Menulis untuk berbagi. Menulis yang ingin ditulis

Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Oktober 2012

9000 Bintang. Ketika Pipiet Senja Menulis Teenlit..



Prolog. Saat menulis resensi ini, sebenarnya hendak tak ikut sertakan lomba menulis resensi buku- buku Pipet Senja setahun yang lalu. Tapi karena kala itu, saya masih belum bisa mengirim email dengan atachmen ( buka kartu. com ) saya tak tahu apakah resensi saya masuk penilian atau tidak. Untungnya, berhubung ndak ada komputer, saya selalu menyimpan tulisan- tulisan di blog pribadi. Dari sinilah Bunda Pipiet Senja tak sengaja membaca postingan saya di blog dan kata beliau sangat terharu dan akan menghadiahi buku saya buku yang memoar yanga akan ditulisnya. Dan alhamdulillah pagi tadi, buku OBAT, orang bilang aku teroris telah dalam genggaman. Sengaja saya posting resensi novel berjudul 9000 Bintang ini, semoga bermanfaat...


Judul Buku: 9000 Bintang
Penulis     : Pipiet Senja
Penerbit    : Cakrawala Publishing, Jakarta
Cetakan    : Pertama, Desember 2004
Genre       : Fiksi Islami


9000 Bintang mengisahkan tokoh bernama Reza Siregar, remaja tampan berusia belasan tahun. Kedua orang tuanya tengah bermasah. Mardo ayahnya selingkuh dengan perempuan lain yang usianya sebaya dengan Zakiyah ( kakak Reza ). Padahal, sang ibu tengah mengidap penyakit lever. Dengan alasan masa depan, Reza dipaksa tinggal dengan Mardo dan Maria Fransisca ibu tirinya yang kebetulan tinggal dengan Laloan keponakan Maria Fransisca yang judes, angkuh dan sombong. Ditempat tinggal barunya Reza sering di lecehkan, di fitnah oleh Laloan. Sementara Mardo selalu membela Laloan yang sebenarnya bersalah.

Disekolah, sebagai siswa baru Reza harus menghadapi perlakuan tidak mengenakan dari Edo cs. Meski kondisi dirumah dan di sekolah tidak mengenakan, sekuat mungkin Reza agar tidak gagal  dalam study. Dan usaha keras Reza membuahkan hasil dengan menjadi peringkat ke 3 dari seluruh siswa kelas 1 SMU  saat raport kenaikan kelas dibagikan.

Ketika perjalanan ke kota setelah memperlihatkan nilai gemilang  dan piagam  ke sang mama di kampung, dalam bus yang ditumpangi  ada menuduh Reza sebagai penjambret karena kelicikan penjambret sebenarnya. Tubuh Reza malah dipukul, ditendang, dihajar oleh massa hingga pingsan. Untung Lubenah dan Tuginah menyelamatkan dan merawat Reza. Dan dari sinilah Reza menyaksikan selaksa derita anak manusia.

Tuginah yang terbujuk rayuan hidung belang, Didot yang disodomi bos  preman , Lilis yang diperkosa ayah kandungnya, Ninok si penjambret cilik yang gantung diri gara-gara ditagih SPP dan lain-lain. Dari sinilah Reza sadar bahwa selama ini perang sabil antara dirinya dengan papa dan keluarga mama tirinya tidak seberapa dibanding penderitaan anak-anak dikawasan penghuni Gang Molek.

Kata orang, penulis yang baik adalah penulis yang bisa detail dan lebur dengan karakter yang ditulisnya . Dan ketika saya menyelami novel yang di terbitkan Cakrawala Publishing ini, saya menemukan banyak istilah bahasa prokem yang biasa digunakan remaja masa kini, ada juga istilah - istilah yang biasa digunakan anak-anak remaja penghuni kawasan kumuh khas pinggiran kota yang jenderung sarkatis. Seandainya dalam buku tersebut tidak tercantum nama Pipiet Senja, mungkin saya tidak tahu bahwa beliau penulisnya. Maklum sebelum novel 9000 Bintang ini, beberap buku beliau seperti Tembang Lara, Namaku May Sarah, Sutra Ungu, Pilar Kasih, Rembulan Spasi dan lain-lain kebanyakan menyuarakan ketegaran perempuan, kesabaran menghadapi penderitaan, dan kesedihan yang cenderung melow dan bahasa yang indah.

Saya sedikit kecewa karena seting, plot di Gang Molek hanya muncul dibab- bab akhir novel ini. Tapi sebagaimana Teh Pipiet menulis dengan hati dan semangat tingkat tinggi diantara jadwal rutin cuci darahnya, membuat saya terlarut dengan kisah Reza dalam 9000 Bintang. Dan entah mengapa setiap saya membaca karya Teh Pipiet, saya selalu teringat  kata pengantar novel Namaku May Sarah, yang pengantarnya ditulis oleh mba Helvy Tiana Rosa. Berikut kutipannya. " Ketika perjuangan May Sarah  tuntas anda baca, perjuangan Pipiet Senja  menghadapi Talasemia-nya belum usai. Ia masih menjalani operasi , cuci darah sambil mengira-ira berapa bukukah yang harus ia tulis untuk membiayai operasi sepanjang hidup?. Ah, suatu hari, Allah, saya harus setegar perempuan ini. Pungkas HTR.

Ya. Kita, anda, saya memang harus banyak belajar dari beliau, kalau ingin setegar Teh Pipiet Senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar