara lelaki itu sibuk menata hati untuk sebuah pertemuan yang tlah lama dinantikannya.
***

“Terima kasih ya Fiz. Kamu sudah mengajakku kesini.”

“Ah tak masalah. Bolehkah aku bertanya satu hal?”

Ia mengangguk. Jantung Dessy berdegup kencang sibuk menerka tentang arah pembicaraan lelaki disebelahnya. Mengingat suasana yang mendukung, jangan – jangan ia akan mengatakannya. Tiga kata yang sejak setahun lalu ditunggunya. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil yang didalamnya tersemat sebuah cincin yang sangat indah. Dessy terkesiap, lupa bernafas.

“Apakah terlalu cepat jika aku.... ehm jika aku...”
***

Kindi menyodorkan sebuah gelang didepan mata Allin.

“Bagus nggak Lin?”

Ia menyambutnya, memperhatikan detailnya. Gelang yang indah. Ada ornamen not balok serta lambang hati disana, seolah ingin mengatakan cintanya bernyanyi. Mengalun seiring lembutnya nada. Betul – betul sesuai dengan seleranya. Apakah moment yang ia tunggu sudah tiba? Harapan itu melesat keangkasa.

“Bagus Mas. Bagus banget.”
***

“Apakah terlalu cepat jika aku... ehm jika aku...”

“Happy Birthday Abangggggggggggg.”

Suara berisik itu memutus kata – kata Hapiz. Nampak Allin dan Kindi datang dengan kue tart lengkap dengan lilinnya. Hapiz membantu Dessy mendekati mereka. Bersama – sama menyanyikan lagu ulang tahun sebelum lilin tersebut ditiup.

“Thanks ya? Nggak nyangka bakal dapet kejutan. Ide siapa ini?” tanya Hapiz. Kindi dan Dessy serempak menunjuk Allin yang cengar cengir sableng.

Hapiz berdiri dihadapan Allin. Kindi melakukan hal yang sama dihadapan Dessy. Kedua gadis itu merasakan ada yang salah dengan semua ini karena yang berdiri dihadapan mereka bukanlah yang diinginkan. Kedua lelaki itu berjongkok, Hapiz mengeluarkan cincinnya, sedangkan Kindi mengeluarkan gelangnya.

“Would you be mine?”

Sore itu ada empat hati yang patah.

THE END

bener2 iseng kan?
kabur sebelum dijitakin rame2. :P

kue buat mas hapiz. he..he..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar