Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Rabu, 31 Oktober 2012

.Pelajaran dari Toko Om Rudi ( Dimuat di Koran Wawasan, hiks sekarang tak ada kolom cerpen anak lagi )

..
Prolog

Atas permintaan beberapa kawans, sengaja saya posting cernak yang dimuat hari minggu kemarin. Tidak istemawa , sedeharna mungkin bagi teman- teman yang baca, tetapi sekedar info ketika membuat cernak ini memakan waktu berhari- hari, rombak sana- sini, bahkan beberapa menit sebelum mengirimkan ke Wawasan saya terpaksa mengganti nama tokoh utama yang sebelumnya Tiwi menjadi Dewi. Happy reading..

Pelajaran dari Toko Om Rudi

Sejak liburan kenaikan kelas yang lalu, Dewi bantu- bantu di toko kelontong milik om Rudi adik mamanya. Meski tidak terlalu besar, toko Omnya tergolong ramai. Maklum, hampir semua kebutuhan sehari- hari tersedia di toko yang letaknya di komplek ruko KENCANA INDAH. Selain itu, harga barang- barang yang tersediapun sedikit miring dibanding toko- toko lain yang tak kalah besar.

Hari pertama masuk kerja, Dewi disuruh Om Rudi melihat dan mengamati beliau melayani pembeli yang datang serta diberi tahu bermacam- macam nama, kegunaan jenis barang berikut harganya. Oiya, sedikit info, Dewi diminta bantu- bantu di toko Om Rudi karena beliau sering kewalahan melayani pembeli yang semakin hari kian ramai.

Dihari kedua, Dewi mencoba melayani bebarapa pembeli. Awalnya sedikit kaku dan  canggung. Maklum, pengalaman pertama. Tapi dasarnya Dewi anak yang cekatan, dihari ketiga masuk kerja,  Dewi sudah terlihat luwes melayani pembeli. Dan kelihatannya pembeli senang dengan pelayanan Dewi.

Berhubung Dewi masih sekolah dan pamannya yang ulet itu juga bekerja di kantor swasta, maka toko dibuka setiap pukul satu siang dan tutup menjelang maghrib

Suatu hari, karena banyak barang dagangan datang, Om Rudi tidak bisa menemani Dewi di depan toko seperti biasannya karena harus mengecek barang dagangan yang masuk dan letaknya di ruang tengah.

Sembari menunggu pembeli datang, Dewi membaca buku cerita anak yang dibawanya dari rumah. Baru beberapa lembar halaman terbaca, keasyikan Dewi membaca terpaksa berhenti karena ada Pak Heri menyapanya.

" Asalamualaikum Dewi" kata Pak Heri pemilik counter Hand phone sebelah.
" Walaikum salam ada yang bisa Dewi bantu Pak?"
"  Tukar ribuan lima ada Wi?"
" Oh maaf Pak, ribuannya kebetulan tidak ada"
" Yahhh..tidak ada ya Wi?"
" Iya Pak, maaf ya"

Selang beberapa saat setelah pak Heri berlalu, Om Rudi muncul, berdiri disamping tempat Dewi melanjutkan membaca buku cerita yang sempat terhenti .
" Tadi Pak Heri mau apa Wi?"
" Mau menukar uang Om"
" Terus Dewi kasih ?". Dewi membalas dengan gelengan kepala
" Lho sebelum mengecek stok barang, Om menyediakan beberapa pecahan ribuan di laci"
" Sebenarnya ada Om, tapi kan buat persedian kalau ada pembeli kita yang butuh kembalian"
Meski tidak berkata- kata, Dewi menangkap kalau Om Rudi tidak sepakat dengan tindakannya yang berbohong pada Pak Heri

Hari itu, Dewi benar- benar sendirian di toko karena Om Rudi ada acara setelah pulang dari kantor. Kali ini, toko tidak seramai seperti hari biasa. Sebenarnya ada beberapa orang yang hendak belanja tapi tidak jadi. Hal inilah yang membuat wajah Dewi tidak cerah seperti biasanya.

Sepanjang waktu menjaga toko, muka Dewi kusut dan muram.Sepanjang itu pula Dewi melamun memikirkan kenapa toko tidak seramai hari lainnya.

" Asalamualaikum Wi"
"Walaikum salam " Jawab Dewi lemah
" Kelihatannya murung ada apa Wi?"
" Maaf ya Om, hari ini toko sepi pembeli"
"Hhmmm….kenapa bisa begitu Wi?" tanya Om Rudi lembut dan hati- hati takut keponakannya bertambah sedih
" Sebenarnya ada beberapa sih yang hendak membeli tapi urung karena tidak ada uang kembalian"
" Kenapa tidak menukar uang di Pak Heri atau Pak Jakob pemilik toko sepatu?"
" Sudah Om, tapi kata mereka, mereka juga tidak punya persediaan uang kecil"

Suasana hening sejenak. Angin sore memainkan rambut sedikit ikal gadis berusia 11 tahun ini.
"Wi, sekarang kamu ingat kejadian dua hari yang lalu, ketika Pak Heri hendak menukar uang lima ribuan dan kamu bilang tidak ada?" tanya Om Rudi lembut. Dewi menjawab dengan menganggukan kepala.
" Wi, Jika kemarin kamu menolong Pak Heri, itu artinya kamu memudahkan urusan orang lain. Padahal kata orang bijak, Dengan memudahkan urusan orang lain, kita akan dimudahkan ketika menemui kesulitan lho"

Dewi mengangguk mantap. Menyepakati kata- kata Om Rudi. Dewi semakin betah, kerasan membantu menjaga toko Omnya  karena mendapat banyak pelajaran. "Terimakasih Om," kata Dewi lirih dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar